Showing posts with label tanam. Show all posts
Showing posts with label tanam. Show all posts

Monday, June 9, 2008

Cara Budidaya Rumput Laut

A. Latar Belakang
Rumput laut (sea weeds) dlm dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dlm dunia perdagangan akhir - akhir ini.
Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira - kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran & obat - obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dgn perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, & Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas.
Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tak diketahui. Cuma pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia sekitar tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Baru pada masa sebelum perang dunia ke - 2, tercatat bahwa Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, & Perancis.

Sekarang ini rumput laut di Indonesia banyak dikembangkan di pesisir pantai Bali & Nusa Tenggara. Mengingat panjangnya garis pantai Indonesia (81.000 km), maka peluang Cara Budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Bila menilik permintaan pasar dunia ke Indonesia setiap tahunnya mencapai rata - rata 21,8 % dr kebutuhan dunia, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu cuma berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dr Indonesia disebabkan karena kegiatan Cara Budidaya kurang baik & kurangnya informasi tentang potensi rumput laut kepada para petani.

B. Kandungan
Rumput laut banyak dimanfaatkan ; dr jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar - agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dr fikoeretrin & fikosianin) adalah cadangan makanan mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a & c, beta karoten, violasantin & fukosantin, pirenoid, & lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, & algin. Selain bahan - bahan tadi, ganggang merah & coklat banyak mengandung jodium.

C. Manfaat
1. Agar - agar
Masyarakat pada umumnya mengenal agar - agar dlm bentuk tepung biasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tak tahu secara pasti apa agar - agar itu. Agar - agar adalah asam sulfanik meruapakan ester dr galakto linier & diperoleh dgn mengekstraksi ganggang jenis Agarophytae. Agar - agar ini sifatnya larut dlm air panas & tak larut dlm air dingin.

Sekarang ini penggunaan agar - agar semakin berkembang, dulunya cuma untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dlm industri tekstil, kosmetik, & lain - lain. Fungsi utamanya ; sebagai bahan pemantap, & pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, & bahan pembuat gel. Dlm industri, agar - agar banyak digunakan dlm industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, & cokelat. Dlm industri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar or peluntur, pembungkus kapsul, & bahan campuran pencetak contoh gigi. Dlm industri tekstil bisa digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Dlm industri kosmetik, agar - agar bermanfaat dlm pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, & sabun. Selain itu masih banyak manfaat lain dr agar - agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, & pengalengan ikan & daging.

2. Keraginan
Keraginan adalah senyawa polisakarida tersusun dr unit D-galaktosa & L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa dihubungkan oleh ikatan 1 - 4 glikosilik. Ciri kas dr keraginan ; setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%.
Kegunaan keraginan hampir sama dgn agar - agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, & pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dlm industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, & gel pelapis produk daging. Dlm industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi & obat - obatan. Selain itu juga bisa dimanfaatkan dlm industri tekstil, kosmetik & cat.

3. Algin (Alginat)
Algin ini didapatkan dr rumput laut jenis algae coklat. Algin ini adalah polimer dr asam uronat tersusun dlm bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dlm bentuk tepung natrium, kalium or amonium alginat larut dlm air.
Kegunaan algin dlm industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, & pembentuk lapisan tipis tahan terhadap minyak. Algin dlm industri banyak digunakan dlm industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, & puding. Dlm industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, & filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut,. & dlm industri lain seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, & bahan pengawet kayu.

D. Fungsi TON dlm Ekologi Rumput Laut
Rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami bukan hasil Cara Budidaya. Mereka tersebar di perairan sesuai dgn lingkungan dibutuhkannya. Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk menunjang kehidupannya. Di alam tempat menempel ini bsa berupa karang mati, cangkang moluska, & bsa juga berupa pasir & lumpur.

Selain itu rumput laut sangat membutuhkan sinar matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa. Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut. Supaya kebutuhan sinar matahari tersedia dlm jumlah optimal maka harus diatur kedalaman dlm memCara Budidayakannya. Kedalaman idealnya ; berada 30 - 50 cm dr permukaan air.

Proses fotosintesa rumput laut tak cuma dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga membutuhkan unsur hara dlm jumlah cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dr lingkungan air diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman. Untuk mensuplai unsur hara ini biasanya dilakukan pemupukan selama Cara Budidaya. Untuk membantu menyediakan unsur hara dlm jumlah optimal & supaya cepat diserap oleh rumput laut ini, maka harus disediakan unsur hara sudah dlm keadaan siap pakai (ionik). Unsur hara ini banyak dikandung dlm TON (Tambak Organik Nusantara).

TON (Tambak Organik Nusantara), mengandung segala bahan-bahan dibutuhkan dlm pertumbuhan rumput laut. Baik menyediakan unsur hara mikro lengkap, juga menyediakan unsur makro. Selain itu TON juga akan meningkatkan kualitas rumput laut, karena akan menurunkan tingkat pencemaran logam berat juga akan terserap oleh rumput laut. Bila logam berat ini tak ada mengikat, maka akan ikut terserap dlm proses absorbsi unsur hara dr rumput laut, sehingga sangat berbahaya bagi konsumen. Dgn adanya TON, logam berat ini akan terikat dlm bentuk senyawa & akan mengendap or sulit terserap oleh proses absorbsi.

Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh jumlah oksigen terlarut (DO), salinitas (kadar garam) & temperatur. Kandungan Oksigen selain dipengaruhi oleh gerakan air juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Sehingga TON juga sangat penting untuk menunjang ketersediaan oksigen di perairan. Temperatur ideal bagi pertumbuhan rumput laut ; berkisar 200 - 280 C

Dgn tersedianya unsur hara dlm jumlah optimal & kondisi lingkungan seimbang karena pengaruh TON, maka kualitas & kuantitas bahan - bahan dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat.

Selain itu, pemakaian TON untuk Cara Budidaya rumput laut juga akan membantu mengikat senyawa - senyawa & unsur - unsur berbahaya dlm perairan. Senyawa - senyawa & unsur-unsur ini bila teradsorbsi dlm sistem metabolisme rumput laut, akan mengganggu pertumbuhan rumput laut & juga akan menurunkan kualitas hasilnya. Selain itu bila rumput laut ini akan digunakan untuk bahan makanan, akan sangat berbahaya bagi menkonsumsinya. Kandungan senyawa karbon aktif dr TON akan sangat membantu untuk mereduksi senyawa-senyawa & unsur - unsur berbahaya tersebut.

E. Cara Budidaya Rumput Laut & Cara Pemakaian TON (Tambak Organik Nusantara)
Dlm menjalankan Cara Budidaya rumput laut, pertama harus diperhatikan ; pemilihan lokasi Cara Budidaya. Sebaiknya lokasi Cara Budidaya diusahakan di perairan tak mengalami fluktuasi salinitas (kadar garam) besar & bebas dr pencemaran industri maupun rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis & tenaga kerja.

Cara Budidaya rumput laut bisa dilakukan di areal pantai lepas maupun di tambak. Dlm pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada Cara Budidaya di tambak. Hal ini mengingat peran TON tak efektif bila diperairan lepas (pantai). Untuk Cara Budidaya perairan lepas dibedakan dlm beberapa metode, yaitu :
1. Metode Lepas Dasar
Dimana cara ini dikerjakan dgn mengikatkan bibit rumput laut pada tali - tali dipatok secara berjajar - jajar di daerah perairan laut dgn kedalaman antara 30 - 60 cm. Rumput laut ditanam di dasar perairan.

2. Metode Rakit
Cara ini dikerjakan di perairan kedalamannya lebih dr 60 cm. Dikerjakan dgn mengikat bibit rumput di tali - tali diikatkan di patok - patok dlm posisi seperti mela di tengah - tengah kedalaman perairan.

3. Metode Tali Gantung
Bila dua metode di atas posisi bibit - bibit rumput laut dlm posisi horizontal (mendatar), maka metode tali gantung ini dilakukan dgn mengikatkan bibit - bibit rumput laut dlm posisi vertikal (tegak lurus) pada tali - tali disusun berjajar.

Pemakaian TON dgn 3 cara di atas cuma bisa dilakukan dgn sistem perendaman bibit. Karena bila TON diaplikasikan di perairan akan tak efektif & akan banyak hilang oleh arus laut. Metode perendaman bibit dilakukan dgn cara :
1. Larutkan TON dlm air laut ditempatkan dlm wadah .
2. Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 - 10 gr) TON & tambahkan 1 - 2 cc Hormonik.
3. Rendam selama 4 - 5 jam, & bibit siap ditanam.

Pemakaian TON akan sangat efektif bila diaplikasikan dlm Cara Budidaya rumput laut di tambak. Cara Cara Budidaya di tambak ini bisa dilakukan dgn metode tebar. Caranya ; sebagai berikut :
1. Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan & pengeluaran.
2. Tambak dikeringkan dahulu.
3. Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 - 2 ton per-hektar tergantung kondisi keasaman lahan).
4. Diamkan selama 1 minggu.
5. Aplikasikan TON, dgn dosis 1 - 5 botol per-hektar (untuk daerah - daerah tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dgn cara dilarutkan dgn air dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.
6. Diamkan 1 hari
7. Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.
8. Tebarkan bibit rumput laut sudah direndam dgn TON & hormonik seperti cara perendaman di atas. Dgn kepadatan 80 - 100 gram/m2.
9. Apabila dasar tambak cukup keras, bibit bisa ditancapkan seperti penanaman padi.
10. Tak perlu ditambah pupuk makro.

F. Pemeliharaan & aplikasi TON (Tambak Organik Nusantara) susulan.
Selama Cara Budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk Cara Budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 - 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, bila demikian harus dipisahkan & ditebar merata lagi di areal tambak.

Kotoran dlm bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada tanaman, apalagi pada perairan tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka tanaman harus digo - gokan di dlm air agar tanaman selalu bersih dr kotoran melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, & Enteromorpha sering membelit tanaman. Tumbuhan - tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan & dipisahkan dr rumput laut agar tak menurunkan kualitas hasil. Caranya dgn mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan & penyu adalah hewan herbivora harus dicegah agar tak memangsa rumput laut. Untuk menghindr itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah Cara Budidaya. Untuk Cara Budidaya di tambak di lakukan dgn memasang jaring di saluran pemasukan & pengeluaran.

G. Pemanenan
Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara & waktu tepat agar diperoleh hasil sesuai dgn permintaan pasar secara kualitas & kuantitas.

Tanaman bisa dipanen setelah umur 6 - 8 minggu setelah tanam. Cara memanen ; dgn mengangkat seluruh tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut diCara Budidayakan di tambak dipanen dgn cara rumpun tanaman diangkat & disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut. Or bsa juga dilakukan dgn cara petik dgn memisahkan cabang - cabang dr tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan & pertumbuhan tanaman induk untuk Cara Budidaya selanjutnya akan menurun.

Bila rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah & berat kering 8 : 1, & bila dipanen pada usia dua bulan biasanya akan dibisa perbandingan 6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 - 2000 kg rumput laut kering per- hektarnya. Diharapkan dgn penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 - 100 %.

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Bawang Merah

Bawang merah (Allium cepa) adalah salah satu komoditas hortikultura sangat dibutuhkan oleh manusia. Agar sukses Cara Budidaya bawang merah kita dihadapkan dgn berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara Cara Budidaya, serangan hama & penyakit, kekurangan unsur mikro, dll menyebabkan produksi menurun.

A. PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh
Bawang merah bisa tumbuh pada tanah sawah or tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus or Latosol, pH 5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C

2. Pengolahan Tanah
Pupuk kandang disebarkan di lahan dgn dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2
Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Dibuat bedgn dgn lebar 120 -180 cm
Diantara bedgn pertanaman dibuat saluran air (canal) dgn lebar 40-50 cm & kedalaman 50 cm.
Apaapabila pH tanah kurang dr 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedgn & diaduk rata dgn tanah lalu biarkan 2 minggu.
Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan. '

3. Pupuk Dasar
Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedgn & diaduk rata dgn tanah.
Or bila dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dgn tanah di bedengan.

Siramkan pupuk SUPER NASA telah dicampur air secara merata di atas bedgn dgn dosis ± 10 botol/1000 m2 dgn cara :
- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dlm 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram 5-10 meter bedengan.
Biarkan selama 5 - 7 hari

4. Pemilihan Bibit
- Ukuran umbi bibit optimal ; 3-4 gram/umbi.
- Umbi bibit baik telah disimpan 2-3 bulan & umbi masih dlm ikatan (umbi masih ada daunnya)
- Umbi bibit harus sehat, ditandai dgn bentuk umbi kompak (tak keropos), kulit umbi tak luka (tak terkelupas or berkilau)

B. FASE TANAM
1. Jarak Tanam
Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung or Bangkok
Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron

2. Cara Tanam
Umbi bibit direndam dulu dlm larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt air )
Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASA
Simpan selama 2 hari sebelum tanam
Pada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit telah siap tanam dibenamkan ke dlm permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.

C. AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )
1. Pengamatan Hama
Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua or S. litura), telur diletakkan pada pangkal & ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas.

Kelompok telur ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil & dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dgn VIREXI or VITURA . Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dgn ciri terbisa garis hitam di perut /kalung hitam di leher, dikendalikan dgn VIREXI.

Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya & tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dr sisa-sisa tanaman or rerumputan jadi sarangnya. Semprot dgn PESTONA.
Penyakit harus diwaspadai pada awal pertumbuhan ; penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dgn menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dgn cepat (Jawa : ngoler). Tanaman terserang dicabut lalu dibuang or dibakar di tempat jauh. Preventif kendalikan dgn GLIO.

2. Penyiangan & Pembumbunan
Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST & dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma or tumbuhan liar kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang

Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir & dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedgn rusak or longsor perlu dirapikan kembali dgn cara memperkuat tepi-tepi selokan dgn lumpur dr dasar saluran (di Brebes disebut melem).

3. Pemupukan pemeliharaan/susulan
Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis & kondisi tanah setempat. Bila kelebihan Urea/ZA bisa mengakibatkan leher umbi tebal & umbinya kecil-kecil, tapi bila kurang, pertumbuhan tanaman terhambat & daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga bisa menyebabkan ujung daun mengering & umbinya kecil.

Pemupukan dilakukan 2 kali
( dosis per 1000 m2 ) :
- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl
- 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KCl
Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut & aplikasikan di sekitar rumpun or garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tak terbakar & terganggu pertumbuhannya.
Or bila dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.

4. Pengairan
Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi & sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan bila persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %
Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dr permukaan bedgn pertanaman

D. FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )
1. Pengamatan Hama & Penyakit
Hama Ulat bawang, S. litura & S. exigua
Thrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dgn suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang terserang warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dgn kelembaban diatas 70%. Bila ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dgn BVR or PESTONA.

Penyakit Bercak Ungu or Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi or percikan air dr tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu or putih-kelabu di daun & di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dgn warna kuning hingga merah kecoklatan. Bila ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dgn penebaran GLIO.

Penyakit Antraknose or Otomotis, disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan ; ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Bila ada gejala, tanaman terserang segera dicabut dibakar & dimusnahkan. Untuk jamur ada didlm tanah kendalikan dgn GLIO

Penyakit oleh virus.
- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah & terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus & pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.

Busuk umbi oleh bakteri.
- Umbi terserang jadi busuk & berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat kering.
- Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.
- Bagian terserang jadi lunak, melekuk & berwarna kelabu. Jaga agar tanah tak terlalu becek (atur drainase).
- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dgn jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi serangan hama-penyakit.

2. Pengelolaan Tanaman
- Penyiangan kedua dilakukan pada umur
30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan & perbaikan bedgn rusak.

- Penyemprotan POC NASA dgn dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari sekali mulai 7 hari setelah tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke 35 penyemprotan ditambah HORMONIK dgn dosis 1-2 tutup/ tangki (dicampurkan dgn NASA).
- Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, bila ada serangan Thrips & ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.

E. PEMBENTUKAN UMBI ( 36 - 50HST )
Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, perlu diperhatikan ; pengairannya. Butuh air banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi & sore hari.

F. PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )
Pada fase ini tak begitu banyak air sehingga penyiraman cuma dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.

G. PANEN & PACA PANEN
1. Panen
> 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.
> Panen dilakukan pada pagi hari cerah & tanah tak becek
> Pemanenan dgn pencabutan batang & daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)

2. Pasca Panen
- Penjemuran dgn alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari dgn bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3 hari dgn umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi & sekaligus dilakukan pembersihan umbi dr sisa kotoran or kulit terkelupas & tanah terbawa dr lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.
- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dgn baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Pepaya

SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman bisa tumbuh pada dataran rendah & tinggi 700 - 1000 mdpl, curah hujan 1000 - 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 - 26 derajat C & kelembaban udara sekitar 40% & angin tak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan. Tanah subur, gembur, mengandung humus & harus banyak menahan air, pH tanah ideal ; netral dgn pH 6 -7.

PEMBIBITAN
1. Persyaratan Bibit/Benih
- Biji-biji digunakan sebagai bibit diambil dr buah-buah telah masak benar & berasal dr pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat teduh.
- Biji segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dr buah sudah terlalu masak/tua & jangan dr pohon sudah tua.

2. Penyiapan Benih
Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dlm larutan POC NASA 2 cc/liter selama 1-2 jam, ditiriskan & ditebari Natural GLIO kemudian disemai dlm polybag ukuran 20 x 15 cm. Media digunakan adalah campuran 2 ember tanah di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang sudah matang & diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 30 gram Natural GLIO.

3. Teknik Penyemaian Benih
- Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dgn tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm or 45-60 hari bibit siap ditanam.
- Biji-biji tersebut bsa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 or 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.

4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dlm larikan (barisan ) dgn jarak 5 - 10 cm. Biji tak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedlm biji, yakni 1 cm. Dgn pemeliharaan baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. Semprotkan POC NASA seminggu sekali dosis 2 tutup/tangki

5. Pemindahan Bibit
Bibit-bibit sudah dewasa, sekitar umur 2 - 3 bulan bisa dipindahkan pada permulaan musim hujan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
1. Persiapan
Lahan dibersihkan dr rumput, semak & kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak & digemburkan.

2. Pembentukan Bedengan
- Bentuk bedgn berukuran lebar 200 - 250 cm, tinggi 20 - 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedgn 60 cm.
- Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dgn jarak tanam 2 x 2,5 m.

3. Pengapuran
Apaapabila tanah akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dr 5), setelah diberi pupuk matang, perlu ditambah ± 1 kg Dolomit & biarkan 1-2 minggu.

4. Pemupukan
Sebelum diberi pupuk, tanah akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dgn tanah campuran 3 blek pupuk kandang telah matang or dgn SUPERNASA.

TEKNIK PENANAMAN
1. Pembuatan Lubang Tanam
- Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 40 cm, digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. - - Setelah itu lubang-lubang diisi dgn tanah telah dicampuri dgn pupuk kandang 2 - 3 blek. Bila pupuk kandang tak tersedia bisa dipakai SUPERNASA dgn cara disiramkan kelubang tanam dosis 1 sendok makan/10 lt air sebelum tanam. Lubang - lubang ditutupi gundukan tanah cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman.
- Apaapabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang - lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5 bulan sebelum musim hujan.

2. Cara Penanaman
Tiap-tiap lubang diisi dgn 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan bisa dilihat tanaman jantan & betina or berkelamin dua.

PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penjarangan & Penyulaman
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.

2. Penyiangan
Kebun pepaya sama halnya dgn kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan & berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak bisa dipastikan dgn tegas, tergantung dr keadaan.

3. Pembubunan
Kebun pepaya sama halnya dgn kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan & berapa kali kebun tersebut harus didangiri tak bisa dipastikan dgn tegas, tergantung dr keadaan.

4. Pemupukan
Pohon pepaya memerlukan pupuk banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan diperlukan & bisa menjaga kelembaban tanah.
Cara pemberian pupuk:
- Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP & 25 gram KCl, dicampur & ditanam melingkar.
- Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dgn komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, & 40 gram KCl
- Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dgn komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl
- Umur 6 bulan & seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dgn 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, & 75 gram KCl
- Siramkan SUPERNASA ke lubang tanam dgn dosis 1 sendok makan/10 liter air setiap 1-2 bulan sekali
- Lakukan penyemprotan POC NASA dosis 3 tutup / tangki setiap 1-2 minggu sekali setelah tanam sampai umur 2-3 bulan
- Setelah umur 3 bulan semprot dgn POC NASA 3 - 4 tutup ditambah HORMONIK dosis 1 - 2 tutup / tangki.
- Penyemprotan hati - hati pada saat berbunga agar tak kena bunga mekar or lebih aman bsa disiramkan.

5. Pengairan & Penyiraman
Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tak tahan air tergenang. Maka pengairan & pembuangan air harus diatur dgn seksama. Apalagi di daerah banyak turun hujan & bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.

HAMA & PENYAKIT
Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Ba& halus panjang 2 - 3 mm berwarna hijau, kuning or hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut & kaki panjang. Kutu dewasa, ada bersayap & tidak. Merusak tanaman dgn cara menghisap cairan dgn pencucuk penghisap panjang di bagian mulut.
Pengendalian : semprot dgn Natural BVR or PESTONA secara bergantian
Penyakit sering merugikan tanaman pepaya ; penyakit disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang & nematoda.
Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora & Pythium aphanidermatum. Menyerang buah & batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun baik, menjaga kebersihan, & drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.
Nematoda. Apaapabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu & mati. Pengendalian : Siramkan PESTONA ke lubang tanam

PANEN & PASCA PANEN
1. Ciri & Umur Panen
Tanaman pepaya bisa dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.

2. Cara Panen
Panen dilakukan dgn berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan dgn menggunakan "songgo" (berupa bambu pada ujungnya berbentuk setengah kerucut berguna untuk menjaga agar buah tersebut tak jatuh pada saat dipetik).

3. Periode Panen
Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Tomat

Tomat ; komoditas hortikultura penting, tetapi produksinya baik kuantitas & kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tak berimbang, serangan hama & penyakit, pengaruh cuaca & iklim, serta teknis Cara Budidaya petani.

A. FASE PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh>
- Tomat bisa ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
- Tanahnya gembur, porus & subur, tanah liat sedikit mengandung pasir & pH antara 5 - 6
- Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan tinggi bisa menghambat persarian.
- Kelembaban relatif tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman & ini berbahaya bagi tanaman

2. Pola Tanam
- Tanaman dianjurkan ; jagung, padi, sorghum, kubis & kacang-kacangan
- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari or tanaman sela untuk memberikan keadaan kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu

3. Penyiapan Lahan
- Pilih lahan gembur & subur sebelumnya tak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau & kentang .
- Untuk mengurangi nematoda dlm tanah genangilah tanah dgn air selama dua minggu
- Apabila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 & disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam
- Buatlah bedgn selebar 120-160 cm untuk barisan ganda & 40-50 cm untuk barisan tunggal
- Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedgn dgn kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.
- Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk & ratakan dgn tanah
- Or bila pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dgn tanah di atas bedengan.
- Siramkan pupuk POC NASA telah dicampur air secara merata diatas bedgn dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus bila diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dgn cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dlm 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan
- Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedgn pada sore hari
- Bila pakai Mulsa plastik, tutup bedgn pada siang hari
- Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam
- Buat lubang tanam dgn jarak 60 x 80 cm or 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedlm 15 cm

4. Pemilihan Bibit
- Pilih varietas tahan & jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
- Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
- Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam or pagi harinya (agar lembab)

B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
- Siapkan media tanam adalah campuran tanah & pupuk kandang 25 - 30 kg + Natural GLIO (1:1)
- Masukkan dlm polibag plastik or contongan daun pisang or kelapa
- Sebarlah benih secara merata or masukkan satu per satu dlm polibag
- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit baik, tegar & sehat dipindahkan dlm bumbunan daun pisang or dikepeli berisi campuran media tanam
- Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)
- Penyemprotan POC NASA pada umur 10 & 17 hari dgn dosis 2 tutup/tangki

C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )
- Bedgn sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu
- Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6
- Penanaman sore hari
- Buka polibag plastik
- Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang & ditimbun dgn tanah di sekitarnya
- Selesai penanaman langsung disiram dgn POC NASA dgn dosis 2-3 tutup per + 15 liter air
- Sulam tanaman mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman telah mati, rusak, layu or pertumbuhannya tak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan & diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam
- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bsa tumbuh memanjang, tak mampu menyerap unsur-unsur hara & mudah terserang penyakit
- Amati hama seperti ulat tanah & ulat grayak. Bila ada serangan semprot dgn Natural VITURA
- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium or bakteri & busuk daun , kendalikan dgn menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) & tungau (Tetranichus sp.) dgn menyemprot Natural BVR or Pestona secara bergantian
- Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tak rusak tertusuk ajir dgn jarak 10-20 cm dr batang tomat

D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
- Bila tanpa mulsa, penyiangan & pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan & pemberian pupuk susulan diikuti penggulu& tanaman
- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea & KCl dgn perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dr batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah & siram dgn air
- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea & KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm & sedlm ± 1 cm kemudian ditutup tanah & siram dgn air.
- Apabila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur bisa dipupuk Urea & KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dr batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).
- Bila pakai Mulsa tak perlu penyiangan & pembubunan serta pupuk susulan diberikan dgn cara dikocorkan
- Penyiraman dilakukan pada pagi or sore hari
- Amati hama & penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu & virus, bila terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam
- Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki or POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.
- Tanaman telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir & setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.
- Pengikatan jangan terlalu erat dgn model angka 8, sehingga tak terjadi gesekan antara batang dgn ajir bisa menimbulkan luka.

E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)
1. Pengelolaan Tanaman
- Bila tanpa mulsa penyiangan & pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari
- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman
- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dgn cara; ujung tunas dipegang dgn tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dgn pisau or gunting, sedangkan tanaman tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tak ikut dirempel sehingga tanaman tak terlalu pendek
- Ketinggian tanaman bisa dibatasi dgn memotong ujung tanaman apaapabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah
- Semprotkan POC NASA & HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dgn dosis 3-4 tutup POC NASA & 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tak mudah hilang oleh air hujan & merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dgn dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.

2. Pengamatan Hama & Penyakit
- Ulat buah (Helicoperva armigera & Heliothis sp.). Gejala buah berlubang & kotoran menumpuk dlm buah terserang. Lakukan pengumpulan & pemusnahan buah tomat terserang, semprot dgn PESTONA
- Lalat buah (Brachtocera or Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur & apabila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri & Drosophilla sp. Kumpulkan & bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (bisa dicampur insektisida)
- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun & buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Bila ada serangan semprot dgn Natural GLIO
- Bila pengendalian hama penyakit dgn menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi bisa dipergunakan pestisida kimia dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata & tak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
- Busuk ujung buah. Ujung buah akan tampak lingkaran hitam & busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.

F. FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)
- Panen pada umur 90-100 HST dgn ciri; kulit buah berubah dr warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi or sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu & dipilih buah siap petik. Masukkan keranjang & letakkan di tempat teduh
- Interval pemetikan 2-3 hari sekali.
- Supaya tahan lama, tak cepat busuk & tak mudah memar, buah tomat akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang
- Wadah baik untuk pengangkutan ; peti-peti kayu dgn papan bercelah & jangan dibanting
- Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan & musnahkan
- Buah tomat telah dipetik, dibersihkan, disortasi & di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi.

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Cabe

A. PENDAHULUAN
Cabai bisa ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dgn berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis Cara Budidaya, kekurangan unsur, serangan hama & penyakit, dll.

B. FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
Dibuat bedgn lebar 100 cm & parit selebar 80 cm
Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)
- Super Nasa : 1 btl dilarutkan dlm 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk.
Or 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA & siramkan ke bedgn + 5-10 m.
- NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA & siramkan ke bedgn sepanjang + 5 - 10 meter.
Campurkan GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dgn 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu & sebarkan ke bedengan.
Bedgn ditutup mulsa plastik & dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 - 2 minggu ).

2. Benih
Kebutuhan per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 or CK-11 & Natural CS-20, CB-30
Biji direndam dgn POC NASA dosis 0,5 - 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian

Arah persemaian menghadap ke timur dgn naungan atap plastik or rumbia.
Media tumbuh dr campuran tanah & pupuk kandang or kompos telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dgn GLIO 100 gr dlm 25-50 kg pupuk kandang & didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm or contong daun pisang.

2. Penyemaian
Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang telah disaring
Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS
Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi or sore hari untuk menjaga kelembaban

3. Pengamatan Hama & Penyakit
a. Penyakit

Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dgn tanah, mengatur kelembaban dgn mengurangi naungan & penyiraman, bila serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dgn permukaan berbulu pada daun or kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat & warna daun mosaik or pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dr 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut & dibakar, semprot vektor virus dgn BVR or PESTONA.

b. H a m a
Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah or lipatan
pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dgn jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dgn BVR or PESTONA.
Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut & bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan or seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi or sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dgn BVR or PESTONA untuk mengurangi penyebaran.
Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal & berguguran sehingga tinggal batang & cabang. Perhatikan daun muda, apabila menggulung & mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis & Thrip

D. FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit
Pilih bibit seragam, sehat, kuat & tumbuh mulus
Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari)

2. Cara Tanam
Waktu tanam pagi or sore hari , apabila panas terik ditunda.
Plastik polibag dilepas
Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

3. Pengamatan Hama
Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan & bertelur. Ulat makan tanaman muda dgn jalan memotong batang or tangkai daun. Siang hari sembunyi dlm tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dgn PESTONA or VIREXI
Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ),
Ciri ulat baru menetas / masih kecil berwarna hijau dgn bintik hitam di kedua sisi dr perut/ba& ulat, terbisa bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun & daging buah dgn kerusakan berupa bintil-bintil or lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman digunakan untuk persembunyian. Semprot dgn VITURA, VIREXI or PESTONA.
Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) & buang ke luar areal.

E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)
1. Penyiraman bisa dilakukan dgn pengocoran tiap tanaman or penggenangan (dilep) bila dirasa kering.
2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran adalah perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dlm 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 - 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dgn perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dlm 50 liter air, dgn dosis 500 cc/lubang.
Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :

Jenis Pupuk
1 - 4 minggu (kg)
5 - 12 minggu
(kg)
Urea
7
56
SP-36
7
28
KCl
7
28

Catatan :
- Umur 1 - 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi)
- Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi (± 14 tong/aplikasi)
3. Penyemprotan POC NASA ke tanaman dgn dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 & 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
4. Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 - 30 hr.
5. Pengamatan Hama & Penyakit
Spodoptera litura/ Ulat grayak Lihat depan.
Kutu - kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.
Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium & Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering & gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan & untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO
Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dlm berbagai ukuran dgn bagian tengah berwarna abu-abu or putih, kadang bagian tengah ini sobek or berlubang. Daun menguning sebelum waktunya & gugur, tinggal buah & ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.
Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda or berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan & musnahkan. Lalat buah dipantau dgn perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha
Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak or totol-totol pada buah membusuk melebar & berkembang menjadi warna orange, abu-abu or hitam. Bagian tengah bercak tampak garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah & hijau tua. Buah terserang dikumpulkan & dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dgn GLIO di bawah tanaman.

F. FASE PANEN & PASCA PANEN
1. Pemanenan
Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
Panen kedua & seterusnya 2-3 hari dgn jumlah panen bsa mencapai 30-40 kali or lebih tergantung ketinggian tempat & cara Cara Budidayanya
Setelah pemetikan ke-3 disemprot dgn POC NASA + Hormonik & dipupuk dgn perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph

2. Cara panen :
Buah dipanen tak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
Pemanenan baik pagi hari setelah embun kering
Penyortiran dilakukan sejak di lahan
Simpan ditempat teduh
3. Pengamatan Hama & Penyakit
Kumpulkan & musnahkan buah busuk / rusak

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Kacang Tanah

I. PENDAHULUAN
Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil maksimum. Hal ini tak terlepas dr pengaruh faktor tanah makin keras (rusak) & miskin unsur hara terutama unsur hara mikro serta hormon pertumbuhan. Disamping itu juga karena faktor hama & penyakit tanaman, faktor iklim, serta faktor pemeliharaan lainnya.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
a. Curah hujan antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan terlalu keras akan mengakibatkan bunga sulit terserbuki oleh serangga & akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b. Suhu udara sekitar 28-320C. Apabila suhunya di bawah 100C, pertumbuhan tanaman akan terhambat, bahkan kerdil.
c. Kelembaban udara berkisar 65-75 %.
d.Penyinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun & perkembangan besarnya kacang.

2.2. Media Tanam
a. Jenis tanah sesuai ; tanah gembur / bertekstur ringan & subur.
b. pH antara 6,0-6,5.
c. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu & akhirnya mati.
d. Drainase & aerasi baik, lahan tak terlalu becek & kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.

2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian penanaman optimum 50 - 500 m dpl, tetapi masih bisa tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl.

III. PEDOMAN TEKNIS CARA BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah baik adalah:
a. Berasal dr tanaman baru & varietas unggul.
b. Daya tumbuh tinggi (lebih dr 90 %) & sehat.
c. Kulit benih mengkilap, tak keriput & cacat.
d. Murni or tak tercampur dgn varietas lain.
e. Kadar air benih berkisar 9-12 %.

3.1.2. Penyiapan Benih
Benih sebaiknya disimpan di tempat kering konstan & tertutup rapat. Untuk menjamin kualitas benih, lebih baik membeli dr Balai Benih or Penangkar Benih telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan & Pembukaan lahan
Pembukaan lahan dgn pembajakan & pencangkulan untuk pembersihan lahan dr segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) & akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang & menghilangkan tumbuhan inang bagi hama & penyakit.

3.2.2. Pembentukan Bedgn
Buat bedgn ukuran lebar 80 cm, panjang menyesuaikan, ketebalan bedgn 20-30 cm. Diantara bedgn dibuatkan parit.

3.2.3. Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan bersifat sangat masam dilakukan pengapuran dgn dosis + 1 - 2,5 ton/ha selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.

3.2.4. Pemberian Natural GLIO
Untuk mencegah terjadinya serangan jamur berikan Natural GLIO. Pengembangbiakan Natural GLIO dgn cara: 1-2 sachet Natural GLIO dicampur dgn 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat terlindung dr sinar matahari + 1 minggu dgn selalu menjaga kelembabannya & sesekali diaduk (dibalik) . Pemberian Natural GLIO pada sore hari.

3.2.5. Pemberian Pupuk Makro & SUPER NASA
Jenis & dosis pupuk setiap hektar adalah:
a. Pupuk kandang 2 - 4 ton/ha, diberikan pada permukaan bedgn kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedgn or diberikan pada lubang tanam.
b. Pupuk anorganik : SP-36 (100 kg/ha), ZA (100 kg/ha) & KCl (50 kg/ha) or sesuai rekomendasi setempat.
c. Siramkan pupuk POC NASA telah dicampur air secara merata di atas bedgn dgn dosis ± 1-2 botol (500-1000 cc) diencerkan dgn air secukupnya untuk setiap 1000 m2 (10-20 botol/ha). Hasil akan lebih bagus bila menggunakan SUPER NASA.

Adapun cara penggunaan SUPER NASA sbb :
alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dlm 3 liter air dijadikan larutan induk. Setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram + 10 meter bedengan.

Semua dosis pupuk makro diberikan saat tanam. Pupuk diberikan di kanan & kiri lubang tugal sedlm 3 cm.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memperhatikan musim & curah hujan. Pada tanah subur, benih kacang tanah ditanam dlm larikan dgn jarak tanam 40 x 15 cm, 30 x 20 cm, or 20 x 20 cm.

3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sedlm 3 cm menggunakan tugal dgn jarak seperti telah ditentukan di atas.

3.3.3. Perendaman Benih dgn POC NASA
Pilih benih baik & agar benih bisa berkecambah dgn cepat & serempak, benih direndam dlm larutan POC NASA (1-2 cc/liter air) selama + 0,5 1 jam.

3.3.4. Cara Penanaman
Masukan benih 1 or 2 butir ke dlm lubang tanam dgn tanah tipis. Waktu tanam paling baik dilahan kering pada awal musim hujan, di lahan sawah bisa dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) or bulan Juli-September (palawija II).

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Sulam benih tak tumbuh or mati, untuk penyulaman lebih cepat lebih baik (setelah lain kelihatan tumbuh ± 3-7 hari setelah tanam).

3.4.2. Penyiangan & Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 & 6 minggu dgn hati-hati agar tak merusak bunga & polong.
Pembumbunan dilakukan bersamaan saat penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran.

3.4.3. Pemberian POC NASA & HORMONIK
Penyemprotan POC NASA dilakukan 2 minggu sekali semenjak berumur 1-2 minggu (4-5 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus bila penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tak dilakukan penyemprotan, karena bisa mengganggu penyerbukan.

3.4.5. Pengairan & Penyiraman
Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau bisa diberikan mulsa (jerami & lain-lain). Saat berbunga tak dilakukan penyiraman, karena bisa mengganggu penyerbukan.

3.4.6. Pemeliharaan Lain
Hal-hal lain sangat menunjang faktor pemeliharaan bsa dilakukan, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeliharaan tunas & bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang kesehatan tanaman).

3.5. Hama & Penyakit
3.5.1. Hama
a. Uret
Gejala: memakan akar, batang bagian bawah & polong. Akhirnya tanaman layu & mati. Pengendalian: olah tanah dgn baik, penggunaan pupuk kandang sudah matang, menanam serempak, penyiangan intensif, Penggunaan Pestona dgn cara disiramkan ke tanah, bila tanaman terlanjur mati segera dicabut & uret dimusnahkan.
b. Ulat Penggulung Daun
Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
c. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat memakan epidermis daun & tulang secara berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan menggunakan Natural Vitura.
d. Ulat Jengkal (Plusia sp)
Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
e. Kumbang Daun
Gejala: daun akan tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan menggunakan Pestona.

3.5.2. Penyakit
a. Penyakit layu or “Omo Wedang”
Penyebab: bakteri Xanthomonas solanacearum (E.F.S.). Gejala: daun terkulai seperti disiram air panas, akhirnya mati. Apabila dipotong akan tampak noda coklat pada bagian pembuluh kayu & apabila dipijit keluar lendir kekuningan. Akar tanaman membusuk. Pengendalian: Pergiliran tanaman, gunakan varietas tahan. Penting melakukan pencegahan menggunakan Natural GLIO.
b. Penyakit sapu setan
Penyebab: Mycoplasma (sejenis virus). Diduga ditularkan serangga sejenis Aphis. Gejala: bunga berwarna hijau tua seperti daun-daun kecil, ruas-ruas batang & cabang menjadi pendek, daun-daun kecil rimbun. Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang & dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan), menanam tanaman tahan, menanggulangi vektornya menggunakan Pestona or Natural BVR.
c. Penyakit Bercak Daun
Penyebab : Jamur Cercospora personata & Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat & hitam pada daun & batang. Pengendalian: dgn menggunakan Natural GLIO di awal tanam sebagai tindakan pencegahan.
d. Penyakit Gapong
Penyebab: diduga Nematoda. Gejala: Polong kosong, juga bsa busuk. Pengendalian: tanahnya didangir & dicari nematodanya.
e. Penyakit Sclerotium
Penyebab: cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala: tanaman layu. Pengendalian: gunakan varietas resisten, air jangan sampai menggenang, membakar tanaman terserang cendawan. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
f. Penyakit Karat
Penyebab: cendawan Puccinia arachidis Speg. Gejala: pada daun terbisa bercak-bercak coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Pengendalian: gunakan varietas resisten, tanaman terserang dicabut & dibakar. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

Catatan : Bila pengendalian hama penyakit dgn menggunakan pestisida alami belum mengatasi bisa dipergunakan pestisida kimia dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata & tak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

3.6. Panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dr jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan & umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a) Batang mulai mengeras.
b) Daun menguning & sebagian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh & keras.
c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Vanili

PENDAHULUAN
Tanaman panili or si Emas Hijau adalah komoditi menjanjikan. Namun tak semua panili berharga “emas”, cuma kualitas terbaiklah diberikan harga istimewa.

SYARAT PERTUMBUHAN
Panili bisa hidup di iklim tropis, curah hujan 1000-3000 mm/tahun, cahaya matahari + 30%-50%, suhu udara optimal 200C-250C, kelembaban udara sekitar 60%-80%, ketinggian tempat 300-800 m dpl. Tanah gembur, ringan yaitu tipe tanah lempung berpasir (sandy loam) & lempung berpasir kerikil (gravelly sandy loam), mudah menyerap air, pH tanah + 5,7 - 7.

PEMBIBITAN
1. Seleksi Bibit
- Jenis panili bernilai ekonomi yaitu Vanilla planifolia Andrews, Vanilla tahitensis JW. Moore, Vanilla pompana
- Syarat bibit generatif : tulen, punya sifat hampir sama dgn induknya; murni, biji tak tercampur dgn berkualitas jelek; biji dlm kondisi segar & sehat; bibit vegetatif : tanaman induk sehat & cukup umur, sudah mengeluarkan sulur dahan kuat, tanaman induk belum or jangan sampai berbuah.

2. Penyiapan Bibit
- Bibit generatif berasal dr biji unggul.
- Bibit Vegetatif dgn stek, mempercepat perakaran stek bisa direndam HORMONIK (1-2 cc/liter) kemudian dibiarkan agak layu baru ditanam & disiram POC NASA (2-3 ttp) + HORMONIK ( 1 ttp) per 10 liter air.
- Kulture Jaringan.

3. Teknik Penyemaian Benih
Bibit disemai dlm tanah berpasir supaya akar mudah tumbuh. Tempat penyemaian harus teduh.

4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Penyiraman setiap hari, tak boleh terlalu basah. Bibit jelek disingkirkan. Setiap seminggu sekali semprot dgn POC NASA (2-3 tutup) + HORMONIK ( 1 tutup) per tangki (14-17 liter).

5. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit ke lapangan tergantung asal bibit, yaitu bibit stek sekitar umur 1-2 bulan, bibit biji waktunya lama.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
- Pengolahan lahan dikerjakan pada pertengahan musim kemarau supaya pohon pelindung bisa ditanam, cek kondisi tanah.
- Bersihkan lahan dr gulma & dibajak.
- Buat jalur bedengan, lebar 80-120 cm & lebar parit 30-50 cm.
- Lakukan pengapuran apabila kondisi tanah terlalu asam.

PENANAMAN
- Penanaman di tengah bedengan, pola tanam monokultur.
- Buat lubang tanam dekat tanaman penegak berukuran panjang, lebar & dlm antara 20x15x10 cm, 25x20x12 cm & 30x25x15 cm.
- Tanam stek dgn cara memasukkan 3 ruas seluruhnya ke dlm lubang secara mendatar agar akar tumbuh cepat & sempurna
- Tutup dgn tanah galian dicampur dgn pupuk kandang.
- Stek bibit bagian atas tak terbenam dlm tanah diikat pada pohon panjatan dgn ikatan longgar.
- Waktu tanam stek bibit baik pada awal musim hujan. Sedangkan stek akan ditanam sebaiknya dibiarkan / dilayukan terlebih dahulu selama 4 - 7 hari & pangkal stek bibit direndam dlm POC NASA / HORMONIK (1-2 cc/liter) + Natural GLIO untuk menghindr pembusukan.

PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penyulaman
Lakukan pengecekan setelah umur 2-3 minggu setelah tanam, apaapabila ada stek tumbuh kurang baik, segera disulam.
2. Penyiangan & Pembubunan
Penyiangan dilakukan sebulan sekali sesudah penanaman sampai pertumbuhan panili tak kerdil & terlambat. Pembubunan bersamaan dgn penyiangan untuk menjaga bedgn tetap rapi & tanah tetap gembur agar air mudah terserap.
3. Perempelan
- Perempelan bentuk, memotong 15 cm dr tanaman dilengkungkan & sisakan 3 cabang terbaik untuk dipelihara agar terbentuk kerangka tanaman kuat & seimbang.
- Perempelan produksi, memotong pucuk sepanjang 10-15 cm menjelang musim berbunga & saat berbuah untuk merangsang pertumbuhan generatif terutama pertumbuhan bunga & buah.
- Perempelan peremajaan, memotong cabang-cabang sudah pernah berbuah & cabang-cabang sakit.
4. Pemupukan
- Tebar pupuk makro di sekitar pohon & timbun dgn tanah karena sistem perakaran panili cukup dangkal. Kebutuhan pupuk makro per ha per tahun ; Urea 8 kg, TSP 4 kg, KCl 14 kg, CaCO3 5 - 10 kg, MgSO4 H2O 2,5 - 5 kg/ha/tahun & pupuk kandang 10-20 kg/pohon/tahun.
- Pemupukan diberikan setahun sekali. Akan lebih baik bila dikocor dgn SUPER NASA dosis + 0,5 sdm / 5 lt air per pohon setiap 3 bulan sekali & penyemprotan POC NASA dosis 4-5 tutup/tangki setiap 2 - 4 minggu sekali or POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-4 minggu sekali.
5. Pengairan & Penyiraman
Tanaman panili tak tahan terhadap kekeringan sehingga pada musim kemarau perlu disiram secukupnya untuk merangsang pertumbuhan tanaman, perkembangan bunga serta buah.
6. Pemberian Mulsa & Pendangiran
Pemberian mulsa bisa dilakukan bersamaan dgn penyiangan & pendangiran. Bahan mulsa dr hasil pemangkasan pohon pelindung, tetapi bsa juga serbuk gergaji diletakkan di atas permukaan tanah dekat pohon panili.
7. Perambatan
Sistem pagar sulur-sulur, tanaman panili dibiarkan menjalar pada pagar telah dipasang secara horisontal. Pagar tempat menjalarnya panili bisa dibuat dr bambu diikatkan pada pohon satu dgn pohon lain.
Sistem perambatan penunjang tunggal, tanaman panili dirambatkan lurus ke atas pada naungannya.
8. Pemangkasan Pohon Pelindung
Pohon pelindung bisa digunakan Glyricidia maculate, lamtoro & dadap. Pemangkasan cabang dilakukan untuk mempertahankan agar tetap teduh, mempermudah sistem sirkulasi & mengatur intensitas sinar matahari.
9. Pembungaan & Penyerbukan
Panili berbunga setelah berumur 1,5-3 tahun, bunga muncul berupa dompolan & akan mekar satu bunga secara bergantian. Mekarnya bunga cuma berlangsung 12 jam, yaitu mulai pukul 24:00 sampai menjelang tengah hari, sesudah itu bunga mulai layu & mati. Oleh karena itu penyerbukan bunga dilakukan sekitar pukul 08:00 sampai 10:00. Penyerbukan buatan pada prinsipnya ; mengangkat/memotong bibir membatasi kepala sari & kepala putik, kemudian benang sari ditekan ke kepala putik untuk dilakukan penyerbukan. Seminggu setelah penyerbukan semprot dgn dosis POC NASA (3-4 tutup) & HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-3 minggu sekali.

PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT
a. Hama
1. Bekicot
Menyerang & merusak batang, bunga & buah. Aktifitasnya dilakukan pada malam hari. Pengendalian: secara manual dgn mengambil & mengumpulkan bekicot satu persatu kemudian dibakar sekaligus dlm satu lubang.
2. Belalang pedang
Merusak/memakan daun muda & batang panili. Pengendalian: menyemprotkan PESTONA or Natural BVR
3. Penggerek batang
Larva hama ini merusak/menggerek batang tanaman panili menyebabkan tanaman panili lambat laun layu & mati. Pengendalian penyemprotan PESTONA
4. Ulat bulu jambul & ulat geni
Merusak bagian pucuk, daun, batang & bunga. Pengendalian: penyemprotan PESTONA

b. Penyakit
1. Busuk akar
Gejala: akar hitam, tanaman menjadi kecoklat-coklatan & akhirnya mati; biasanya terjadi pada saat produksi tertinggi pertama kali tercapai. Pengendalian: menjaga kesuburan tanah dgn pemupukan, pemberian kapur secukupnya, & mengatur kelembaban , pencegahan diawal dgn Natural GLIO.
2. Busuk batang
Penyebab: jamur Fusarium batatatis. Gejala: pada batang terjadi bercak-bercak berwarna hitam akan meluas & melingkar dgn cepat. Batang terserang akan keriput, berwarna coklat & akhirnya kering. Pengendalian: mengurangi kelembaban & drainase baik, saat stek akan ditanam dicelup dlm POC NASA + Natural GLIO.
3. Busuk buah
Ditemukan pada buah panili muda. Gejala: muncul apabila menyerang pangkal buah muda sehingga banyak buah berguguran & apabila menyerang tengah buah akan hitam, kering selanjutnya mati. Pengendalian: penyemprotan Natural GLIO + gula pasir dosis 1-2 sendok teh per 10 liter air.
4. Busuk pangkal batang
Penyebab: Jamur Sclerotium sp. Gejala: pangkal batang akan tampak berwarna coklat & kebasah-basahan, bagian tanaman diserang & tanah sekitar terbisa misellium jamur berwarna putih seperti bulu dgn banyak sclerotium warna coklat. Pengendalian: gunakan bibit bebas busuk pangkal batang, penyemprotan Natural GLIO + gula pasir.
5. Bercak coklat pada buah
Penyebab: oleh cendawan Phytophthora sp. & menyerang buah panili hampir masak. Gejala: bercak-bercak coklat tua & akhirnya busuk. Pengendalian: (1) segera petik buah terserang kemudian membakarnya; (2) penyemprotan dgn Natural GLIO dosis 1-2 sendok/10 liter air.
6. Bercak coklat pada batang
Penyebab: cendawan Nectria vanilla, zimm. Gejala: batang akan tampak bercak coklat lama-kelamaan menghitam & melingkar ruas & mati. Pengendalian: potong & bakar batang terserang.
7. Antraknosa
Penyebab: jamur Calospora vanillae, Mass. Gejala: batang, daun, buah berwarna coklat muda kekuningan akan tampak licin & tampak jelas bagian terserang & tidak. Pengendalian: Potong & bakar bagian terserang, atur kelembaban & drainase.
8. Karat merah
Penyebab: Ganggang Cephaleuros heningsii, Schm. Gejala: bercak pada daun & terus meluas hingga daun kering selanjutnya mati. Pengendalian: Singkirkan bagian terserang & atur kelembaban kebun dgn pemangkasan pohon pelindung.
9. Penyakit pascapanen
Penyebab penyakit menyerang panili setelah dipanen : jamur Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, sp & Sclerotium, sp. Pengendalian: penanganan pasca panen baik.
Catatan : Bila Pengendalian hama & penyakit dgn pestisida alami belum bisa mengatasi, bisa digunakan pestisida kimia dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dn tak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis 1-2 tutup/tangki.

E. PANEN & PASCA PANEN
- Pemetikan pada umur 240 hari (8 bulan) akan menghasilkan panili kering dgn kadar vanillin tinggi, kadar abu terendah, rendemen tertinggi & kadar air aman
- Ciri-ciri panili siap dipanen yaitu warna berubah dr hijau tua mengkilap menjadi hijau muda suram dgn garis-garis kecil warna kuning lambat laun melebar sampai ujung buah
- Musim panen antara bulan Mei sampai Juli, sekitar 2 - 3 bulan
- Cara panen terbaik ; memetik satu-persatu buah masak tanpa mengganggu buah lain dlm satu tan& masih mentah untuk menjaga mutu panili.
- Buah dikumpulkan dlm keranjang bambu & dijaga agar buah tak terluka or cacat & sortir berdasar ukuran, bentuk, tingkat kemasakan & buah cacat >20 cm
- Lakukan pelayuan untuk menghentikan proses respirasi terjadi dlm buah, mematikan sel-sel buah panili tanpa mengurangi aktifitas & kadar enzim dlm buah. Proses pelayuan dgn menggunakan alat perebus diisi air ¾ bagian dgn suhu antara 65-950 C
- Lakukan pemeraman dlm kotak khusus lengkap dgn tutup & karung goni sebagai alasnya, utuk pembentukan aroma selama + 48 jam
- Lakukan pengeringan dgn cara dijemur di bawah sinar matahari, dioven & diangin-anginkan untuk mengurangi kadar air hingga 25-30 %
- Tempatkan buah panili kering dlm kotak dalamnya telah dilapisi kertas koran/karung plastik tipis & simpan pada suhu kamar, siap dikirim & dijual

Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com

Cara Budidaya Buah Naga

Apa itu buah Naga?

Sebagian kalangan menyebutnya buah ini dgn nama Buah Dewa. Hingga saat ini di butuhkan akan buah Naga Indonesia cukup besar & bukan cuma pasar lokal saja ingin mencicipi kedahsyatan buah stu ini. Peluang Ekspor juga tak kalah besarnya, Namun kebutuhan besar tersebut belum mampu di penuhi oleh produksi dlm negri asalny (Taiwan) Apalagi kondisi dlm negri Indonesia cukup sulit memenuhi peluang Pasar ini, Karena hal-hal berhubungan dgn iklim investasi cenderung lesu. Tetapi melihat segi potensi Wialyah lahan pertanian luas & subur,Sangat besar kemungkinannya untuk mengembangkan tanaman jenis ini.

Tingginya permintaan buah naga ini di sebabkan oleh promosi menyebutnya sebagai buah meja (Sangat Menarik & Menggiurkan apabila di sajikan di meja makan) Berkhasiat mujarab untuk berbagai penyakit & bermanfaat sebagai bahan baku di bidang industri pengolahan Makanan, Minuman, Kosmetik serta produk kesehatan. Berpedoman kepada kondisi petani sebagian besar kurang mampu berinvestasi di bidang ini (Mahalnya bibit & perlengkapan harus di sediakan). Adalah salah satu motivasi bagi pemilik modal untuk bekerja sama dgn kelompok Tani dlm pemCara Budidayaan Komoditas ini. Kea& lain mendukung adalh tersedianya lahan potensial & tenaga ahli dlm pemCara Budidayaan jenis Tanaman ini.

CIRI BUAH NAGA

Buah naga (Dragon Fruit or Hylocereus Undatus) masih termasuk komoditi langka di indonesia. Buah beasal dr Taiwan ini memiliki bentuk sangat unik & cukup memikat untuk di lihat. Bentuk fisiknya mirip dgn buah nanas cuma saja buah ini memiliki sulur /jumbai di sekujur kulitnya & buah ini berwarna merah jambu (Pink) dgn daging buah berbagai jenis antara lain berwarna Putih, Kuning & Merah dgn biji kecil berwarna hitam sangat lembut & lunak. Rasa buah tergantung jenis warna daging buah itu, Apabila warna merah cenderung manis & legit dgn perpaduan rasa sangat khas. Warna putih rasanya manis& segar sedangkan kuning perpaduan antara ke dua warna di atas. Bentuk tanaman hampir mirip dgn pohon kaktus berupa sulur-sulur memanjang seperti lidah naga menjulur. Berat rata-rata + 600 s.d 800 Gram.


KHASIAT BUAH NAGA

  • Penyeimbang kadar gula darah.
  • Membersihkan darah.
  • Menguatkan ginajal.
  • Menyehatkan lever.
  • Perawatan kecantikan.
  • Menguatkan daya kerja otak.
  • Meningkatkan ketajaman Mata.
  • Mengurangi keluhan panas dlm & sariawan.
  • Mensatbilkan Tekanan Darah.
  • Mengurangi Keluhan Keputihan.
  • Mengurangi Kolesterol & mencegah Kanker usus.
  • Mencegah Sembelit & Memperlancar Feses.


SISTEM PENANAMAN

1. Persyaratan tanam: Tak berpengaruh terhadap kualitas tanah, Jenis apa saja bisa di lakukan penanaman. Membutuhkan penyinaran penuh. Daerah tropis cocok untuk Tanaman ini.

2. Penanaman sebaiknya di gunakan parit untuk saluran drainase di areal kebun.& gunakan ajir/tiang penga tanaman kaktus berukuran 10cm x 10cm x 150cm.Tiang penga ini biasa terbuat dr kayu or beton di tancapkan ke tanah sedlm 50cm dgn jarak tanam 2,5 x 3cm.

3. Jarak tanam bibit baik ; 2,5 x 2 meter & tiap tiang penga di tanami 4 bibit tanaman,Jadi untuk 1Ha membutuhkan 2000 tiang penga & 8000 bibit tanaman buah naga.

4. Pemeliharaan tanaman meliputi,Perawatan sulur tanaman agar terhindar dr luka,pengecekan rutin kondisi keasamn tanah,dll.

5. Panen tanaman akan berbunga pada umur 1,5-2 tahun & bisa di panen saat mencapai umur 30 hari setelah bunga mekar.Tanaman buah naga akan berbuah terus menerus hingga + 10 tahun.

Sumber :http://tcplanet.blogspot.com