Showing posts with label ternak. Show all posts
Showing posts with label ternak. Show all posts

Tuesday, June 24, 2008

Cara Budidaya Burung Puyuh


CARA BUDIDAYA BURUNG PUYUH

1. SEJARAH SINGKAT
Puyuh adalah jenis burung tak bisa terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek & bisa diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, adalah bangsa burung (liar) pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. & terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, & diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandangkandang ternak ada di Indonesia.
2. SENTRA PETERNAKAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terbisa di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur & Jawa Tengah
3. J E N I S
kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
4. MANFAAT

1)

Telur & dagingnya mempunyai nilai gizi & rasa lezat
2) Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan or perabot rumah tangga lainnya
3) Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos baik bisa digunakan sebagai pupuk tanaman
5. PERSYARATAN LOKASI

1)

Lokasi jauh dr keramaian & pemukiman penduduk
2) Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak & jalur-jalur pemasaran
3) Lokasi terpilih bebas dr wabah penyakit
4) Bukan adalah daerah sering banjir
5) Adalah daerah selalu mendapatkan sirkulasi udara baik.
6. PEDOMAN TEKNIS CARA BUDIDAYA
Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) & feeding (makanan ternak/pakan)
6.1. Penyiapan Sarana & Peralatan
  1. Perkandangan
    Dlm sistem perkandangan perlu diperhatikan ; temperatur kandang ideal or normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi bisa masuk kedlm kandang.

    Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) & sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 bisa diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.

    Adapun kandang biasa digunakan dlm Cara Budidaya burung puyuh adalah:
    a. Kandang untuk induk pembibitan
    Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas & kemampuan menghasilkan telur berkualitas. Besar or ukuran kandang akan digunakan harus sesuai dgn jumlah puyuh akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
    b. Kandang untuk induk petelur
    Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, & keperluan peralatan sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bsa juga sama.
    c. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
    Kandang ini adalah kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dgn dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung & menbisa panas sesuai dgn kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas.
    Biasanya ukuran sering digunakan ; lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, & tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
    d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) & layer (lebih dr 6 minggu)
    Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dgn kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

  2. Peralatan
    Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur & tempat obat-obatan.
6.2. Peyiapan Bibit
perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, ; memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) & pengelolaan usaha peternakan.

Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dgn tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina sehat or bebas dr kerier penyakit.
b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan & puyuh petelur afkiran.
c. Untuk pembibitan or produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina baik produksi telurnya & puyuh jantan sehat siap membuahi puyuh betina agar bisa menjamin telur tetas baik.
6.3. Pemeliharaan
  1. Sanitasi & Tindakan Preventif
    Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang & vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.

  2. Pengontrolan Penyakit
    Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat & apaapabila ada tanda-tanda kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dgn petunjuk dokter hewan or dinas peternakan setempat or petunjuk dr Poultry Shoup.

  3. Pemberian Pakan
    Ransum (pakan) bisa diberikan untuk puyuh terdiri dr beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah & tepung. Karena puyuh suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dgn mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi & siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum cuma satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.

  4. Pemberian Vaksinasi & Obat
    Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dgn dosis separo dr dosis untuk ayam. Vaksin bisa diberikan melalui tetes mata (intra okuler) or air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apaapabila puyuh tampak gejala-gejala sakit dgn meminta bantuan petunjuk dr PPL setempat ataupun dr toko peternakan (Poultry Shoup), ada di dekat Anda beternak puyuh.
7. HAMA & PENYAKIT
7.1. Penyakit

1.

Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik membentuk spora & menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
Gejala: puyuh akan tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berk membentuk spora & menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
Gejala: puyuh akan tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair & mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh sehat dr telah terinfeksi.

2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tak menentu & lumpuh.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan & peralatan tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum & adalah penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut & sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dgn pengendalian penyakit tetelo.
4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah & mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dgn Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dlm air minum or sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dr semua umur & jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit tak berbulu, seperti pial, kaki, mulut & farink apaapabila dilepaskan akan
mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria & mengisolasi kandang or puyuh terinfksi.
6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk & bersi, mata & hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala & leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan bergizi dgn sanitasi memadai.
7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang & lingkungan sekitarnya.
8. Cacingan
Penyebab: sanitasi buruk.
Gejala: puyuh akan tampak kurus, lesu & lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang & pemberian pakan terjaga kebersihannya.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, menjadi hasil utamanya ; produksi telurnya dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
8.2. Hasil Tambahan
Sedangkan adalah hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja & bulu puyuh.
9. PASCA PANEN
---
10. ANALISIS EKONOMI CARA BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Cara Budidaya

1) Investasi

a. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m
(1 jalur + tempat makan & minum)

Rp. 2.320.000,-
b. kandang besar Rp. 1.450.000,-

2) Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
a. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ) Rp. 1.596.000,-
b. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-
c. Pakan (selama 60 hari)
Jumlah biaya produksi
Keadaan puyuh:
-
Jumlah anak 2000 ekor (jantan & betina)
-
Resiko mati 5%, sisa 1900
-
Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)
-
Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina & Rp 725 jantan
-
Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan
Minus
Rp. 2.981.200,-
Rp. 4.722.200,-

Rp. 4.408.000,-
Rp. -314.200,-

3) Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
- 200 DOQ x Rp 798,- Rp. 159.600,-
- Obat (vitamin & Vaksinasi) Rp. 290.000,-
- Pakan (sampai dgn umur 3 minggu) Rp. 2.459.925,-
Pakan (s/d minggu ke 4) betina 1615 ekor & 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit) Rp. 5.264.051,-
Jumlah biaya produksi Rp. 8.173.576,-

Keadaan puyuh:
- Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur 1373 butir
- Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,- Rp. 7.723.125,-
- Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,- Rp. 5.854.375,-
- Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,- Rp. 59.850,-
- Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-


4) Keuntungan dr hasil penjualan Rp. 5.618.924,-

5) Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)
a. Biaya untuk umur 4-8 bulan Rp. 1.625.137,-

6) Pendapatan
a. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,- Rp. 20.080.125,-
b. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,- Rp. 1.288.770,-
c. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,- Rp. 51.475,-
d. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-

7) Keuntungan beternak puyuh petelur & afkiran jual Rp. 10.950.113,-

Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan apabila beternak puyuh petelur, baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit. Analisa usaha dihitung berdasarkan harga-harga berlaku pada tahun 1999.
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
---
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen umum Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan, Universitas Udayana.
2. Puyuh, Tatalaksana Cara Budidaya secara komersil, 1992. Elly Listyowati, Ir. Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.
3. Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI), Yogyakarta.
4. Beternak burung puyuh & Pemeliharaan secara komersil, tahun 1985. Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang
12. KONTAK HUBUNGAN
1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2. Kantor Menteri Negara Riset & Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan & Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Cara Budidaya Kelinci


1. SEJARAH SINGKAT
Ternak ini semula hewan liar sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dgn tujuan keindahan, bahan pangan & sebagai hewan percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh relatif tinggi sehingga mampu hidup di hampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dgn populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu & sebagainya.
2. SENTRA PETERNAKAN
Di Indonesia masih terbatas daerah tertentu & belum menjadi sentra produksi/dgn kata lain pemeliharaan masih tradisional.
3. J E N I S
Menurut sistem Binomial, bangsa kelinci diklasifikasikan sebagai berikut :
Ordo : Lagomorpha
Famili : Leporidae
Sub famili : Leporine
Genus : Lepus, Orictolagus
Spesies : Lepus spp., Orictolagus spp.

Jenis umum diternakkan ; American Chinchilla, Angora, Belgian, Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New Zealand Red, White & Black, Rex Amerika. Kelinci lokal ada sebenarnya berasal dr dr Eropa telah bercampur dgn jenis lainhingga sulit dikenali lagi. Jenis New Zealand White & Californian sangat baik untuk produksi daging, sedangkan Angora baik untuk bulu.
4. MANFAAT
Manfaat diambil dr kelinci ; bulu & daging sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan masih bisa dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan & pakan ternak.
5. PERSYARATAN LOKASI
Dekat sumber air, jauh dr tempat kediaman, bebas gangguan asap, bau-bauan, suara bising & terlindung dr predator.
6. PEDOMAN TEKNIS CARA BUDIDAYA
perlu diperhatikan dlm usaha ternak kelinci ; persiapan lokasi sesuai, pembuatan kandang, penyediaan bibit & penyediaan pakan.
6.1.
Penyiapan Sarana & Peralatan
Fungsi kandang sebagai tempat berkembangbiak dgn suhu ideal 21 derajat C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam & melindungi ternak dr predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa or induk & anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dgn ukuran lebih besar & kandang anak lepas sapih.

Untuk menghindr perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan & betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm.

Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:
1)
Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dlm ruangan & cocok untuk kelinci muda.
2)
Kandang sistem ranch ; dilengkapi dgn halaman pengumbaran.
3)
Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dgn konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid).
Perlengkapan kandang diperlukan ; tempat pakan & minum tahan pecah & mudah dibersihkan.
6.2.
Pembibitan
Untuk syarat ternak tergantung dr tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla & Rex adalah ternak cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan & New Zealand adalah ternak cocok dipelihara.
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Apabila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci berbobot ba& & tinggi dgn perdagingan baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit punya potensi genetik pertumbuhan bulu baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tak mudah nervous, tak cacat, mata bersih & terawat, bulu tak kusam, lincah/aktif bergerak.
2) Perawatan Bibit & Calon Induk
Perawatan bibit menentukan kualitas induk baik pula, oleh karena itu perawatan utama perlu perhatian ; pemberian pakan cukup, pengaturan & sanitasi kandang baik serta mencegah kandang dr gangguan luar.
3)
Sistem Pemuliabiakan
Untuk menbisa keturunan lebih baik & mempertahankan sifat spesifik maka pembiakan dibedakan dlm 3 kategori yaitu:
a.
In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan & menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.
b.
Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul.
c.
Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk menbisa bangsa/jenis baru diharapkan memiliki penampilan adalah perpaduan 2 keunggulan bibit.
4) Reproduksi & Perkawinan
Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina & jantan). Apabila terlalu muda kesehatan terganggu & & mortalitas anak tinggi. Apabila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dgn betina sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore hari di kandang pejantan & biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan.
5)
Proses Kelahiran

Setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci bisa dideteksi dgn meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, apabila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dgn cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci sering terjadi malam hari dgn kondisi anak lemah, mata tertutup & tak berbulu. Jumlah anak dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.
6.3.
Pemeliharaan
1) Sanitasi & Tindakan Preventif
Tempat pemeliharaan diusahakan selalu kering agar tak jadi sarang penyakit. Tempat lembab & basah menyebabkan kelinci mudah pilek & terserang penyakit kulit.
2) Pengontrolan Penyakit
Kelinci terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan turun, suhu ba& naik & mata sayu. Apabila kelinci menunjukkan hal ini segera dikarantinakan & benda pencemar juga segera disingkirkan untuk mencegah wabah penyakit.
3) Perawatan Ternak
Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan ditempatkan kandang tersendiri dgn isi 2-3 ekor/kandang & disediakan pakan cukup & berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk mencegah dewasa terlalu dini. Pengebirian bisa dilakukan saat menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dgn membuang testisnya.
4) Pemberian Pakan
Jenis pakan diberikan meliputi hijauan meliputi rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi & daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak & bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan ini perlu pakan tambahn berupa konsentrat bisa dibeli di toko pakan ternak.

Pakan & minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit/secukupnya & pukul 18.00 rumput diberikan dlm jumlah lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.
5) Pemeliharaan Kandang
Lantai/alas kandang, tempat pakan & minum, sisa pakan & kotoran kelinci setiap hari harus dibersihkan untuk menghindr timbulnya penyakit. Sinar, matahari pagi harus masuk ke kandang untuk membunuh bibit penyakit. Dinding kandang dicat dgn kapur/ter. Kandang bekas kelinci sakit dibersihkan dgn kreolin/lysol.
7. HAMA & PENYAKIT
1) Bisul
Penyebab : terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit.
Pengendalian : pembedahan & pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.
2) Kudis
Penyebab : Darcoptes scabiei.
Gejala : ditandai dgn koreng di tubuh.
Pengendalian : dgn antibiotik salep.
3) Eksim

Penyebab : kotoran menempel di kulit.
Pengendalian : menggunakan salep/bedak Salicyl.
4) Penyakit telinga
Penyebab : kutu.
Pengendalian : meneteskan minyak nabati.
5) Penyakit kulit kepala
Penyebab :jamur.
Gejala : timbul semacam sisik pada kepala.
Pengendalian : dgn bubuk belerang.
6) Penyakit mata
Penyebab : bakteri & debu.
Gejala : mata basah & berair terus.
Pengendalian : dgn salep mata.
7) Mastitis
Penyebab : susu keluar sedikit/tak bisa keluar.
Gejala : puting mengeras & panas apabila dipegang.
Pengendalian : dgn tak menyapih anak terlalu mendadak.
8) Pilek
Penyebab : virus.
Gejala : hidung berair terus.
Pengendalian : penyemprotan antiseptik pada hidung.
9) Radang paru-paru
Penyebab : bakteri Pasteurella multocida.
Gejala : napas sesak, mata & telinga kebiruan.
Pengendalian : diberi minum Sul-Q-nox.
10) Berak darah
Penyebab : protozoa Eimeira.
Gejala : nafsu makan hilang, tubuh kurus, perut membesar & mencret darah.
Pengendalian : diberi minum sulfaquinxalin dosis 12 ml dlm 1 liter air.
11)
Hama pada kelinci umumnya adalah predator dr kelinci seperti anjing.

Pada umumnya pencegahan & pengendalianhama & penyakit dilakukan dgn menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan sesuai & memenuhi gizi & penyingkiran sesegera mungkin ternak sakit.
8. P A N E N
8.1.
Hasil Utama
Hasil utama kelinci ; daging & bulu
8.2.
Hasil Tambahan
Hasil tambahan berupa kotoran untuk pupuk
8.3.
Penangkapan
Kemudian perlu diperhatikan cara memegang kelinci hendaknya benar agar kelinci tak kesakitan.
9. PASCA PANEN
9.1.
Stoving
Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .
9.2.
Pemotongan
Pemotongan bisa dgn 3 cara:
1) Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dgn benda tumpul pada kepala & saat koma disembelih.
2) Pematahan tulang leher, dipatahkan dgn tarikan pada tulang leher. Cara ini kurang baik.
3) Pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain
9.3.
Pengulitan
Dilaksanakan mulai dr kaki belakang ke arah kepala dgn posisi kelinci digantung.
9.4.
Pengeluaran Jeroan
Kulit perut disayat dr pusar ke ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung & paru-paru dikeluarkan. perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah karena bisa mempengaruhi kualitas karkas.
9.5.
Pemotongan Karkas
Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2 potong bagian dada & 2 potong bagian belakang. Presentase karkas baik 49-52%.
10. ANALISIS EKONOMI CARA BUDIDAYA
10.1.
Analisis Usaha Cara Budidaya
Perkiraan analisis Cara Budidaya kelinci didasarkan pada jumlah ternak per 20 ekor induk:
1)
Biaya Produksi


a.
Kandang & perlengkapan
Rp. 1.000.000,-

b.
Bibit induk 20 ekor @ Rp. 30.000,
Rp. 600.000,-

c.
Pejantan 3 ekor @ Rp. 20.000,-
Rp. 60.000,-

d.
Pakan
- Sayur + rumput
Rp. 1.000.000,-


- Konsetrat (pakan tambahan)
Rp. 2.000.000,-

e.
Obat
Rp. 1.000.000,-

f.
Tenaga kerja 2 x 12 x Rp. 150.000,-
Rp. 3.600.000,-

Jumlah biaya produksi
Rp. 9.260.000,-




2)
Pendapatan

Kelahiran hidup/induk/tahun = 31 ekor
Penjualan:

a.
Bibit: 20 x 15 x Rp. 20.000,-
Rp. 6.000.000,-

b.
Kelinci potong 20 x 15 x Rp. 50.000,-
Rp. 15.000.000,-

c.
Feses/kotoran
Rp. 60.000,-

d.
Bulu
Rp. 750.000,-

Jumlah pendapatan
Rp. 21.810.000,-




3)
Keuntungan
Rp. 12.550.000,-




4)
Parameter kelayakan usaha



- B/C ratio
= 2,36
10.2.
Gambaran Peluang Agribisnis
Gerakan peningkatan gizi dicanangkan pemerintah terutama berasal dr protein hewani sampai saat ini masih belum terpenuhi. Kebutuhan daging kita masih banyak dipenuhi dr impor. Kelinci punya keunggulan dlm cepatnya berkembang, mutu daging tinggi, pemeliharaan mudah & rendahnya biaya produksi menjadikan ternak ini sangat potensial untuk dikembangkan. Apalagi didukung dgn permintaan pasar & harga daging maupun bulu cukup tinggi.
11. DAFTAR PUSTAKA
1) Anonymous, 1986, Pemeliharaan Kelinci & Burung Puyuh, Yasaguna, Jakarta.
2) Kartadisastra. HR, 1995, Beternak Kelinci Unggul, Kanisius, Yogyakarta.
3) Sarwono. B, 1985, Beternak Kelinci Unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.
4) Yunus. M & Minarti. S, 1990, Aneka Ternak, Universitas Brawijaya, Malang.
12. KONTAK HUBUNGAN
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2) Kantor Menteri Negara Riset & Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan & Pemasyarakatan Iptek,
Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia,
Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Pakan Ternak


1. SEJARAH SINGKAT

Ternak-ternak dipelihara untuk dimanfaatkan tenaga/diambil hasilnya dgn cara mengembangbiakkannya sehingga bisa meningkatkan pendapatan para petani. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat & kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup & menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dr pakan ; untuk memelihara daya tahan tubuh & kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dgn diharapkan, jenis pakan diberikan pada ternak harus bermutu baik & dlm jumlah cukup. Pakan sering diberikan pada ternak kerja antara lain berupa: hijauan & konsentrat (makanan penguat).
2. SENTRA PETERNAKAN

Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dlm satu unit pembenihan, or oleh Balai Cara Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
3. J E N I S

1)
Hijauan Segar
Hijauan segar ; semua bahan pakan diberikan kepada ternak dlm bentuk segar, baik dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun tak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan berasal dr rumput-rumputan, tanaman bijibijian/ jenis kacang-kacangan.Rumput-rumputan adalah hijauan segar sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dlm bentuk gula sederhana, pati & fruktosa sangat berperan dlm menghasilkan energi.
a.
Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) & rumput lapangan tumbuh secara liar.
b.
Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides & jenis kacang-kacangan lain.
c.
Daun-daunan: daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll.
2)
Jerami & hijauan kering
Termasuk kedlm kelompok ini ; semua jenis jerami & hijauan pakan ternak sudah dipotong & dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dr 18% (jerami, hay & kulit biji kacang-kacangan).
3)
Silase
Silase ; hijauan pakan ternak disimpan dlm bentuk segar biasanya berasal dr tanaman sebangsa padi-padian & rumput-rumputan.
4)
Konsentrat (pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam & mineral.
4. MANFAAT

1)
Sumber energi
Termasuk dlm golongan ini ; semua bahan pakan ternak kandungan protein kasarnya kurang dr 20%, dgn konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi
dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a.
Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b.
Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c.
Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon & hasil sampingannya)
d.
Kelompok hijauan terdiri dr beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala & rumput setaria).
2)
Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dr hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang & bungkil)
b. Kelompok hijauan sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal & sentero
c. Kelompok bahan dihasilkan dr hewan (tepung ikan, tepung tulang & sebagainya).
3)
Sumber vitamin & mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik berasal dr tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin & mineral dgn konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis & bagian-bagiannya (biji, daun & batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi & penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin & mineralnya.Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin & mineral sudah tersedia di pasaran bebas dikemas khusus dlm rupa bahan olahan siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 & beberapa mineral.
5. PEDOMAN TEKNIS CARA BUDIDAYA

5.1.
Kebutuhan Pakan
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) & lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak berbeda kondisinya membutuhkan pakan berbeda pula.Rekomendasi diberikan oleh Ba& Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan dinyatakan dgn angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut bisa digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan sesuai/bahan-bahan pakan mudah diperoleh di lapangan.
5.2.
Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia normal (tak dlm keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dlm jumlah terbatas sesuai dgn kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dgn pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) & faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
a)
Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dlm kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan sesuai dgn kehidupannya, baik dlm keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi & erat kaitannya dgn kondisi ternak bersangkutan meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi & tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan.
Apaapabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dgn kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh & pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengancara radiasi, konduksi, konveksi & evaporasi.
b)
Palatabilitas
Palatabilitas adalah sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dr keadaan fisik & kimiawi dimiliki oleh bahan-bahan pakan dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur & temperaturnya. Hal inilah menumbuhkan daya tarik & merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis & hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik & mengandung unsur nitrogen (N) & fosfor (P) lebih tinggi.
c)
Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dgn keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dgn cara mengkonsumsi pakan. Dlm hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) membahayakan ternak itu sendiri.
d)
Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting or dlm keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya.
e)
Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan ; konsentrasi energi terkandung di dlm pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dgn tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dlm pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat bila konsentrasi energi dikandung pakan rendah.
f)
Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan dibuat pellet or dipotong) daripada hijauan diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dgn ukuran partikel lebih mudah dikonsumsi & dicerna. Oleh karena itu, rumput diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel lebih kecil dgn ukuran 3-5 cm.
g)
Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dgn tingkat konsumsi pakannya. Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat ba& ternak sangat bervariasi. Hal ini bisa dilakukan dgn cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat ba& metabolis” adalah bobot tubuh ternak tersebut. Berat ba& ternak bisa diketahui dgn alat timbang. Dlm praktek di lapangan, berat ba& ternak bisa diukur dgn cara mengukur panjang
ba& & lingkar dadanya. Kemudian berat ba& diukur dgn menggunakan formula:Berat ba& = Panjang ba& (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661

Berat ba& metabolis (bobot tubuh) bisa dihitung dgn cara meningkatkan berat ba& dgn nilai 0,75

Berat Ba& Metabolis = (Berat Badan)0,75

h)
Produksi
Ternak ruminansia, produksi bisa berupa pertambahan berat ba& (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) or kulit & bulu/wol. Makin tinggi produk dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apaapabila jumlah pakan dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tak optimal.
5.3.
Kandungan Nutrisi Pakan Ternak
Setiap bahan pakan or pakan ternak, baik sengaja kita berikan kepada ternak maupun diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam & keadaan bahan pakan tersebut secara kompak akan mempengaruhi tekstur & strukturnya. Unsur nutrisi terkandung di dlm bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat & vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dgn fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup & berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut bisa diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dgn istilah “analisis proksimat”.
5.4. Peralatan Pembuatan Pakan Ternak
1)
Macam-Macam Silo
Silo bisa dibuat dgn berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan digunakan & luas areal tersedia. Beberapa silo sudah dikenal adalah:
a.
Pit Silo: silo dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) & di bangun di dlm tanah.
b.
Trech Silo: silo dibangun berupa parit dgn struktur membentuk huruf V.
c.
Fench Silo: silo bentuknya menyerupai pagar or sekat terbuat dr bambu or kayu.
d.
Tower Silo: silo dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas bagian atasnya tertutup rapat.
e.
Box Silo: silo rancangannya berbentuk seperti kotak.
2)
Cara Memformulasi Pakan
Dlm memformulasikan penyusunan ransum or pakan, perlu menggunakan Tabel Patokan Kebutuhan Nutrisi. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dlm penyusunan ransum bagi sapi perah ; sebagai berikut :
Sapi perah betina muda berat 350 kg, satu setengah bulan menjelang beranak(melahirkan pada umur 36 bulan), membutuhkan pakan dgn kandungan nutrisi sebagai berikut:
a.
Kebutuhan hidup pokok & reproduksi :
Bahan Kering=6,4 Kg,
ME=13 Mcal,
Protein=570 gram,
Mineral=37 kg.
b.
Laktasi I :
Bahan Kering=1,0 Kg, ME=2,02 Mcal, Protein=93,6 gram, Mineral=5 kg.
c.
Sehingga jumlah Bahan Kering=7,4 kg, ME=15,02 kg, Protein=663,6 gram, Mineral=42 gram.

Dr kebutuhan nutrisi tersebut, kebutuhan pakannya bisa diformulasikan dgn suatu metode. Misalnya bahan-bahan pakan tersedia adalah:

a.
Rumput gajah:
Bahan Kering=16%, ME=0,33 Mcal, Protein=1,8 gram%BK, Mineral=2,5 gram%BK
b.
Rumput Kedele:
Bahan Kering=93,5%, ME=3,44 Mcal, Protein=44,9 gram%BK, Mineral=6,3 gram%BK
c.
Bungkil kelapa:
Bahan Kering=86%, ME=2,86 Mcal, Protein=18,6 gram%BK, Mineral=5,5 gram%BK

Rumput gajah akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan kering sebanyak 80%
= 80/100X7,4 kg = 5,92 kg BK.

Maka kandungan protein sudah bisa dipenuhi rumput adalah: sebanyak
= 1,8/100 X 5,92 kg = 106,56 gram protein.

Kekurangan:
Bahan kering = 7,4 - 5,92 kg = 1,48 kg
Protein = (663,6 - 106,56) gram = 557,04 kg or 557,04/1480 X 100% = 37,64%.

Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah:
19,04/26,3 X 1,48 kg = 1,07 kg BK.

Bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah:
7,26/26,3 X 1,48 kg = 0,41 kg BK.

Jadi, jumlah bahan pakan segar dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ternak dgn kondisi tersebut di atas adalah:
Rumput gajah = 5,92 X 100/16 kg = 37 kg
Bungkil kedelai = 1,07 X 100/93,5 kg = 1,14 kg
Bungkil kelapa = 0,41 X 100/86 kg = 0,48 kg.

3)
Teknologi Pakan
Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan pakan bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya cerna & memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dgn tujuan untuk mengubah limbah pertanian kurang berguna menjadi produk berdaya guna.Pengolahan bahan pakan dilakukan secara fisik (pemotongan rumput sebelum diberikan pada ternak) akan memberi kemudahan bagi ternak mengkonsumsinya. Pengolahan secara kimiawi (dgn menambah beberapa bahan kimia pada bahan pakan agar dinding sel tanaman semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga memudahkan mikroba hidup di dlm rumen untuk mencernanya.

Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim subtropis & tropis, akan tetapi sering menyebabkan pakan menjadi tak ekonomis & masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya, terutama dlm penerapannya di tingkat peternak.

Beberapa teknik pengolahan bahan pakan mudah dilakukan di lapangan adalah:

a.
Pembuatan HayHay ; tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumputrumputan/ leguminosa disimpan dlm bentuk kering berkadar air: 20-30%.

Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman seragam akan memilik daya cerna lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan Hay ; agar tanaman hijauan (pada waktu panen berlebihan) bisa disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga bisa mengatasi kesulitan dlm mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.

Ada 2 metode pembuatan Hay bisa diterapkan yaitu:

a)
Metode Hamparan Adalah metode sederhana, dilakukan dgn cara meghamparkan hijauan sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay dibuat dgn cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 - 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).
b)
Metode Pod Dilakukan dgn menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air ±50%). Hijauan akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar & kandungan air optimal), sehingga hay diperoleh tak berjamur (tak berwarna “gosong”) akan menyebabkan turunnya palatabilitas & kualitas.
b)
Pembuatan SilaseSilase ; bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan or leguminosa) disimpan dlm bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau or ketika penggembalaan ternak tak mungkin dilakukan.

Prinsip utama pembuatan silase:
a) menghentikan pernafasan & penguapan sel-sel tanaman.
b) mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap
udara.
c) menahan aktivitas enzim & bakteri pembusuk.

Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan kualitas sangat baik. Hal tersebut bisa diketahui secara organoleptik, yakni:
a) mempunyai tekstur segar
b) berwarna kehijau-hijauan
c) tak berbau
d) disukai ternak
e) tak berjamur
f) tak menggumpal

Beberapa metode dlm pembuatan silase:

1. Metode Pemotongan

- Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
- Dimasukkan kedlm lubang galian (silo) beralas plastik
- Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
- Tutup dgn plastik & tanah
2. Metode Pencampuran

Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur & bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran bisa berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir /onggok dgn dosis per ton hijauan sebagai berikut:
- asam organik: 4-6kg
- molases/tetes: 40kg
- garam : 30kg
- dedak padi: 40kg
- menir: 35kg
- onggok: 30kg
Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan akan diproses. Apaapabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dgn perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah & 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran merata.
3. Metode Pelayuan

- Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering
40% - 50%)
- Lakukan seperti metode pemotongan
c)
AmoniasiAmoniasi adalah proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dgn penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) or urea (CO(NH2) 2. Proses amoniasi bisa menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindr polusi. Jumlah urea diperlukan dlm proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami).
d)
Pakan PemacuAdalah sejenis pakan berperan sebagai pemacu pertumbuhan & peningkatan populasi mikroba di dlm rumen, sehingga bisa merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar akan meningkatkan produksi.

Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu adalah bahan pakan bisa difermentasi & mengandung beberapa mineral penting. Bisa memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga bisa meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea adalah bahan pakan sumber nitrogen bisa difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai setara dgn 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dlm proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar & daya cerna.

1.
Proses Pembuatan
Dilakukan dlm suasana hangat & bertahap :
- Molases (29% dr total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 derajat C.
- Buat campuran I (tapioka 16%, dedak padi 18%, bungkil kedelai 13%).
- Buat campuran II (urea: 5%, kapur 4%, garam 9%).
- Buat campuran III (tepung tulang 5% & mineral 1%).
- Buat campuran IV dr campuran I, II, III diaduk merata.
- Masukkan campuran IV sedikit sedikit ke dlm molases, diaduk hingga
merata (±15 menit).
- Masukkan dlm mangkok/cetakan kayu beralas plastik & padatkan.
- Simpan di tempat teduh & kering.
2.
Kualitas Nutrisi
Hasil analisis proksimat, pakan pamacu dibuat dgn formulasi tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal, protein 24%, kalsium 2,83% & fosfor 0,5%.
3.
Jumlah & Metode Pemberian
Pemberian pakan pamacu bisa meningkatkan konsentrasi amonia dlm rumen dr (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter. Jumlah pemberian pakan pemacu disesuaikan dgn jenis & berat ba& ternak. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4 gram untuk setiap berat badan. Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2 gram untuk setiap berat ba& & 3,8 gram untuk kerbau. Pemberian pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia digembalakan & diberi sisa tanaman pangan seperti jerami or bahan pakan berkadar protein rendah.
e)
Pakan PenguatPakan penguat or konsentrat berbentuk seperti tepung ; sejenis pakan komplet dibuat khusus untuk meningkatkan produksi & berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dr campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin & mineral). Beberapa hal perlu diperhatikan dlm pembuatan pakan penguat:
1.
Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dgn harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah & daerah lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.
2.
Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dgn nilai nutrisi dikandungnya terutama kandungan energi & potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi & 17% protein, serat kasar 12%.
3.
Metode & Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat ; metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol, metode ekuasi or metode grafik.
4.
Prosedur Memformulasi
-
Buat daftar bahan pakan akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi & harga per unit protein.
-
Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat akan dibuat.
-
Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
-
Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin & mineral.
-
Tentukan sebanyak 30% bahan pakan mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya paling murah (bisa digunakan lebih dr 1 macam bahan pakan).
-
Tentukan sebanyak 18% bahan pakan mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
-
Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein & harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.
-
Lakukan pengecekan kualitas dgn membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dgn kualitas nutrisi 50% pakan penguat.
6. ANALISIS EKONOMI CARA BUDIDAYA

10.1.
Analisis Usaha Cara Budidaya
---
10.2.
Gambaran Peluang Agribisnis
Pakan mengambil 70% dr total biaya produksi peternakan, sehingga tetap menjadi aktual untuk dijadikan suatu bisnis sangat cerah. Salah satu memungkinkan proses agroindutri akan menjadi peluang bisnis bagus yaitu mewujudkan industri pakan blok. Selain dr pada itu telah banyak dilakukan penelitian terapan dibidang pakan blok sangat mungkin dikembangkan.
7. DAFTAR PUSTAKA

1) Kartadisastra, H.R. (1997). Penyediaan & Pengelolaan Pakan ternak Ruminansia (Sapi, Kerbau, Domba, Kambing). Yogyakarta, Kanisius
2) Budi Pratomo (1986). Cara Menyusun ransum ternak. Poultri Indonesia.
3) Suara Karya, 3 Maret 1992. Mengenal Pakan Ternak Jenis Unggul.
4) Neraca, 6 Juni 1991. Jenis Pakan Cocok Untuk Ternak.
5) Suara Karya, 19 Januari 1993. Memanfaatkan Sisa Pakan.
6) Suara Karya, 2 Juni 1992. Silase, Pakan Ternak Musim Kemarau.
7) Neraca, 1 Juli 1991. Pemgolahan Jerami Menjadi Pakan Disukai ternak.
8) Pikiran Rakyat, 21 Mei 1990. Perlakuan Khusus Terhadap Biji-bijian Bahan Pakan Ternak.
9) Neraca, 20 juli 1990. Pembuatan Hijauan Makanan Ternak.
10) Suara Karya, 15 September 1992. Cara Menanam Rumput Gajah.
11) Kedaulatan Rakyat, 21 Juni 1990. Prospek Industri Makanan Ternak Limbah Coklat di Wonosari Cerah.
8. KONTAK HUBUNGAN
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl. Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2) Kantor Menteri Negara Riset & Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan & Pemasyarakatan Iptek,
Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia,
Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,
Situs Web: http://www.ristek.go.id



Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas