Showing posts with label Anthurium. Show all posts
Showing posts with label Anthurium. Show all posts

Wednesday, June 11, 2008

Cara Budidaya Anthurium

anthurium
Sebuah Anthurium tingginya mencapai lebih dr 3 meter
Di alam anthurium mudah tumbuh pada media batang pepohonan telah membusuk or tumbuh di pepohonan & bersifat epifit. Oleh karenanya pemCara Budidayaan tanaman ini tidaklah sulit.Meskipun pemCara Budidayaan tanaman relatif mudah namun cara pemCara Budidayaan baik perlu dikuasai agar tanaman diCara Budidayakan bisa tumbuh baik sehingga mampu menampilkan keindahan prima. Untuk hal itu maka perlu pemahaman tentang morfologi tanaman, syarat tumbuh, media tanaman, penanaman, cara perawatan & pengendalian hama penyakit.

SYARAT TUMBUH

Kebutuhan Cahaya Untuk mendapatkan cahaya sesuai, pemCara Budidayaan dilakukan pada daerah dataran rendah membutuhkan bangunan dgn atap naungan paranet 60-70%. Untuk dataran sedang menggunakan naungan paranet 50%. Sedang untuk dataran tinggi cukup digunakan atap paranet 25%. Bila cahaya terlalu banyak, daun akan menguning & kering, sebaliknya apabila cahaya kurang daun nampak lemas & pucat, serta daun & tangkainya cenderung memanjang. Kebutuhan Suhu Suhu lingkungan optimal berkisar antara 18º-31º C. penampilan daun akan lebih mengkilap bilaman a perbedaan suhu siang & malam tak terlalu mencolok. Kondisi ini akan membantu membentuknya klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau & mengkilap. Untuk hal itu maka bilamana suhu siang terlalu tinggi, pada lingkungan pertanaman perlu ditambah kipas angin untuk menurunkan suhu. Kebutuhan Kelembaban Kelembaban udara cocok untuk pertumbuhan si raja daun ini berkisar antara 60%-80%. Bilamana kelembaban udara terlalu kering maka perlu penyemprotan air di sekitar tanaman. Sebaliknya apabila terlalu lembab perlu dipasang kipas angin. Sirkulasi Udara Angin semilir akan memberikan kondisi baik bagi tanaman, karena dgn adanya angin bertiup perlahan akan membuat hawa sejuk. Oleh karena itu peranan kipas angin dipasang di lingkungan pertanaman akan berperan ganda, yakni menyejukan udara, menjaga kelembaban udara & menjaga suhu udara. MORFOLOGI TANAMAN Anthurium termasuk keluarga Araceae mempunyai perakaran banyak, batang & daun kokoh, serta bunga berbentuk ekor.

ImageAKAR
Anthurium sehat mempunyai jumlah akar banyak, berwarna putih & menyebar ke segala arah. Oleh sebab itu membutuhkan media porous.
ImageBATANG
Batang Anthurium tak nampak karena terbenam di dlm media. Setelah tanaman dewasa batang ini akan membesar menjadi bonggol.
ImageDAUN
Daun Anthurium pada umumnya tebal & kaku, bentuknya bervariasi seperti berbentuk jantung, lonjong, lancip, & memanjang. Untuk Anthurium daun, kekompakan bentuk daun meningkatkan nilai estetikanya.
ImageBUNGA
Anthurium mempunyai bunga berumah satu artinya dlm satu bunga terkandung sel kelamin betina & sel kelamin jantan. Bunga terdiri dr tangkai, mahkota, & tongkol. Semua bagian bunga tersebut menjadi satu kesatuan & berbentuk seperti ekor, sehingga Anthurium dikenal dgn si bunga ekor. Putik & tepung sari menempel pada tongkol. Masaknya putik & tepung sari tak bersamaan (dichogamaous). Pada umumnya putik masak lebih awal dibanding tepung sari.
ImageBUAH & BIJI
Buah berbentuk bulat & menempel pada tongkol, buah muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah. Biji telah masak akan terlepas dr tongkolnya, biji inilah baik untuk disemai. Bibit dihasilkan dr biji, umumnya mempunyai sifat berbeda dr induknya.

PEMELIHARAAN & PERAWATAN

ImageUntuk mendapatkan tanaman prima maka kita harus memelihara & merawatnya sebaik mungkin. Pemeliharaan & perawatan harus dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan da membersihkan daun dr debu & kotoran menempel serta memotong daun menguning. Di smping itu kegiatan pemeliharaan tak terlupakan ; repotting. Repotting adalah kegiatan penggantian pot & sekaligus media karena ukuran tanaman & potnya sudah tak sesuai lagi. Langkah-langkah repotting seperti langkah-langkah dilakukan pada penanaman. Namun perlu diperhatikan dlm repotting ini ; memotong & membersihkan akar-akar busuk & mengatur perakaran pada media & pot baru. Pengaturan perakaran ini dimaksudkan agar semua bagian akar bisa kontak langsung dgn media. Jangan sampai akar tak menempel pada mediaImage (ada rongga antara media & akar) karena hal ini akan menyebabkan membusuknya akar & akibatnya tanaman akan menjadi tak sehat. Pengairan dilakukan dgn alat semprot & dikenakan keseluruh bagian tanaman dilakukan 2-3 hari sekali dgn melihat kondisi media. Media dijaga agar tak terlalu lembab & tak terlalu kering. Pupuk diberikan sebaiknya pupuk majemuk (N, P & K) penyediaannya lambat (slow riliaze) diberikan 2-3 bulan sekali dgn dosis sesuai anjuran & besarnya tanaman. Di samping itu juga perlu ditambahkan pupuk daun diberikan setipa 1-2 minggu sekali. Untuk menjaga penampilan agar daun tampil bersih & mengkilap maka daun ada perlu dibersihkan dgn lap lembut telah dibasahi dgn air. Daun-daun telah tua & menguning perlu dipotong.

(dikutip dr ; dunia flora)

http://rawabelong.com

Tehnik Penyerbukan Silang & Pembibitan Anthurium

anthuriumNama anthurium berasal dr bahasa Yunani, artinya bunga ekor. Di Indonesia, tanaman ini dikenal sebagai anthurium. Sumber genetiknya berasal dr benua Amerika beriklim tropis.
Namun pengembangannya relatif berhasil di negara beriklim subtropis seperti Hawaii, & di negara beriklim temperate seperti Belanda. Anthurium adalah tanaman tumbuh sendiri pada media tumbuhnya (terrestrial), tetapi ada pula hidup menempel pada tanaman lain or epifit (Riffle 1998).


Di Indonesia anthurium bisa beradaptasi dgn baik, mulai dataran rendah sampai tinggi. Pada ketinggian 1.400 m dpl, tanaman ini membutuhkan intensitas cahaya matahari antara 30-60%. Apabila intensitas cahaya terlalu tinggi, maka tanaman akan menguning & warna daunnya memudar. Sebaliknya apabila intensitas cahaya terlalu rendah, maka per- tumbuhan tanaman menjadi lambat, produktivitas bunga menurun, & batang menjadi lunak.

Budi daya anthurium berkembang pesat di Indonesia, terutama di sentra produksi tanaman hias Jawa Barat (Lembang Bandung, Sukabumi, Cianjur, & Bogor), Jawa Tengah (Ungaran, Bandungan, & Semarang), Jawa Timur (Batu Malang, Tlekung, & Pasuruan), serta Sumatera Utara khususnya daerah Brastagi (Rukmana 1997). PemCara Budidaya- annya menggunakan paranet sebagai naungan, & paling baik ; memiliki 70% daya serap sinar matahari. Suhu diperlukan tanaman ini berkisar antara l8-200C pada malam hari, & 27 -30 C pada siang hari, dgn kelembapan 50-90% (Rosario 1991).

Perbanyakan anthurium bisa dilakukan dgn cara generatif (biji) maupun vegetatif (pemecahan anakan or setek). Penyerbukan sendiri (selfpollnation) jarang terjadi sehingga harus dilakukan penyerbukan silang (cross pollination) secara buatan. Teknik ini adalah cara per- banyakan generatif paling tepat, terutama dlm ke- giatan pemuliaan untuk menghasilkan biji Fl hibrida, selanjutnya adalah langkah untuk melahirkanjenis baru lebih bervariasi.

Persilangan buatan akan berhasil apabila diperhatikan faktor-faktor berikut ini: (1) induk silangan akan di- gunakan, (2) metode, & (3) waktu penyilangan. Dgn melakukan seleksi tetua unggul sebagai induk silang- an akan diperoleh bibit baik dgn keunggulan diturunkan dr induknya.

Tujuan percobaan ini ; untuk mendapatkan hasil silangan anthurium dgn variasi lebih baik. Diharap- kan hasil silangan tersebut bisa menambah keaneka- ragaman hayati serta nilai ekonomis tanaman tersebut.


BAHAN & METODE

Bahan digunakan ; beberapa tanaman anthurium jenisnya berbeda. Sebagai tetua betina ; jenis Sunset, Champion, Midori, Lady Jane Orange, Aromatic, Lady Jane Ungu, & Obake Putih, & untuk tetua jantan ; Laura, Sunset, Pink Exotic, Hawaiian Butterfly, Lady Jane Merah, Midori & Merah Ati. Media digunakan untuk perkecambahan biji ; arang sekam, & untuk komuniti pot or kompot yaitu arang sekam ditambah kompos bambu halus dgn perbandingan 1 : 1. Alat digunakan ; kuas kecil, cawan petri, pot & juga kompot or bak plastik ukuran 45 cm x 35 cm, kertas label, & kantong plastik.

Penyerbukan silang anthurium secara buatan dilaksana- kan di rumah kaca Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias, mulai Juli 2003 hingga Juni 2004. Lokasi berada pada ke- tinggian 1.100 m dpl dgn suhu 24-26 C pada siang hari & l8-20 C pada malam hari serta kelembapan nisbi (Rh) 70- 90%.

Metode persilangan dilakukan ; persilangan antarspesies dr Anthurium andreanum. Sebelum penyi- langan, dilakukan pemilihan or seleksi tetua silangan, baik tetua jantan maupun tetua betina. Dr setiap pasang per- silangan dipilih masing-masing satu tangkai bunga terbaik. Untuk anthurium pot, tetua digunakan ; tanaman berukuran kecil dgn daun or bunga indah. Untuk menghasilkan anthurium bunga potong, dipilih tetua mempunyai bunga indah, sering berbunga, tangkai bunga panjang & kokoh, serta warna bunga bervariasi.

Selanjutnya, dipilih bunga betina sudah siap diserbuki, yaitu antara 2-3 minggu setelah bunga mekar (Rosario 1991). Tanda bunga sudah siap diserbuki ada- lah pada spadiks bunga terjadi sekresi madu (berlendir) & apabila dipegang akan teras a licin or lengket. Secara visual hal ini bisa dilihat dgn adanya serangga penyerbuk or semut pada spadiks tersebut. Untuk bunga jantan dipilih bunga telah mengeluarkan pollen or serbuk sari dr spadiks, berwama kuning, & berbentuk tepung (Gambar 1).  Gbr.1. Bunga betina anthurium siap diserbuki(a)& bunga anthurium jantan  sudah mengeluarkan serbuk sari(b)Dgn bantuan kuas or langsung dgn tangan, pollen ditampung ke dlm cawan petri & selanjutnya dioleskan pada stigma or spadiks bunga betina telah siap diserbuki. Alur kerja penyilangan anthurium disajikan pada Gambar 2.
Gbr.2. Alur Kerja Penyilangan Anthurium
Penyerbukan dilakukan pada pagi hari pukul 07.00-10.00 saat udara masih segar, & or sore hari pukul15.00-l7.00 saat udara kembali dingin. Tanaman sudah diserbuki diberi label memuat keterangan tentang tetua betina & tetua jantan, waktu penyilangan (tanggal, bulan & tahun), & nama penyilang. Selanjutnya, bunga betina di- kerudungi or ditutup menggunakan kantong plastik & dibiarkan tertutup selama 2 minggu.

HASIL & PEMBAHASAN

Waktu Penyerbukan

Jumlah biji dihasilkan bervariasi antara 15-393 biji. Dr sembilan pasang persilangan diperoleh 1.308 biji hasil per- silangan. Keberhasilan tertinggi diperoleh pada pasangan persilangan Obake putih x Pink Exotic, diikuti oleh Midori x Pink Exotic, Champion x Laura, & Lady Jane x Merah Ati masing-masing lebih dr 130 biji. Keberhasilan tinggi menunjukkan bahwa pasangan tetua tersebut mempunyai kompatibilitas tinggi. Lima pasangan tetua lainnya cuma menghasilkan 15-58 biji (Tabel l).

Berdasarkan kegiatan dilaksanakan, peluang ke- berhasilan penyerbukan anthurium cukup tinggi terutama penyerbukan pada pagi hari mencapai 90%. Keberhasil- an penyerbukan pada sore hari cuma mencapai 70%. Hal ini terkait erat dgn suhu di rumah kaca masih panas. Namun, perbedaan persentase keberhasilan tersebut tak terlalu j auh, sebesar 20%. Penyerbukan berhasil bisa dilihat dr spadiks dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan kecil bulat berjejal, nantinya akan membentuk buah disebut buah beries. Penyerbukan tak berhasil ditandai dgn bunga akan mengering setelah 2 minggu.

Dr 20 kali penyerbukan pada waktu berbeda, yaitu 10 kali pada pagi hari & 10 kali pada sore hari, dihasilkan 1.308 buah beries (Tabel 2). Keberhasilan pe- nyerbukan tersebut tak lepas dr persyaratan standar harus dipenuhi, seperti bahan tanaman silangan, kebersihan alat-alat digunakan serta tak terkontaminasi bahan lain, serta waktu & proses penyerbukan.

Pembibitan

Panen Buah

Buah beries dihasilkan dr penyilangan akan masak 6- 7 bulan setelah penyerbukan. Buah bisa dipanen setelah lu- nak, berwarna kuning kecokelatan (Rosario 1991) (Gambar 3).

Pemanenan dilakukan seeara manual dgn memetik se- luruh buah ada pada spadiks. Apaapabila buah masak tak serempak, maka panen dilakukan seeara bertahap dgn mengambil buah masak. Buah belum masak dibiarkan sampai buah siap dipanen (Lestina 2002).

Penyemaian Biji

Buah sudah dipanen dilepaskan dr tongkolnya & dipisahkan dr kulit buahnya dgn eara dipijit. Karena biji anthurium dilapisi daging buah menyerupai lendir, maka biji harus direndam terlebih dahulu. Perendaman dilakukan dgn menggunakan air bersih selama 1 hari or dlm akuades selama 10 menit (Lestina 2002). Setelah itu, biji dieuci pada air mengalir sambil diremas-remas untuk melepaskan lendimya sampai biji bersih & terasa kesat.
Selanjutnya disiapkan media persemaian berupa arang sekam dlm pot berdiameter 15 em, kemudian dibasahi or disiram. Untuk mempertahankan kelembapan, pot diberi alas berupa baki plastik diisi air. Biji sudah bersih disebar di atas media telah disiapkan, kemudian diberi label silangan & tanggal penyemaian, lalu ditutup dgn kaea transparan. Selang 3 hari, keeambah akan mulai tumbuh, ditandai dgn keluamya akar dgn bulu-bulu halus berwama putih & diikuti oleh tumbuhnya kuneup daun pada hari ke- 7. Pada umur 14 hari, penutup dibuka & setelah bibit berumur 30-40 hari, bibit tersebut dipindahkan ke kompot berupa bak plastik berukuran 45 em x 35 em bagian bawahnya sudah dilubangi & diisi media arang sekam + kompos bambu halus dgn perbandingan 1 : 1 (Gambar 4). Bibit ditanam denganjarak 2 em x 2 em. Setelah bibit berumur 3-4 bulan, bibit sudah siap untuk ditanam dlm pot or di lapang.

Pemeliharaan Bibit

Pemeliharaan bibit perlu dilakukan sebaik mungkin, terutama penyiraman & pemupukannya. Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari sesuai dgn keadaan euaea, terutama harus diperhatikanjangan sampai ada air menggenang. Apa apabila keadaan cuaca mendung, penyiraman bisa dilakukan cukup 2 hari sekali.
Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu dilakukan pe- mupukan. Pemupukan anthurium bergantung pada media digunakan, kondisi cahaya, umur tanaman, & kultivar anthurium (Lestina 2002). Pemupukan bisa menggunakan dua macam pupuk yaitu pupuk daun untuk menyuburkan daun, & pupuk majemuk untuk memberi nutrisi di daerah perakaran. Takaran digunakan untuk pupuk daun ; 1-1,5 g/1 dgn cara disemprotkan di sekitar daun, dilakukan 1 minggu sekali. Untuk pupuk majemuk NPK, pupuk dilarutkan dlm air dgn takaran 1 g/1 air. Larutan pupuk disiramkan di sekitar akar tanaman & dilakukan 2 minggu sekali.


KESIMPULAN & SARAN

Penyerbukan buatan paling baik pada anthurium ; pada pagi hari antara pukul 07.00-10.00. Dr 20 kali penyerbukan, 10 kali di antaranya dilakukan pada pagi hari, dihasilkan 1.308 (90%) buah beries. Tingkat keberhasilan penyerbukan terkait erat dgn bahan & alat-alat digunakan, waktu, & proses penyerbukan. Berdasarkan hasil ini maka hibridisasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari, agar hasil dicapai sesuai dgn tujuan diharap- kan, terutama menkut jumlah & kualitas biji hasil silangan.

DAFTAR PUSTAKA

Lestina, M. 2002. Teknik Cara Budidaya Anthurium. Laporan Kegiatan Praktek Umum. Balai Penelitian Tanaman Hias, Cipanas.
Riffle, R.L. 1998. The Tropical Look. An Encyclopedia of
Landscape Plants for Worldwide Use. Thames and Hudson,
Great Britain. London. p.4 8-49.
Rosario, T.L. 1991. Anthuriums. College of Agriculture. University
ofthe Philippines, Los Banos, College, Laguna, Philippines.
p.46.

Rukmana, R. 1997. Anthurium. Kanisius, Yogyakarta. 55 hIm.

Buletin Teknik Pertanian Vol. 9. Nomor 2, 2004

1 Teknisi Litkayasa Pelaksana Lanjutan dan 2 Teknisi Non kelas pada Balai Penelitian Tanaman Hias, Jl. Raya Ciherang, Pacet, Cianjur

Sumber :http://rawabelong.com

Tuesday, June 10, 2008

Menanam Anthurium Baik

Tanaman anthurium termasuk tanaman bandel & tak manja. Jadi, memiliki & merawat tanaman anthurium tak repot. Tanaman ini, misalnya, tak butuh pemangkasan seperti pada tanaman cemara udang. Juga tak terlalu digemari kutu or hama seperti pada tanaman sikas.

Anthurium juga dikenal sebagai tanaman dr keluarga arracae paling mudah beradaptasi dgn lingkungan.

paling penting, jangan abaikan beberapa persyaratan hidup dibawah ini:

A. LOKASI:

Pada dasarnya, di Indonesia, tanaman anthurium bisa beradaptasi dgn baik di segala tempat: baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Namun untuk menjamin pertumbuhan anthurium bagus, daerah or lingkungan tumbuh ideal bagi anthurium ; di dataran menengah (medium) sampai dataran tinggi (antara 600 m – 1.400 m dpl).

B. SUHU:

Anthurium daun tumbuh ideal di dataran sedang bersuhu 24—28º C pada siang hari & 18—21º C pada malam hari. Karena pada suhu tersebut menyebabkan perangsangan produksi klorofil (zat hijau daun) lebih banyak, sehingga warna daunnya menjadi lebih hijau. Namun, tanaman gampang perawatannya ini juga bisa beradaptasi dgn baik di daerah dataran rendah bersuhu 28—31º C pada siang hari & 21—25º C pada malam hari.

C. KELEMBABAN:

Kelembapan ; jumlah kandungan air di udara pada suatu lokasi. Anthurium bisa hidup pada kelembapan cukup tinggi, yakni 60—80%. Kalau kelembapan kurang dr 60%, tanaman akan cepat layu. Sedangkan, bila kelembapan lebih dr 80% akan memicu tumbuhnya jamur pada media sehingga mengancam kesehatan tanaman. Penyiraman pada tanah or semprotan air lembut pada tanaman bisa meningkatkan kelembapan. Untuk mengukur kelembaban, gunakan Higrometer, alat pengukur suhu, bsa dibeli di toko2/ apotek di kota anda.

D. SINAR MATAHARI:

Sebagai tanaman hidup di daerah menengah & tinggi, Anthurium tak tahan terhadap panas matahari langsung. Tanaman anthurium menerima sinar matahari secara langsung or berlebihan akan mengalami dehidrasi: daun-daunnya mongering or hangus terbakar.

Sebaliknya apabila kekurangan cahaya juga bisa mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu. Misalnya, daun menjadi pucat or lemas.

ideal, anthurium membutuhkan tempat semi teduh (semi naungan). Kira-kira, lingkungan menerima sinar matahari dgn intensitas cahaya sekitar 30-60 %.

Bila Anda tinggal di dataran rendah seperti Jakarta, or Surabaya, sebaiknya menggunakan shading net, berukuran 65% or bila lokasi Anda di dataran menengah bsa menggunakan shading net berukuran 55%.

E. ANGIN & SIRKULASI UDARA:

Angin & sirkulasi udara berkaitan erat dgn hal-hal sudah sebut di atas. Dlm kondisi suhu udara meninggi, maupun rendah sirkulasi udara bsa menjaga kestabilan kelembaban.

F. AIR:

Seperti halnya pada tanaman lain, air adalah unsur penting untuk pembentukan akar, cabang, daun & bunga. Namun dlm soal air, bagi Anthurium bsa dibilang, “malu-malu tapi mau”. Tepatnya, dia membutuhkan media tanam lembab. Penyiraman cuma dilakukan apabila media telah kering. Media becek tergenang air, tak bersahabat bagi tanaman ini. Kebanyakan air siraman, bsa membuat anthurium celaka, karena akar anthurium membusuk.

Penyiraman sebaiknya dilakukan dua hari sekali cuma apabila cuaca panas or pada musim kemarau. Tapi apabila musim hujan, lihat kondisi dulu. Kalau media masih basah, penyiraman tak perlu dilakukan.

Kalau bisa, selalu gunakan air bersih & bebas dr pencemaran.

G. MEDIA TANAM:

Media tanam memegang peranan penting bagi pertumbuhan & kesehatan anthurium.

1. Syarat Media Tanam

Derajat keasaman (pH) media tanam ideal bagi anthurium ; 6—7. Namun, anthurium masih mungkin hidup di media ber-pH 5,5 or 6,5. Pada pH 7 or netral, anthurium bisa tumbuh optimal karena ketersediaan unsur hara pada media terpenuhi & ada jaminan kemampuan akar dlm menyerap nutrisi or zat hara. Angka pH sangat penting karena berpengaruh pada kandungan unsur hara di media. Media disebut masam (tanda media miskin hara) bila angka pH di atas 7, & disebut basa bila pH ada di bawah angka 7. Pada kondisi media asam, . umumnya cendawan lebih mudah tumbuh, meski ada juga cendawan tumbuh pada media ber-pH netral or sedikit basa seperti jamur fusarium.

Cara untuk menaikkan pH media tanam, taburkan dolomit secara bertahap. Dolomit mengandung kalsium & magnesium karbonat. Sebaliknya bila media dianggap terlalu basa, kita bsa menaburkan belerang pada media tanam. Cara paling praktis, ganti saja media tanamnya.

Porositas ; kemampuan media dlm menyerap air. Tingkat porositas tanaman di setiap daerah berbeda-beda. Di daerah dataran rendah berudara panas, sehingga tingkat penguapannya tinggi, media harus mampu menahan air sehingga tak mudah kering. Sedangkan di daerah dataran sedang & tinggi umumnya sering hujan, gunakan media berporositas tinggi or tak boleh mengikat air terlampau banyak. Komposisi media digunakan sangat menentukan tingkat porositasnya.

Steril artinya media harus terbebas organisme bisa menyebabkan penyakit, seperti bakteri, spora, jamur, & telur siput. Cara melakukannya cukup gampang, ada mengukus media tanam, menjemur seharian di terik matahari, menyiram media dgn air panas, ada juga merebus pupuk kandang sebelum digunakan. Cara lainnya sering dipraktikkan ; menebarkan Fura& or Basamine G ke media tanam untuk meracuni semut or cacing.

2. Jenis & Komposisi Media Tanam

Bahan organik digunakan bsa berupa pupuk kandang, kompos, humus, cincangan pakis, serutan kayu, & arang. Komposisi media digunakan bsa berbeda-beda untuk setiap petani or nurseri, tergantung pada iklim setempat.

Berikut beberapa variasi komposisi media selama ini dianggap ideal.

- Pakis & Sekam bakar (arang sekam) dgn perbandingan 1 : 4.

- Sekam bakar & pupuk kandang difermentasi dgn perbandingan 1: 1.

- Cacahan pakis & kadaka (1:1).

- Pakis, humus, & pupuk kandang (1:1:1).

Fungsi masing-masing komponen media:

Pakis mempunyai rongga udara banyak, membuat akar tanaman bsa berkembang dgn nyaman & memperoleh air dgn mudah. Pakis dikenal sebagai bahan campuran media bsa menyimpan air dlm jumlah cukup, sekligus drainase & aerasinya mantap. Daya tahannya sebagai bahan media juga baik, yakni tak mudah lapuk. Sangat layak digunakan di daerah dgn curah hujan tinggi.

Sekam bakar dianggap memiliki daya serap terhadap air sedikit, tetapi aerasi udaranya sangat baik. Sekam disarankan sebagai bahan campuran media, tetapi digunakan sekitar 25% saja, karena dlm jumlah banyak akan mengurangi kemampuan media dlm menyerap air

Pupuk kandang, baik berupa kotoran unggas or ternak, or humus dianggap memiliki kandungan N sangat menunjang dlm pembentukan daun, menjadikan daun lebih sehat & segar serta membentuk sel & jaringan pada tanaman.

Disarankan, setiap komponen dr media tersebut, disterilkan, guna menjaga tanaman terhindar dr jamur & bakteri. Sterilisasi lazim dilakukan ; dgn mengukus or menyiram dgn air panas terlebih dulu pada komponen-komponen tersebut.

(Dikutip dr buku Pesona Anthurium Daun karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta

by www.toekangkeboen.com