Monday, June 9, 2008
Cara Budidaya Bawang Merah
A. PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh
Bawang merah bisa tumbuh pada tanah sawah or tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus or Latosol, pH 5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C
2. Pengolahan Tanah
Pupuk kandang disebarkan di lahan dgn dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2
Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Dibuat bedgn dgn lebar 120 -180 cm
Diantara bedgn pertanaman dibuat saluran air (canal) dgn lebar 40-50 cm & kedalaman 50 cm.
Apaapabila pH tanah kurang dr 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedgn & diaduk rata dgn tanah lalu biarkan 2 minggu.
Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan. '
3. Pupuk Dasar
Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedgn & diaduk rata dgn tanah.
Or bila dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dgn tanah di bedengan.
Siramkan pupuk SUPER NASA telah dicampur air secara merata di atas bedgn dgn dosis ± 10 botol/1000 m2 dgn cara :
- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dlm 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram 5-10 meter bedengan.
Biarkan selama 5 - 7 hari
4. Pemilihan Bibit
- Ukuran umbi bibit optimal ; 3-4 gram/umbi.
- Umbi bibit baik telah disimpan 2-3 bulan & umbi masih dlm ikatan (umbi masih ada daunnya)
- Umbi bibit harus sehat, ditandai dgn bentuk umbi kompak (tak keropos), kulit umbi tak luka (tak terkelupas or berkilau)
B. FASE TANAM
1. Jarak Tanam
Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung or Bangkok
Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron
2. Cara Tanam
Umbi bibit direndam dulu dlm larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt air )
Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASA
Simpan selama 2 hari sebelum tanam
Pada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit telah siap tanam dibenamkan ke dlm permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.
C. AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )
1. Pengamatan Hama
Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua or S. litura), telur diletakkan pada pangkal & ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas.
Kelompok telur ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil & dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dgn VIREXI or VITURA . Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dgn ciri terbisa garis hitam di perut /kalung hitam di leher, dikendalikan dgn VIREXI.
Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya & tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dr sisa-sisa tanaman or rerumputan jadi sarangnya. Semprot dgn PESTONA.
Penyakit harus diwaspadai pada awal pertumbuhan ; penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dgn menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dgn cepat (Jawa : ngoler). Tanaman terserang dicabut lalu dibuang or dibakar di tempat jauh. Preventif kendalikan dgn GLIO.
2. Penyiangan & Pembumbunan
Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST & dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma or tumbuhan liar kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang
Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir & dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedgn rusak or longsor perlu dirapikan kembali dgn cara memperkuat tepi-tepi selokan dgn lumpur dr dasar saluran (di Brebes disebut melem).
3. Pemupukan pemeliharaan/susulan
Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis & kondisi tanah setempat. Bila kelebihan Urea/ZA bisa mengakibatkan leher umbi tebal & umbinya kecil-kecil, tapi bila kurang, pertumbuhan tanaman terhambat & daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga bisa menyebabkan ujung daun mengering & umbinya kecil.
Pemupukan dilakukan 2 kali
( dosis per 1000 m2 ) :
- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl
- 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KCl
Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut & aplikasikan di sekitar rumpun or garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tak terbakar & terganggu pertumbuhannya.
Or bila dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.
4. Pengairan
Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi & sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan bila persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %
Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dr permukaan bedgn pertanaman
D. FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )
1. Pengamatan Hama & Penyakit
Hama Ulat bawang, S. litura & S. exigua
Thrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dgn suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang terserang warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dgn kelembaban diatas 70%. Bila ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dgn BVR or PESTONA.
Penyakit Bercak Ungu or Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi or percikan air dr tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu or putih-kelabu di daun & di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dgn warna kuning hingga merah kecoklatan. Bila ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dgn penebaran GLIO.
Penyakit Antraknose or Otomotis, disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan ; ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Bila ada gejala, tanaman terserang segera dicabut dibakar & dimusnahkan. Untuk jamur ada didlm tanah kendalikan dgn GLIO
Penyakit oleh virus.
- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah & terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus & pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.
Busuk umbi oleh bakteri.
- Umbi terserang jadi busuk & berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat kering.
- Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.
- Bagian terserang jadi lunak, melekuk & berwarna kelabu. Jaga agar tanah tak terlalu becek (atur drainase).
- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dgn jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi serangan hama-penyakit.
2. Pengelolaan Tanaman
- Penyiangan kedua dilakukan pada umur
30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan & perbaikan bedgn rusak.
- Penyemprotan POC NASA dgn dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari sekali mulai 7 hari setelah tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke 35 penyemprotan ditambah HORMONIK dgn dosis 1-2 tutup/ tangki (dicampurkan dgn NASA).
- Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, bila ada serangan Thrips & ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.
E. PEMBENTUKAN UMBI ( 36 - 50HST )
Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, perlu diperhatikan ; pengairannya. Butuh air banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi & sore hari.
F. PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )
Pada fase ini tak begitu banyak air sehingga penyiraman cuma dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.
G. PANEN & PACA PANEN
1. Panen
> 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.
> Panen dilakukan pada pagi hari cerah & tanah tak becek
> Pemanenan dgn pencabutan batang & daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)
2. Pasca Panen
- Penjemuran dgn alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari dgn bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3 hari dgn umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi & sekaligus dilakukan pembersihan umbi dr sisa kotoran or kulit terkelupas & tanah terbawa dr lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.
- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dgn baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Pepaya
Tanaman bisa tumbuh pada dataran rendah & tinggi 700 - 1000 mdpl, curah hujan 1000 - 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 - 26 derajat C & kelembaban udara sekitar 40% & angin tak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan. Tanah subur, gembur, mengandung humus & harus banyak menahan air, pH tanah ideal ; netral dgn pH 6 -7.
PEMBIBITAN
1. Persyaratan Bibit/Benih
- Biji-biji digunakan sebagai bibit diambil dr buah-buah telah masak benar & berasal dr pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat teduh.
- Biji segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dr buah sudah terlalu masak/tua & jangan dr pohon sudah tua.
2. Penyiapan Benih
Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dlm larutan POC NASA 2 cc/liter selama 1-2 jam, ditiriskan & ditebari Natural GLIO kemudian disemai dlm polybag ukuran 20 x 15 cm. Media digunakan adalah campuran 2 ember tanah di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang sudah matang & diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 30 gram Natural GLIO.
3. Teknik Penyemaian Benih
- Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dgn tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm or 45-60 hari bibit siap ditanam.
- Biji-biji tersebut bsa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 or 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.
4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dlm larikan (barisan ) dgn jarak 5 - 10 cm. Biji tak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedlm biji, yakni 1 cm. Dgn pemeliharaan baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. Semprotkan POC NASA seminggu sekali dosis 2 tutup/tangki
5. Pemindahan Bibit
Bibit-bibit sudah dewasa, sekitar umur 2 - 3 bulan bisa dipindahkan pada permulaan musim hujan.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
1. Persiapan
Lahan dibersihkan dr rumput, semak & kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak & digemburkan.
2. Pembentukan Bedengan
- Bentuk bedgn berukuran lebar 200 - 250 cm, tinggi 20 - 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedgn 60 cm.
- Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dgn jarak tanam 2 x 2,5 m.
3. Pengapuran
Apaapabila tanah akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dr 5), setelah diberi pupuk matang, perlu ditambah ± 1 kg Dolomit & biarkan 1-2 minggu.
4. Pemupukan
Sebelum diberi pupuk, tanah akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dgn tanah campuran 3 blek pupuk kandang telah matang or dgn SUPERNASA.
TEKNIK PENANAMAN
1. Pembuatan Lubang Tanam
- Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 40 cm, digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. - - Setelah itu lubang-lubang diisi dgn tanah telah dicampuri dgn pupuk kandang 2 - 3 blek. Bila pupuk kandang tak tersedia bisa dipakai SUPERNASA dgn cara disiramkan kelubang tanam dosis 1 sendok makan/10 lt air sebelum tanam. Lubang - lubang ditutupi gundukan tanah cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman.
- Apaapabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang - lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5 bulan sebelum musim hujan.
2. Cara Penanaman
Tiap-tiap lubang diisi dgn 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan bisa dilihat tanaman jantan & betina or berkelamin dua.
PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penjarangan & Penyulaman
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.
2. Penyiangan
Kebun pepaya sama halnya dgn kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan & berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak bisa dipastikan dgn tegas, tergantung dr keadaan.
3. Pembubunan
Kebun pepaya sama halnya dgn kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan & berapa kali kebun tersebut harus didangiri tak bisa dipastikan dgn tegas, tergantung dr keadaan.
4. Pemupukan
Pohon pepaya memerlukan pupuk banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan diperlukan & bisa menjaga kelembaban tanah.
Cara pemberian pupuk:
- Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP & 25 gram KCl, dicampur & ditanam melingkar.
- Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dgn komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, & 40 gram KCl
- Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dgn komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl
- Umur 6 bulan & seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dgn 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, & 75 gram KCl
- Siramkan SUPERNASA ke lubang tanam dgn dosis 1 sendok makan/10 liter air setiap 1-2 bulan sekali
- Lakukan penyemprotan POC NASA dosis 3 tutup / tangki setiap 1-2 minggu sekali setelah tanam sampai umur 2-3 bulan
- Setelah umur 3 bulan semprot dgn POC NASA 3 - 4 tutup ditambah HORMONIK dosis 1 - 2 tutup / tangki.
- Penyemprotan hati - hati pada saat berbunga agar tak kena bunga mekar or lebih aman bsa disiramkan.
5. Pengairan & Penyiraman
Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tak tahan air tergenang. Maka pengairan & pembuangan air harus diatur dgn seksama. Apalagi di daerah banyak turun hujan & bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.
HAMA & PENYAKIT
Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Ba& halus panjang 2 - 3 mm berwarna hijau, kuning or hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut & kaki panjang. Kutu dewasa, ada bersayap & tidak. Merusak tanaman dgn cara menghisap cairan dgn pencucuk penghisap panjang di bagian mulut.
Pengendalian : semprot dgn Natural BVR or PESTONA secara bergantian
Penyakit sering merugikan tanaman pepaya ; penyakit disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang & nematoda.
Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora & Pythium aphanidermatum. Menyerang buah & batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun baik, menjaga kebersihan, & drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.
Nematoda. Apaapabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu & mati. Pengendalian : Siramkan PESTONA ke lubang tanam
PANEN & PASCA PANEN
1. Ciri & Umur Panen
Tanaman pepaya bisa dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.
2. Cara Panen
Panen dilakukan dgn berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan dgn menggunakan "songgo" (berupa bambu pada ujungnya berbentuk setengah kerucut berguna untuk menjaga agar buah tersebut tak jatuh pada saat dipetik).
3. Periode Panen
Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Tomat
A. FASE PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh>
- Tomat bisa ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
- Tanahnya gembur, porus & subur, tanah liat sedikit mengandung pasir & pH antara 5 - 6
- Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan tinggi bisa menghambat persarian.
- Kelembaban relatif tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman & ini berbahaya bagi tanaman
2. Pola Tanam
- Tanaman dianjurkan ; jagung, padi, sorghum, kubis & kacang-kacangan
- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari or tanaman sela untuk memberikan keadaan kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu
3. Penyiapan Lahan
- Pilih lahan gembur & subur sebelumnya tak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau & kentang .
- Untuk mengurangi nematoda dlm tanah genangilah tanah dgn air selama dua minggu
- Apabila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 & disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam
- Buatlah bedgn selebar 120-160 cm untuk barisan ganda & 40-50 cm untuk barisan tunggal
- Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedgn dgn kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.
- Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk & ratakan dgn tanah
- Or bila pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dgn tanah di atas bedengan.
- Siramkan pupuk POC NASA telah dicampur air secara merata diatas bedgn dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus bila diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dgn cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dlm 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan
- Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedgn pada sore hari
- Bila pakai Mulsa plastik, tutup bedgn pada siang hari
- Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam
- Buat lubang tanam dgn jarak 60 x 80 cm or 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedlm 15 cm
4. Pemilihan Bibit
- Pilih varietas tahan & jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
- Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
- Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam or pagi harinya (agar lembab)
B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
- Siapkan media tanam adalah campuran tanah & pupuk kandang 25 - 30 kg + Natural GLIO (1:1)
- Masukkan dlm polibag plastik or contongan daun pisang or kelapa
- Sebarlah benih secara merata or masukkan satu per satu dlm polibag
- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit baik, tegar & sehat dipindahkan dlm bumbunan daun pisang or dikepeli berisi campuran media tanam
- Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)
- Penyemprotan POC NASA pada umur 10 & 17 hari dgn dosis 2 tutup/tangki
C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )
- Bedgn sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu
- Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6
- Penanaman sore hari
- Buka polibag plastik
- Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang & ditimbun dgn tanah di sekitarnya
- Selesai penanaman langsung disiram dgn POC NASA dgn dosis 2-3 tutup per + 15 liter air
- Sulam tanaman mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman telah mati, rusak, layu or pertumbuhannya tak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan & diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam
- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bsa tumbuh memanjang, tak mampu menyerap unsur-unsur hara & mudah terserang penyakit
- Amati hama seperti ulat tanah & ulat grayak. Bila ada serangan semprot dgn Natural VITURA
- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium or bakteri & busuk daun , kendalikan dgn menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) & tungau (Tetranichus sp.) dgn menyemprot Natural BVR or Pestona secara bergantian
- Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tak rusak tertusuk ajir dgn jarak 10-20 cm dr batang tomat
D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
- Bila tanpa mulsa, penyiangan & pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan & pemberian pupuk susulan diikuti penggulu& tanaman
- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea & KCl dgn perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dr batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah & siram dgn air
- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea & KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm & sedlm ± 1 cm kemudian ditutup tanah & siram dgn air.
- Apabila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur bisa dipupuk Urea & KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dr batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).
- Bila pakai Mulsa tak perlu penyiangan & pembubunan serta pupuk susulan diberikan dgn cara dikocorkan
- Penyiraman dilakukan pada pagi or sore hari
- Amati hama & penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu & virus, bila terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam
- Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki or POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.
- Tanaman telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir & setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.
- Pengikatan jangan terlalu erat dgn model angka 8, sehingga tak terjadi gesekan antara batang dgn ajir bisa menimbulkan luka.
E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)
1. Pengelolaan Tanaman
- Bila tanpa mulsa penyiangan & pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari
- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman
- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dgn cara; ujung tunas dipegang dgn tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dgn pisau or gunting, sedangkan tanaman tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tak ikut dirempel sehingga tanaman tak terlalu pendek
- Ketinggian tanaman bisa dibatasi dgn memotong ujung tanaman apaapabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah
- Semprotkan POC NASA & HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dgn dosis 3-4 tutup POC NASA & 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tak mudah hilang oleh air hujan & merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dgn dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.
2. Pengamatan Hama & Penyakit
- Ulat buah (Helicoperva armigera & Heliothis sp.). Gejala buah berlubang & kotoran menumpuk dlm buah terserang. Lakukan pengumpulan & pemusnahan buah tomat terserang, semprot dgn PESTONA
- Lalat buah (Brachtocera or Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur & apabila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri & Drosophilla sp. Kumpulkan & bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (bisa dicampur insektisida)
- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun & buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Bila ada serangan semprot dgn Natural GLIO
- Bila pengendalian hama penyakit dgn menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi bisa dipergunakan pestisida kimia dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata & tak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
- Busuk ujung buah. Ujung buah akan tampak lingkaran hitam & busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.
F. FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)
- Panen pada umur 90-100 HST dgn ciri; kulit buah berubah dr warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi or sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu & dipilih buah siap petik. Masukkan keranjang & letakkan di tempat teduh
- Interval pemetikan 2-3 hari sekali.
- Supaya tahan lama, tak cepat busuk & tak mudah memar, buah tomat akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang
- Wadah baik untuk pengangkutan ; peti-peti kayu dgn papan bercelah & jangan dibanting
- Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan & musnahkan
- Buah tomat telah dipetik, dibersihkan, disortasi & di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi.
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Cabe
Cabai bisa ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dgn berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis Cara Budidaya, kekurangan unsur, serangan hama & penyakit, dll.
B. FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
Dibuat bedgn lebar 100 cm & parit selebar 80 cm
Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)
- Super Nasa : 1 btl dilarutkan dlm 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk.
Or 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA & siramkan ke bedgn + 5-10 m.
- NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA & siramkan ke bedgn sepanjang + 5 - 10 meter.
Campurkan GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dgn 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu & sebarkan ke bedengan.
Bedgn ditutup mulsa plastik & dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 - 2 minggu ).
2. Benih
Kebutuhan per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 or CK-11 & Natural CS-20, CB-30
Biji direndam dgn POC NASA dosis 0,5 - 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.
C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian
Arah persemaian menghadap ke timur dgn naungan atap plastik or rumbia.
Media tumbuh dr campuran tanah & pupuk kandang or kompos telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dgn GLIO 100 gr dlm 25-50 kg pupuk kandang & didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm or contong daun pisang.
2. Penyemaian
Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang telah disaring
Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS
Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi or sore hari untuk menjaga kelembaban
3. Pengamatan Hama & Penyakit
a. Penyakit
Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dgn tanah, mengatur kelembaban dgn mengurangi naungan & penyiraman, bila serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dgn permukaan berbulu pada daun or kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat & warna daun mosaik or pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dr 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut & dibakar, semprot vektor virus dgn BVR or PESTONA.
b. H a m a
Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah or lipatan
pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dgn jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dgn BVR or PESTONA.
Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut & bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan or seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi or sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dgn BVR or PESTONA untuk mengurangi penyebaran.
Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal & berguguran sehingga tinggal batang & cabang. Perhatikan daun muda, apabila menggulung & mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis & Thrip
D. FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit
Pilih bibit seragam, sehat, kuat & tumbuh mulus
Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari)
2. Cara Tanam
Waktu tanam pagi or sore hari , apabila panas terik ditunda.
Plastik polibag dilepas
Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.
3. Pengamatan Hama
Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan & bertelur. Ulat makan tanaman muda dgn jalan memotong batang or tangkai daun. Siang hari sembunyi dlm tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dgn PESTONA or VIREXI
Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ),
Ciri ulat baru menetas / masih kecil berwarna hijau dgn bintik hitam di kedua sisi dr perut/ba& ulat, terbisa bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun & daging buah dgn kerusakan berupa bintil-bintil or lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman digunakan untuk persembunyian. Semprot dgn VITURA, VIREXI or PESTONA.
Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) & buang ke luar areal.
E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)
1. Penyiraman bisa dilakukan dgn pengocoran tiap tanaman or penggenangan (dilep) bila dirasa kering.
2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran adalah perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dlm 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 - 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dgn perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dlm 50 liter air, dgn dosis 500 cc/lubang.
Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :
Jenis Pupuk | 1 - 4 minggu (kg) | 5 - 12 minggu (kg) |
Urea | 7 | 56 |
SP-36 | 7 | 28 |
KCl | 7 | 28 |
Catatan :
- Umur 1 - 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi)
- Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi (± 14 tong/aplikasi)
3. Penyemprotan POC NASA ke tanaman dgn dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 & 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
4. Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 - 30 hr.
5. Pengamatan Hama & Penyakit
Spodoptera litura/ Ulat grayak Lihat depan.
Kutu - kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.
Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium & Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering & gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan & untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO
Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dlm berbagai ukuran dgn bagian tengah berwarna abu-abu or putih, kadang bagian tengah ini sobek or berlubang. Daun menguning sebelum waktunya & gugur, tinggal buah & ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.
Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda or berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan & musnahkan. Lalat buah dipantau dgn perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha
Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak or totol-totol pada buah membusuk melebar & berkembang menjadi warna orange, abu-abu or hitam. Bagian tengah bercak tampak garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah & hijau tua. Buah terserang dikumpulkan & dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dgn GLIO di bawah tanaman.
F. FASE PANEN & PASCA PANEN
1. Pemanenan
Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
Panen kedua & seterusnya 2-3 hari dgn jumlah panen bsa mencapai 30-40 kali or lebih tergantung ketinggian tempat & cara Cara Budidayanya
Setelah pemetikan ke-3 disemprot dgn POC NASA + Hormonik & dipupuk dgn perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph
2. Cara panen :
Buah dipanen tak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
Pemanenan baik pagi hari setelah embun kering
Penyortiran dilakukan sejak di lahan
Simpan ditempat teduh
3. Pengamatan Hama & Penyakit
Kumpulkan & musnahkan buah busuk / rusak
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Kacang Tanah
Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil maksimum. Hal ini tak terlepas dr pengaruh faktor tanah makin keras (rusak) & miskin unsur hara terutama unsur hara mikro serta hormon pertumbuhan. Disamping itu juga karena faktor hama & penyakit tanaman, faktor iklim, serta faktor pemeliharaan lainnya.
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
a. Curah hujan antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan terlalu keras akan mengakibatkan bunga sulit terserbuki oleh serangga & akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b. Suhu udara sekitar 28-320C. Apabila suhunya di bawah 100C, pertumbuhan tanaman akan terhambat, bahkan kerdil.
c. Kelembaban udara berkisar 65-75 %.
d.Penyinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun & perkembangan besarnya kacang.
2.2. Media Tanam
a. Jenis tanah sesuai ; tanah gembur / bertekstur ringan & subur.
b. pH antara 6,0-6,5.
c. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu & akhirnya mati.
d. Drainase & aerasi baik, lahan tak terlalu becek & kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.
2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian penanaman optimum 50 - 500 m dpl, tetapi masih bisa tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl.
III. PEDOMAN TEKNIS CARA BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah baik adalah:
a. Berasal dr tanaman baru & varietas unggul.
b. Daya tumbuh tinggi (lebih dr 90 %) & sehat.
c. Kulit benih mengkilap, tak keriput & cacat.
d. Murni or tak tercampur dgn varietas lain.
e. Kadar air benih berkisar 9-12 %.
3.1.2. Penyiapan Benih
Benih sebaiknya disimpan di tempat kering konstan & tertutup rapat. Untuk menjamin kualitas benih, lebih baik membeli dr Balai Benih or Penangkar Benih telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan & Pembukaan lahan
Pembukaan lahan dgn pembajakan & pencangkulan untuk pembersihan lahan dr segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) & akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang & menghilangkan tumbuhan inang bagi hama & penyakit.
3.2.2. Pembentukan Bedgn
Buat bedgn ukuran lebar 80 cm, panjang menyesuaikan, ketebalan bedgn 20-30 cm. Diantara bedgn dibuatkan parit.
3.2.3. Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan bersifat sangat masam dilakukan pengapuran dgn dosis + 1 - 2,5 ton/ha selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.
3.2.4. Pemberian Natural GLIO
Untuk mencegah terjadinya serangan jamur berikan Natural GLIO. Pengembangbiakan Natural GLIO dgn cara: 1-2 sachet Natural GLIO dicampur dgn 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat terlindung dr sinar matahari + 1 minggu dgn selalu menjaga kelembabannya & sesekali diaduk (dibalik) . Pemberian Natural GLIO pada sore hari.
3.2.5. Pemberian Pupuk Makro & SUPER NASA
Jenis & dosis pupuk setiap hektar adalah:
a. Pupuk kandang 2 - 4 ton/ha, diberikan pada permukaan bedgn kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedgn or diberikan pada lubang tanam.
b. Pupuk anorganik : SP-36 (100 kg/ha), ZA (100 kg/ha) & KCl (50 kg/ha) or sesuai rekomendasi setempat.
c. Siramkan pupuk POC NASA telah dicampur air secara merata di atas bedgn dgn dosis ± 1-2 botol (500-1000 cc) diencerkan dgn air secukupnya untuk setiap 1000 m2 (10-20 botol/ha). Hasil akan lebih bagus bila menggunakan SUPER NASA.
Adapun cara penggunaan SUPER NASA sbb :
alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dlm 3 liter air dijadikan larutan induk. Setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram + 10 meter bedengan.
Semua dosis pupuk makro diberikan saat tanam. Pupuk diberikan di kanan & kiri lubang tugal sedlm 3 cm.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memperhatikan musim & curah hujan. Pada tanah subur, benih kacang tanah ditanam dlm larikan dgn jarak tanam 40 x 15 cm, 30 x 20 cm, or 20 x 20 cm.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sedlm 3 cm menggunakan tugal dgn jarak seperti telah ditentukan di atas.
3.3.3. Perendaman Benih dgn POC NASA
Pilih benih baik & agar benih bisa berkecambah dgn cepat & serempak, benih direndam dlm larutan POC NASA (1-2 cc/liter air) selama + 0,5 1 jam.
3.3.4. Cara Penanaman
Masukan benih 1 or 2 butir ke dlm lubang tanam dgn tanah tipis. Waktu tanam paling baik dilahan kering pada awal musim hujan, di lahan sawah bisa dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) or bulan Juli-September (palawija II).
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Sulam benih tak tumbuh or mati, untuk penyulaman lebih cepat lebih baik (setelah lain kelihatan tumbuh ± 3-7 hari setelah tanam).
3.4.2. Penyiangan & Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 & 6 minggu dgn hati-hati agar tak merusak bunga & polong.
Pembumbunan dilakukan bersamaan saat penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran.
3.4.3. Pemberian POC NASA & HORMONIK
Penyemprotan POC NASA dilakukan 2 minggu sekali semenjak berumur 1-2 minggu (4-5 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus bila penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tak dilakukan penyemprotan, karena bisa mengganggu penyerbukan.
3.4.5. Pengairan & Penyiraman
Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau bisa diberikan mulsa (jerami & lain-lain). Saat berbunga tak dilakukan penyiraman, karena bisa mengganggu penyerbukan.
3.4.6. Pemeliharaan Lain
Hal-hal lain sangat menunjang faktor pemeliharaan bsa dilakukan, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeliharaan tunas & bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang kesehatan tanaman).
3.5. Hama & Penyakit
3.5.1. Hama
a. Uret
Gejala: memakan akar, batang bagian bawah & polong. Akhirnya tanaman layu & mati. Pengendalian: olah tanah dgn baik, penggunaan pupuk kandang sudah matang, menanam serempak, penyiangan intensif, Penggunaan Pestona dgn cara disiramkan ke tanah, bila tanaman terlanjur mati segera dicabut & uret dimusnahkan.
b. Ulat Penggulung Daun
Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
c. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat memakan epidermis daun & tulang secara berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan menggunakan Natural Vitura.
d. Ulat Jengkal (Plusia sp)
Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
e. Kumbang Daun
Gejala: daun akan tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan menggunakan Pestona.
3.5.2. Penyakit
a. Penyakit layu or “Omo Wedang”
Penyebab: bakteri Xanthomonas solanacearum (E.F.S.). Gejala: daun terkulai seperti disiram air panas, akhirnya mati. Apabila dipotong akan tampak noda coklat pada bagian pembuluh kayu & apabila dipijit keluar lendir kekuningan. Akar tanaman membusuk. Pengendalian: Pergiliran tanaman, gunakan varietas tahan. Penting melakukan pencegahan menggunakan Natural GLIO.
b. Penyakit sapu setan
Penyebab: Mycoplasma (sejenis virus). Diduga ditularkan serangga sejenis Aphis. Gejala: bunga berwarna hijau tua seperti daun-daun kecil, ruas-ruas batang & cabang menjadi pendek, daun-daun kecil rimbun. Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang & dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan), menanam tanaman tahan, menanggulangi vektornya menggunakan Pestona or Natural BVR.
c. Penyakit Bercak Daun
Penyebab : Jamur Cercospora personata & Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat & hitam pada daun & batang. Pengendalian: dgn menggunakan Natural GLIO di awal tanam sebagai tindakan pencegahan.
d. Penyakit Gapong
Penyebab: diduga Nematoda. Gejala: Polong kosong, juga bsa busuk. Pengendalian: tanahnya didangir & dicari nematodanya.
e. Penyakit Sclerotium
Penyebab: cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala: tanaman layu. Pengendalian: gunakan varietas resisten, air jangan sampai menggenang, membakar tanaman terserang cendawan. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
f. Penyakit Karat
Penyebab: cendawan Puccinia arachidis Speg. Gejala: pada daun terbisa bercak-bercak coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Pengendalian: gunakan varietas resisten, tanaman terserang dicabut & dibakar. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
Catatan : Bila pengendalian hama penyakit dgn menggunakan pestisida alami belum mengatasi bisa dipergunakan pestisida kimia dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata & tak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
3.6. Panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dr jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan & umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a) Batang mulai mengeras.
b) Daun menguning & sebagian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh & keras.
c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Vanili
Tanaman panili or si Emas Hijau adalah komoditi menjanjikan. Namun tak semua panili berharga “emas”, cuma kualitas terbaiklah diberikan harga istimewa.
SYARAT PERTUMBUHAN
Panili bisa hidup di iklim tropis, curah hujan 1000-3000 mm/tahun, cahaya matahari + 30%-50%, suhu udara optimal 200C-250C, kelembaban udara sekitar 60%-80%, ketinggian tempat 300-800 m dpl. Tanah gembur, ringan yaitu tipe tanah lempung berpasir (sandy loam) & lempung berpasir kerikil (gravelly sandy loam), mudah menyerap air, pH tanah + 5,7 - 7.
PEMBIBITAN
1. Seleksi Bibit
- Jenis panili bernilai ekonomi yaitu Vanilla planifolia Andrews, Vanilla tahitensis JW. Moore, Vanilla pompana
- Syarat bibit generatif : tulen, punya sifat hampir sama dgn induknya; murni, biji tak tercampur dgn berkualitas jelek; biji dlm kondisi segar & sehat; bibit vegetatif : tanaman induk sehat & cukup umur, sudah mengeluarkan sulur dahan kuat, tanaman induk belum or jangan sampai berbuah.
2. Penyiapan Bibit
- Bibit generatif berasal dr biji unggul.
- Bibit Vegetatif dgn stek, mempercepat perakaran stek bisa direndam HORMONIK (1-2 cc/liter) kemudian dibiarkan agak layu baru ditanam & disiram POC NASA (2-3 ttp) + HORMONIK ( 1 ttp) per 10 liter air.
- Kulture Jaringan.
3. Teknik Penyemaian Benih
Bibit disemai dlm tanah berpasir supaya akar mudah tumbuh. Tempat penyemaian harus teduh.
4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Penyiraman setiap hari, tak boleh terlalu basah. Bibit jelek disingkirkan. Setiap seminggu sekali semprot dgn POC NASA (2-3 tutup) + HORMONIK ( 1 tutup) per tangki (14-17 liter).
5. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit ke lapangan tergantung asal bibit, yaitu bibit stek sekitar umur 1-2 bulan, bibit biji waktunya lama.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
- Pengolahan lahan dikerjakan pada pertengahan musim kemarau supaya pohon pelindung bisa ditanam, cek kondisi tanah.
- Bersihkan lahan dr gulma & dibajak.
- Buat jalur bedengan, lebar 80-120 cm & lebar parit 30-50 cm.
- Lakukan pengapuran apabila kondisi tanah terlalu asam.
PENANAMAN
- Penanaman di tengah bedengan, pola tanam monokultur.
- Buat lubang tanam dekat tanaman penegak berukuran panjang, lebar & dlm antara 20x15x10 cm, 25x20x12 cm & 30x25x15 cm.
- Tanam stek dgn cara memasukkan 3 ruas seluruhnya ke dlm lubang secara mendatar agar akar tumbuh cepat & sempurna
- Tutup dgn tanah galian dicampur dgn pupuk kandang.
- Stek bibit bagian atas tak terbenam dlm tanah diikat pada pohon panjatan dgn ikatan longgar.
- Waktu tanam stek bibit baik pada awal musim hujan. Sedangkan stek akan ditanam sebaiknya dibiarkan / dilayukan terlebih dahulu selama 4 - 7 hari & pangkal stek bibit direndam dlm POC NASA / HORMONIK (1-2 cc/liter) + Natural GLIO untuk menghindr pembusukan.
PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penyulaman
Lakukan pengecekan setelah umur 2-3 minggu setelah tanam, apaapabila ada stek tumbuh kurang baik, segera disulam.
2. Penyiangan & Pembubunan
Penyiangan dilakukan sebulan sekali sesudah penanaman sampai pertumbuhan panili tak kerdil & terlambat. Pembubunan bersamaan dgn penyiangan untuk menjaga bedgn tetap rapi & tanah tetap gembur agar air mudah terserap.
3. Perempelan
- Perempelan bentuk, memotong 15 cm dr tanaman dilengkungkan & sisakan 3 cabang terbaik untuk dipelihara agar terbentuk kerangka tanaman kuat & seimbang.
- Perempelan produksi, memotong pucuk sepanjang 10-15 cm menjelang musim berbunga & saat berbuah untuk merangsang pertumbuhan generatif terutama pertumbuhan bunga & buah.
- Perempelan peremajaan, memotong cabang-cabang sudah pernah berbuah & cabang-cabang sakit.
4. Pemupukan
- Tebar pupuk makro di sekitar pohon & timbun dgn tanah karena sistem perakaran panili cukup dangkal. Kebutuhan pupuk makro per ha per tahun ; Urea 8 kg, TSP 4 kg, KCl 14 kg, CaCO3 5 - 10 kg, MgSO4 H2O 2,5 - 5 kg/ha/tahun & pupuk kandang 10-20 kg/pohon/tahun.
- Pemupukan diberikan setahun sekali. Akan lebih baik bila dikocor dgn SUPER NASA dosis + 0,5 sdm / 5 lt air per pohon setiap 3 bulan sekali & penyemprotan POC NASA dosis 4-5 tutup/tangki setiap 2 - 4 minggu sekali or POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-4 minggu sekali.
5. Pengairan & Penyiraman
Tanaman panili tak tahan terhadap kekeringan sehingga pada musim kemarau perlu disiram secukupnya untuk merangsang pertumbuhan tanaman, perkembangan bunga serta buah.
6. Pemberian Mulsa & Pendangiran
Pemberian mulsa bisa dilakukan bersamaan dgn penyiangan & pendangiran. Bahan mulsa dr hasil pemangkasan pohon pelindung, tetapi bsa juga serbuk gergaji diletakkan di atas permukaan tanah dekat pohon panili.
7. Perambatan
Sistem pagar sulur-sulur, tanaman panili dibiarkan menjalar pada pagar telah dipasang secara horisontal. Pagar tempat menjalarnya panili bisa dibuat dr bambu diikatkan pada pohon satu dgn pohon lain.
Sistem perambatan penunjang tunggal, tanaman panili dirambatkan lurus ke atas pada naungannya.
8. Pemangkasan Pohon Pelindung
Pohon pelindung bisa digunakan Glyricidia maculate, lamtoro & dadap. Pemangkasan cabang dilakukan untuk mempertahankan agar tetap teduh, mempermudah sistem sirkulasi & mengatur intensitas sinar matahari.
9. Pembungaan & Penyerbukan
Panili berbunga setelah berumur 1,5-3 tahun, bunga muncul berupa dompolan & akan mekar satu bunga secara bergantian. Mekarnya bunga cuma berlangsung 12 jam, yaitu mulai pukul 24:00 sampai menjelang tengah hari, sesudah itu bunga mulai layu & mati. Oleh karena itu penyerbukan bunga dilakukan sekitar pukul 08:00 sampai 10:00. Penyerbukan buatan pada prinsipnya ; mengangkat/memotong bibir membatasi kepala sari & kepala putik, kemudian benang sari ditekan ke kepala putik untuk dilakukan penyerbukan. Seminggu setelah penyerbukan semprot dgn dosis POC NASA (3-4 tutup) & HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-3 minggu sekali.
PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT
a. Hama
1. Bekicot
Menyerang & merusak batang, bunga & buah. Aktifitasnya dilakukan pada malam hari. Pengendalian: secara manual dgn mengambil & mengumpulkan bekicot satu persatu kemudian dibakar sekaligus dlm satu lubang.
2. Belalang pedang
Merusak/memakan daun muda & batang panili. Pengendalian: menyemprotkan PESTONA or Natural BVR
3. Penggerek batang
Larva hama ini merusak/menggerek batang tanaman panili menyebabkan tanaman panili lambat laun layu & mati. Pengendalian penyemprotan PESTONA
4. Ulat bulu jambul & ulat geni
Merusak bagian pucuk, daun, batang & bunga. Pengendalian: penyemprotan PESTONA
b. Penyakit
1. Busuk akar
Gejala: akar hitam, tanaman menjadi kecoklat-coklatan & akhirnya mati; biasanya terjadi pada saat produksi tertinggi pertama kali tercapai. Pengendalian: menjaga kesuburan tanah dgn pemupukan, pemberian kapur secukupnya, & mengatur kelembaban , pencegahan diawal dgn Natural GLIO.
2. Busuk batang
Penyebab: jamur Fusarium batatatis. Gejala: pada batang terjadi bercak-bercak berwarna hitam akan meluas & melingkar dgn cepat. Batang terserang akan keriput, berwarna coklat & akhirnya kering. Pengendalian: mengurangi kelembaban & drainase baik, saat stek akan ditanam dicelup dlm POC NASA + Natural GLIO.
3. Busuk buah
Ditemukan pada buah panili muda. Gejala: muncul apabila menyerang pangkal buah muda sehingga banyak buah berguguran & apabila menyerang tengah buah akan hitam, kering selanjutnya mati. Pengendalian: penyemprotan Natural GLIO + gula pasir dosis 1-2 sendok teh per 10 liter air.
4. Busuk pangkal batang
Penyebab: Jamur Sclerotium sp. Gejala: pangkal batang akan tampak berwarna coklat & kebasah-basahan, bagian tanaman diserang & tanah sekitar terbisa misellium jamur berwarna putih seperti bulu dgn banyak sclerotium warna coklat. Pengendalian: gunakan bibit bebas busuk pangkal batang, penyemprotan Natural GLIO + gula pasir.
5. Bercak coklat pada buah
Penyebab: oleh cendawan Phytophthora sp. & menyerang buah panili hampir masak. Gejala: bercak-bercak coklat tua & akhirnya busuk. Pengendalian: (1) segera petik buah terserang kemudian membakarnya; (2) penyemprotan dgn Natural GLIO dosis 1-2 sendok/10 liter air.
6. Bercak coklat pada batang
Penyebab: cendawan Nectria vanilla, zimm. Gejala: batang akan tampak bercak coklat lama-kelamaan menghitam & melingkar ruas & mati. Pengendalian: potong & bakar batang terserang.
7. Antraknosa
Penyebab: jamur Calospora vanillae, Mass. Gejala: batang, daun, buah berwarna coklat muda kekuningan akan tampak licin & tampak jelas bagian terserang & tidak. Pengendalian: Potong & bakar bagian terserang, atur kelembaban & drainase.
8. Karat merah
Penyebab: Ganggang Cephaleuros heningsii, Schm. Gejala: bercak pada daun & terus meluas hingga daun kering selanjutnya mati. Pengendalian: Singkirkan bagian terserang & atur kelembaban kebun dgn pemangkasan pohon pelindung.
9. Penyakit pascapanen
Penyebab penyakit menyerang panili setelah dipanen : jamur Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, sp & Sclerotium, sp. Pengendalian: penanganan pasca panen baik.
Catatan : Bila Pengendalian hama & penyakit dgn pestisida alami belum bisa mengatasi, bisa digunakan pestisida kimia dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dn tak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis 1-2 tutup/tangki.
E. PANEN & PASCA PANEN
- Pemetikan pada umur 240 hari (8 bulan) akan menghasilkan panili kering dgn kadar vanillin tinggi, kadar abu terendah, rendemen tertinggi & kadar air aman
- Ciri-ciri panili siap dipanen yaitu warna berubah dr hijau tua mengkilap menjadi hijau muda suram dgn garis-garis kecil warna kuning lambat laun melebar sampai ujung buah
- Musim panen antara bulan Mei sampai Juli, sekitar 2 - 3 bulan
- Cara panen terbaik ; memetik satu-persatu buah masak tanpa mengganggu buah lain dlm satu tan& masih mentah untuk menjaga mutu panili.
- Buah dikumpulkan dlm keranjang bambu & dijaga agar buah tak terluka or cacat & sortir berdasar ukuran, bentuk, tingkat kemasakan & buah cacat >20 cm
- Lakukan pelayuan untuk menghentikan proses respirasi terjadi dlm buah, mematikan sel-sel buah panili tanpa mengurangi aktifitas & kadar enzim dlm buah. Proses pelayuan dgn menggunakan alat perebus diisi air ¾ bagian dgn suhu antara 65-950 C
- Lakukan pemeraman dlm kotak khusus lengkap dgn tutup & karung goni sebagai alasnya, utuk pembentukan aroma selama + 48 jam
- Lakukan pengeringan dgn cara dijemur di bawah sinar matahari, dioven & diangin-anginkan untuk mengurangi kadar air hingga 25-30 %
- Tempatkan buah panili kering dlm kotak dalamnya telah dilapisi kertas koran/karung plastik tipis & simpan pada suhu kamar, siap dikirim & dijual
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Buah Naga
Apa itu buah Naga?
Sebagian kalangan menyebutnya buah ini dgn nama Buah Dewa. Hingga saat ini di butuhkan akan buah Naga Indonesia cukup besar & bukan cuma pasar lokal saja ingin mencicipi kedahsyatan buah stu ini. Peluang Ekspor juga tak kalah besarnya, Namun kebutuhan besar tersebut belum mampu di penuhi oleh produksi dlm negri asalny (Taiwan) Apalagi kondisi dlm negri Indonesia cukup sulit memenuhi peluang Pasar ini, Karena hal-hal berhubungan dgn iklim investasi cenderung lesu. Tetapi melihat segi potensi Wialyah lahan pertanian luas & subur,Sangat besar kemungkinannya untuk mengembangkan tanaman jenis ini.
Tingginya permintaan buah naga ini di sebabkan oleh promosi menyebutnya sebagai buah meja (Sangat Menarik & Menggiurkan apabila di sajikan di meja makan) Berkhasiat mujarab untuk berbagai penyakit & bermanfaat sebagai bahan baku di bidang industri pengolahan Makanan, Minuman, Kosmetik serta produk kesehatan. Berpedoman kepada kondisi petani sebagian besar kurang mampu berinvestasi di bidang ini (Mahalnya bibit & perlengkapan harus di sediakan). Adalah salah satu motivasi bagi pemilik modal untuk bekerja sama dgn kelompok Tani dlm pemCara Budidayaan Komoditas ini. Kea& lain mendukung adalh tersedianya lahan potensial & tenaga ahli dlm pemCara Budidayaan jenis Tanaman ini.
CIRI BUAH NAGA
Buah naga (Dragon Fruit or Hylocereus Undatus) masih termasuk komoditi langka di indonesia. Buah beasal dr Taiwan ini memiliki bentuk sangat unik & cukup memikat untuk di lihat. Bentuk fisiknya mirip dgn buah nanas cuma saja buah ini memiliki sulur /jumbai di sekujur kulitnya & buah ini berwarna merah jambu (Pink) dgn daging buah berbagai jenis antara lain berwarna Putih, Kuning & Merah dgn biji kecil berwarna hitam sangat lembut & lunak. Rasa buah tergantung jenis warna daging buah itu, Apabila warna merah cenderung manis & legit dgn perpaduan rasa sangat khas. Warna putih rasanya manis& segar sedangkan kuning perpaduan antara ke dua warna di atas. Bentuk tanaman hampir mirip dgn pohon kaktus berupa sulur-sulur memanjang seperti lidah naga menjulur. Berat rata-rata + 600 s.d 800 Gram.
KHASIAT BUAH NAGA
- Penyeimbang kadar gula darah.
- Membersihkan darah.
- Menguatkan ginajal.
- Menyehatkan lever.
- Perawatan kecantikan.
- Menguatkan daya kerja otak.
- Meningkatkan ketajaman Mata.
- Mengurangi keluhan panas dlm & sariawan.
- Mensatbilkan Tekanan Darah.
- Mengurangi Keluhan Keputihan.
- Mengurangi Kolesterol & mencegah Kanker usus.
- Mencegah Sembelit & Memperlancar Feses.
SISTEM PENANAMAN
1. Persyaratan tanam: Tak berpengaruh terhadap kualitas tanah, Jenis apa saja bisa di lakukan penanaman. Membutuhkan penyinaran penuh. Daerah tropis cocok untuk Tanaman ini.
2. Penanaman sebaiknya di gunakan parit untuk saluran drainase di areal kebun.& gunakan ajir/tiang penga tanaman kaktus berukuran 10cm x 10cm x 150cm.Tiang penga ini biasa terbuat dr kayu or beton di tancapkan ke tanah sedlm 50cm dgn jarak tanam 2,5 x 3cm.
3. Jarak tanam bibit baik ; 2,5 x 2 meter & tiap tiang penga di tanami 4 bibit tanaman,Jadi untuk 1Ha membutuhkan 2000 tiang penga & 8000 bibit tanaman buah naga.
4. Pemeliharaan tanaman meliputi,Perawatan sulur tanaman agar terhindar dr luka,pengecekan rutin kondisi keasamn tanah,dll.
5. Panen tanaman akan berbunga pada umur 1,5-2 tahun & bisa di panen saat mencapai umur 30 hari setelah bunga mekar.Tanaman buah naga akan berbuah terus menerus hingga + 10 tahun.
Sumber :http://tcplanet.blogspot.comCara Budidaya Apel
1. SEJARAH SINGKAT
Apel adalah tanaman buah tahunan berasal dr daerah Asia Barat dgn iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini.
2. JENIS TANAMAN
Menurut sistematika, tanaman apel termasuk dalam:
1) Divisio : Spermatophyta
2) Subdivisio : Angiospermae
3) Klas : Dicotyledonae
4) Ordo : Rosales
5) Famili : Rosaceae
6) Genus : Malus
7) Spesies : Malus sylvestris Mill
Dr spesies Malus sylvestris Mill ini, terbisa bermacam-macam varietas memiliki ciri-ciri or kekhasan tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan antara lain: Rome Beauty, Manalagi, Anna, Princess Noble & Wangli/Lali jiwo.
3. MANFAAT TANAMAN
Apel mengandung banyak vitamin C & B. Selain itu apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.
4. SENTRA PENANAMAN
Di Indonesia, apel bisa tumbuh & berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di ; Malang (Batu & Poncokusumo) & Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Di daerah ini apel telah diusahakan sejak tahun 1950, & berkembang pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain
banyak dinanami apel ; Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng & Tabanan), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur & Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman dunia berada di Eropa, Amerika, & Australia.
5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
1) Curah hujan ideal ; 1.000-2.600 mm/tahun dgn hari hujan 110-150 hari/tahun. Dlm setahun banyaknya bulan basah ; 6-7 bulan & bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan tinggi saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tak bisa menjadi buah.
2) Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari cukup antara 50-60% setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.
3) Suhu sesuai berkisar antara 16-27 derajat C.
4) Kelembaban udara dikehendaki tanaman apel sekitar 75-85%.
5.2. Media Tanam
1) Tanaman apel tumbuh dgn baik pada tanah bersolum dalam, mempunyai lapisan organik tinggi, & struktur tanahnya remah & gembur, mempunyai aerasi, penyerapan air, & porositas baik, sehingga pertukaran oksigen, pergerakan hara & kemampuan menyimpanan airnya optimal.
2) Tanah cocok ; Latosol, Andosol & Regosol.
3) Derajat keasaman tanah (pH) cocok untuk tanaman apel ; 6-7 & kandungan air tanah dibutuhkan ; air tersedia.
4) Dlm pertumbuhannya tanaman apel membutuhkan kandungan air tanah cukup.
5) Kelerengan terlalu tajam akan menyulitkan perawatan tanaman, sehingga apabila masih memungkinkan dibuat terasering maka tanah masih layak ditanami.
5.3. Ketinggian Tempat
Tanaman apel bisa tumbuh & berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl. dgn ketinggian optimal 1000-1200 m dpl.
6. PEDOMAN CARA BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
Perbanyakan tanaman apel dilakukan secara vegetatif & generatif. Perbanyakan baik & umum dilakukan ; perbanyakan vegetatif, sebab perbanyakan generatif memakan waktu lama & sering menghasilkan bibit menyimpang dr induknya. Teknik perbanyakan generatif dilakukan dgn biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan dgn okulasi or penempelan (budding), sambungan
(grafting) & stek.
1) Persyaratan Benih
Syarat batang bawah : adalah apel liar, perakaran luas & kuat, bentuk pohon kokoh, mempunyai daya adaptasi tinggi. Sedangkan syarat mata tunas ; berasal dr batang tanaman apel sehat & memilki sifat-sifat unggul.
2) Penyiapan Benih
Penyiapan benih dilakukan dgn cara perbanyakan batang bawah dilakukan langkah-langkah sebagai beriku t:
a) Anakan / siwilan
1. Ciri anakan diambil ; tinggi 30 cm, diameter 0,5 cm & kulit batang kecoklatan.
2. Anakan diambil dr pangkal batang bawah tanaman produktif dgn cara menggali tanah disekitar pohon, lalu anakan dicabut beserta akarnya secara berlahan-lahan & hati-hati.
3. Setelah anakan dicabut, anakan dirompes & cabang-cabang dipotong, lalu ditanam pada bedgn selebar 60 cm dgn kedalaman parit 40 cm.
b) Rundukan (layering)
1. Bibit hasil rundukan bisa diperoleh dua cara yaitu:
- Anakan pohon induk apel liar: anakan agak panjang direbahkan melekat tanah, kemudian cabang dijepit kayu & ditimbun tanah; penimbunan dilakukan tiap 2 mata; apabila sudah cukup kuat, tunas dapat
dipisahkan dgn cara memotong cabangnya.
- Perundukan tempelan batang bawah: dilakukan pada waktu tempelan dibuka (2 minggu) yaitu dgn memotong 2/3 bagian penampang batang bawah, sekitar 2 cm diatas tempelan; bagian atas keratan dibenamkan dlm tanah kemudian ditekuk lagi keatas. Pada tekukan diberi penjepit kayu or bambu.
2. Setelah rundukan berumur sekitar 4 bulan, dilakukan pemisahan bakal bibit dgn cara memotong miring batang tersebut dibawah keratan or tekukan. Bekas luka diolesi defolatan.
c) Stek
Stek apel liar berukuran panjang 15-20 cm ( diameter seragam & lurus), sebelum ditanam bagian bawah stek dicelupkan ke larutan Roton F untuk merangsang pertumbuhan akar. Jarak penanaman 30 x 25 cm, tiap bedgn ditanami dua baris. Stek siap diokulasi pada umur 5 bulan, diameter batang ± 1
cm & perakaran cukup cukup kuat.
3) Teknik Pembiitan
a) Penempelan
1. Pilih batang bawah memenuhi syarat yaitu telah berumur 5 bulan, diameter batang ± 1 cm & kulit batangnya mudah dikelupas dr kayu.
2. Ambil mata tempel dr cabang or batang sehat berasal dr pohon apel varietas unggul telah terbukti keunggulannya. Caranya ; dgn menyayat mata tempel beserta kayunya sepanjang 2,5-5 cm (Matanya ditengah-tengah). Kemudian lapisan kayu dibuang dgn hati-hati agar matanya tak rusak
3. Buat lidah kulit batang terbuka pada batang bawah setinggi ± 20 cm dr pangkal batang dgn ukuran disesuaikan dgn mata tempel. Lidah tersebut diungkit dr kayunya & dipotong setengahnya.
4. Masukkan mata tempel ke dlm lidah batang bawah sehingga menempel dgn baik. Ikat tempelan dgn pita plastik putih pada seluruh bagian tempelan.
5. Setelah 2-3 minggu, ikatan tempelan bisa dibuka & semprot/ kompres dgn ZPT. Tempelan jadi mempunyai tanda mata tempel berwarna hijau segar & melekat.
6. Pada okulasi jadi, kerat batang sekitar 2 cm diatas okulasi dgn posisi milintang sedikit condong keatas sedlm 2/3 bagian penampang.
Tujuannya untuk mengkonsentrasikan pertumbuhan sehingga memacu pertumbuhan mata tunas.
b) Penyambungan
1. Batang atas (entres) berupa cabang (pucuk cabang lateral).
2. Batang bawah dipotong pada ketinggian ± 20 cm dr leher akar.
3. Potong pucuknya & belah bagian tengah batang bawah denngan panjang 2-5 cm.
4. Cabang entres dippotong sepanjang ± 15 cm (± 3 mata), daunnya dibuang, lalu pangkal batang atas diiris berbentuk baji. Panjang irisan sama dgn panjang belahan batang bawah.
5. Batang atas disisipkan ke belahan batang bawah, sehingga kambium keduanya bsa bertemu.
6. Ikat sambungan dgn tali plastik serapat mungkin.
7. Kerudungi setiap sambungan dgn kantung plastik. Setelah berumur 2-3 minggu, kerudung plastik bisa dibuka untuk melihat keberhasilan sambungan.
4) Pemeliharaan pembibitan
Pemeliharaan batang bawah meliputi
a) Pemupukan: dilakukan 1-2 bulan sekali dgn urea & TSP masing-masing 5 gram per tanaman ditugalkan (disebar mengelilingi) di sekitar tanaman.
b) Penyiangan: waktu penyiangan tergantung pada pertumbuhan gulma.
c) Pengairan: satu minggu sekali (apabila tak ada hujan)
d) Pemberantasan hama & penyakit: disemprotkan pestisida 2 kali tiap bulan dgn memperhatikan gejala serangan. Fungisida digunakan ; Antracol or Dithane, sedangkan insektisida ; Supracide or Decis.
Bersama dgn ini bisa pula diberikan pupuk daun, ditambah perekat Agristic.
5) Pemindahan Bibit
Bibit okulasi grafting (penempelan & sambungan) bisa dipindahkan ke lapang pada umur minimal 6 bulan setelah okulasi, dipotong hingga tingginya 80-100 cm & daunnya dirompes.
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Persiapan diperlukan ; persiapan pengolahan tanah & pelaksanaan survai. Tujuannya untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan & biaya diperlukan.
2) Pembukaan Lahan
Tanah diolah dgn cara mencangkul tanah sekaligus membersihkan sisa-sisa tanaman masih tertinggal.
3) Pembentukan Bedengan
Pada tanaman apel bedeng hampir tak diperlukan, tetapi cuma peninggian alu penanaman.
4) Pengapuran
Pengapuran bertujuan untuk menjaga keseimbangan pH tanah. Pengapuran cuma dilakukan apaapabila ph tanah kurang dr 6.
5) Pemupukan
Pupuk diberikan pada pengolahan lahan ; pupuk kandang sebanyak 20 kg per lubang tanam dicampur merata dgn tanah, setelah itu dibiarkan selama 2 minggu.
6.3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Tanaman apel bisa ditanam secara monokultur maupun intercroping. Intercroping cuma bisa dilakukan apaapabila tanah belum tertutup tajuk-tajuk daun or sebelum 2 tahun. Tapi pada saat ini, setelah melalui beberapa penelitian intercroping pada tanaman apel bisa dilakukan dgn tanaman berhabitat
rendah, seperti cabai, bawang & lain-lain. Tanaman apel tak bisa ditanam pada jarak terlalu rapat karena akan menjadi sangat rimbun akan menyebabkan kelembaban tinggi, sirkulasi
udara kurang, sinar matahari terhambat & meningkatkan pertumbuhan penyakit. Jarak tanam ideal untuk tanaman apel tergantung varietas. Untuk varietas Manalagi & Prices Moble ; 3-3.5 x 3.5 m, sedangkan untuk varietas Rome Beauty & Anna bisa lebih pendek yaitu 2-3 x 2.5-3 m.
2. Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang tanam antara 50 x 50 x 50 cm sampai 1 x 1 x 1 m. Tanah atas & tanah bawah dipisahkan, masing-masing dicampur pupuk kandang sekurangkurangnya 20 kg. Setelah itu tanah dibiarkan selama ± 2 minggu, & menjelang tanam tanah galian dikembalikan sesuai asalnya.
3. Cara Penanaman
Penanaman apel dilakukan baik pada musim penghujan or kemarau (di sawah). Untuk lahan tegal dianjurkan pada musim hujan.
Cara penanaman bibit apel ; sebagai berikut:
a. Masukan tanah bagian bawah bibit kedlm lubang tanam.
b. Masukan bibit ditengah lubang sambil diatar perakarannya agar menyebar.
c. Masukan tanah bagian atas dlm lubang sampai sebatas akar & ditambah tanah galian lubang.
d. Apabila semua tanah telah masuk, tanah ditekan-tekan secara perlahan dgn tangan agar bibit tertanam kuat & lurus. Untuk menahan angin, bibit bisa ditahan pada ajir dgn ikatan longgar.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan & penyulaman
Penjarangan tanaman tak dilakukan, sedangkan penyulaman dilakukan pada tanaman mati or dimatikan kerena tak menghasilkan dgn cara menanam tanaman baru menggantikan tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan cuma apabila disekitar tanaman induk terbisa banyak gulma dianggap bisa mengganggu tanaman. Pada kebun ditanami apel dgn jarak tanam rapat (± 3x3 m), peniangan hampir tak perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tak bisa tumbuh.
3) Pembubunan
Penyiangan biasanya diikuti dgn pembubunan tanah. Pembubunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah disekitar tanaman agar tak tergenang air & juga untuk menggemburkan tanah. Pembubunan biasanya dilakukan setelah panen or bersamaan dgn pemupukan.
4) Perempalan/Pemangkasan
Bagian perlu dipangkas ; bibit baru ditanam setinggi 80 cm, tunas tumbuh di bawah 60 cm, tunas-tunas ujung beberapa ruas dr pucuk, 4-6 mata & bekas tangkai buah, knop tak subur, cabang berpenyakit & tak produkrif, cabang menyulitkan pelengkungan, ranting or daun menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai dibisa bentuk diinginkan(4-5 tahun).
5) Pemupukan
a) Pada musim hujan/tanah sawah
1. Bersamaan rompes daun (<>
7. HAMA & PENYAKIT
7.1. Hama
1) Kutu hijau (Aphis pomi Geer)
Ciri: kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, antena pendek, panjang tubuh 1,8 mm, ada bersayap ada pula tidak; panjang sayap 1,7 mm berwarna hitam; perkembangbiakan sangat cepat, telur bisa menetas dlm 3-4 hari. Gejala: (1) nimfa maupun kutu dewasa menyerang dgn mengisap cairan selsel
daun secara berkelompok dipermukaan daun muda, terutama ujung tunas muda, tangkai cabang, bunga, & buah; (2) kutu menghasilkan embun madu akan melapisi permukaan daun & merangsang tumbuhnya jamur hitam (embun jelaga); daun berubah bentuk, mengkerut, leriting, terlambat berbunga, buah-buah muda gugur,bila tak mutu buahpun jelek. Pengendalian: (1) sanitasi kebun & pengaturan jarak tanam (jangan terlalu rapat); (2) dgn musuh alami coccinellidae lycosa; (3) dgn penyemprotan Supracide 40 EC (ba Metidation) dosis 2 cc/liter air or 1-1,6 liter; (4) Supracide 40 EC dlm 500-800 liter/ha air dgn interval penyemprotan 2 minggu sekali; (5) Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) dosis 0,125-0,250 cc/liter air; (6) Convidor 200 SL dlm 600 liter/h air dgn interval penyemprotan 10 hari sekali (7) Convidor ini bisa mematikan sampai telur-telurnya; cara penyemprotan dr atas ke bawah. Penyemprotan dilakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan & dilanjutkan 1-1,5 bulan setelah
bunga mekar sampai 15 hari sebelum panen.
2) Tungau, Spinder mite, cambuk merah (panonychus Ulmi)
Ciri: berwarna merah tua, & panjang 0,6 mm. Gejala: (1) tungau menyerang daun dgn menghisap cairan sel-sel daun; (2) pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning, buram, cokelat, & mengering; (3) pada buah menyebabkan bercak keperak-perakan or coklat. Pengendalian: (1) dgn musah alami coccinellidae & lycosa; (2) penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air or 1 liter Akarisida Omite 570 EC dlm 500 liter air per hektar dgn interval 2 minggu.
3) Trips
Ciri: berukuran kecil dgn panjang 1mm; nimfa berwarna putih kekuningkuningan; dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman; bergerak cepat & apabila tersentuh akan segera terbang menghindar. Gejala: (1) menjerang daun, kuncup/tunas, & buah masih sangat muda; (2) pada daun tampak berbintikbintik
putih, kedua sisi daun menggulung ke atas & pertumbuhan tak normal; (3) daun pada ujung tunas mengering & gugur (4) pada daun meninggalkan bekas luka berwarna coklat abu-abu. Pengendalian: (1) secara mekanis dgn membuang telur-telur pada daun & menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidk
terlalu rapat; (2) penyemprotan dgn insektisida seperti Lannate 25 WP (b.a. Methomyl) dgn dosis 2 cc/liter air or Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dgn dosis 2 cc/liter air pada sat tanaman sedang bertunas, berbunga, & pembentukan buah.
4) Ulat daun (Spodoptera litura)
Ciri: larva berwarna hijau dgn garis-garis abu-abu memanjang dr abdomen sampai kepala.pada lateral larva terbisa bercak hitam berbentuk lingkaran or setengah lingkaran, meletakkan telur secara berkelompok & ditutupi dgn rambut halus berwarna coklat muda. Gejala: menyerang daun, mengakibatkan lubang-lubang tak teratur hingga tulang-tulang daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dgn membuang telur-telur pada daun; (2) penyemprotan dgn penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a Metamidofos) & Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos).
5) Serangga penghisap daun (Helopelthis Sp)
Ciri: Helopelthis Theivora dgn abdomen warna hitam & merah, sedang HelopelthisAntonii dgn abdomen warna merah & putih. Serabgga berukuran kecil. Penjang nimfa baru menetas 1mm & panjang serangga dewasa 6-8mm. Pada bagian thoraknya terbisa benjolan menyerupai jarum. Gejala : menyerang pada pagi, sore or pada saat keadaan berawan; menyerang daun muda, tunas & buah buah dgn cara menhisap cairan sel; daun terserang menjadi coklat & perkembanganya tak simetris; tunas terserang menjadi coklat, kering & akhirnya mati; serangan pada buah
menyebabkan buah menjadibercak-bercak coklat, nekrose, & apaapabila buah membesar, bagian bercak ini pecah menyebebkan kualitas buah menurun. Pengendalian : (1) secara mekanis dgn cara pengerondongan atap plastik/pembelongsongan buah. (2) Penyemprotan dgn insektisida seperti
Lannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC), dilakukan pada sore or pagi hari.
6) Ulat daun hitam (Dasychira Inclusa Walker)
Ciri: Larva mempunyai dua jambul dekat kepala berwarna hitam mengarah kearah samping kepala. Pada bagian ba& terbisa empat jambul adalah keumpulan seta berwarna coklat kehitam-hitaman. Disepanjang kedua sisi tubuh terbisa rambut berwarna ab-abu. Panjang larva 50 mm. Gejala : menyerang daun tua & muda; tanaman terserang tinggal tulang daundaunnya dgn kerusakan 30%; pada siang hari larva bersembunyi di balik daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dgn membuang telur-telur biasanya diletakkan pada daun; (2) penyemprotan insektisida seperti : Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) & Matador 25 EC.
7) Lalat buah (Rhagoletis Pomonella)
Ciri: larva tak berkaki, setelah menetas dr telur (10 hari) bisa segera memakan daging buah. Warna lalat hitam, kaki kekuningan & meletakkan telur pada buah. Gejala: bentuk buah menjadi jelek, tampak benjol-benjol. Pengendalian: (1) penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC; (2) membuat perangkat lalat jantan dgn menggunakan Methyl eugenol sebanyak 0,1 cc ditetesan pad kapas sudah ditetesi insektisida 2 cc. Kapas tersebutkapas tersebut dimasukkan ke botol plastik (bekas air mineral) digantungkan ketinggian 2 meter. Karena aroma mirip bau-bau dikeluarkan betina, maka jantan tertarik & menhisap kapas.
7.2. Penyakit
1) Penyakit embun tepung (Powdery Mildew)
Penyebab : Padosphaera leucotich Salm. Dgn stadia imperfeknya ; oidium Sp. Gejala: (1) pada daun atas akan tampak putih, tunas tak normal, kerdil & tak berbuah; (2) pada buah berwarna coklat, berkutil coklat. Pengendalian: (1) memotong tunas or bagian sakit & dibakar; (2) dgn menyemprotka fungisida Nimrod 250 EC 2,5-5 cc/10 liter air (500liter/Ha) or Afugan 300 EC 0,5-1 cc/liter air (pencegahan) & 1-1,5 cc/liter air setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dgn interval 5-7 hari.
2) Penyakit bercak daun (Marssonina coronaria J.J. Davis)
Gejala : pada daun umur 4-6 minggu setelah perompesan tampak bercak putih tak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dr daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur. Pengendalian: (1) jarak tanam tak terlalu rapat, bagian terserang dibuang & dibakar; (2) disemprot
fungisida Agrisan 60 WP 2 gram/liter air, dosis 1000-2000 gram/ha sejak 10 hari setelah rompes dgn interval 1 minggu sebanyak 10 aplikasi or Delseme MX 200 2 gram/liter air, Henlate 0,5 gram/liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dgn interval 7 hari hingga 4 minggu.
3) Jamur upas (Cortisium salmonicolor Berk et Br)
Pengendalian: mengurangi kelembapan kebun, menghilangkan bagian tanaman sakit.
4) Penyakit kanker (Botryosphaeria Sp.)
Gejala : menyerang batang/cabang (busuk, warna coklat kehitaman, terkadang mengeluarkan cairan), & buah (becak kecil warna cokelat muda, busuk, mengelembung, berair & warna buah pucat. Pengendalian : (1) tak memanen buah terlalu masak; (2) mengurangi kelembapan kebun; (3) membuang bagian sakit; (4) pengerokkan batang sakit lalu diolesi fungisida Difolatan 4 F 100 cc/10 liter air or Copper sandoz; (5) disemprot Benomyl 0,5 gram/liter air, Antracol 70 WP 2 gram/liter air.
5) Busuk buah (Gloeosporium Sp.)
Gejala: bercak kecil cokelat & bintik-bintik hitam berubah menjadi orange. Pengendalian : tak memetik buah terlalu masak & pencelupan dgn Benomyl 0,5 gram/liter air untuk mencegah penyakit pada penyimpanan.
6) Busuk akar (Armilliaria Melea)
Gejala : menjerang tanaman apel pada daerah dingin basah, ditandai dgn layu daun, gugur, & kulit akar membusuk. Pengendalian: dgn eradifikasi, yaitu membongkar/mencabut tanaman terserang beserta akar-akarnya, bekas lubang tak ditanami minimal 1 tahun.8. PANEN
8.1. Ciri & Umur Panen
Pada umumnya buah apel bisa dipanen pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar, tergantung pada varietas & iklim. Rome Beauty bisa dipetik pada umur sekitar 120-141 hari dr bunga mekar, Manalagi bisa dipanen pada umur 114 hari setelah bunga mekar & Anna sekitar 100 hari. Tetapi, pada musim hujan & tempat lebih tinggi, umur buah lebih panjang. Pemanenan paling baik dilakukan pada saat tanaman mencapai tingkat masak fisiologis (ripening), yaitu tingkat dimana buah mempunyai kemampuan untuk menjadi masak normal setelah dipanen. Ciri masak fisiologis buah adalah: ukuran buah tampak maksimal, aroma mulai terasa, warna buah akan tampak cerah segar & apabila ditekan terasa kres.
8.2. Cara Panen
Pemetikan apel dilakukan dgn cara memetik buah dgn tangan secara serempak untuk setiap kebun.
8.3. Periode Panen
Periode panen apel ; enam bulan sekali berdasarkan siklus pemeliharaan telah dilakukan.
8.4. Prakiraan Produksi
Produksi buah apel sangat tergantung dgn varietas, secara umum produksi apel ; 6-15 kg/pohon.
9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
Setelah dipetik, apel dikumpulkan pada tempat teduh & tak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan apel tinggi kualitas & kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dgn hati-hati & jangan ditumpuk & dilempar-lempar, lalu dibawa dgn keranjang ke gudang untuk diseleksi.
9.2. Penyortiran & Penggolongan
Penyortiran dilakukan untuk memisahkan antara buah baik & bebas penyakit dgn buah jelek or berpenyakit, agar penyakit tak tertular keseluruh buah dipanen bisa menurunkan mutu produk. Penggolongan dilakukan untuk mengklasifikasikan produk berdasarkan jenis varietas, ukuran & kualitas buah.
9.3. Penyimpanan
Pada dasarnya apel bisa disimpan lebih lama dibanding dgn buahan lain, misal Rome Beauty 21-28 hari (umur petik 113-120 hari) or 7-14 hari (umur petik 127- 141 hari). Untuk penyimpanan lebih lama (4-7 bulan), harus disimpan pada suhu minus 6-0 derajat C dgn precooling 2,2 derajat C.
9.4. Pengemasan & Transportasi
Kemasan digunakan ; kardus dgn ukuran 48 x 33 x 37 cm dgn berat 35 kg buah apel. Dasar & diatas susunan apel perlu diberi potongan kertas & disusun miring (tangkai sejajar panjang kotak). Dasar kotak diisai 3-3 or 2-2 or berselang 3-2 saling menutup ruang antar buah.
10. ANALISIS EKONOMI CARA BUDIDAYA TANAMAN
10.1.Analisis Usaha Cara Budidaya
Perkiraan analisis Cara Budidaya apel skala 1 hektar selama masa tanam 6 tahun di daerah Jawa Timur tahun 1999.
a) Biaya produksi
1. Sewa lahan 10 tahun @ Rp. 1.000.000,- Rp. 10.000.000,-
2. Bibit 400 tanaman @ Rp. 3.500,- Rp. 1.400.000,-
3. Pupuk kandang
- Tahun ke-1, 67 m3 @ Rp. 15.000,- Rp. 1.005.000,-
- Tahun ke-2, 83 m3 Rp. 1.245.000,-
- Tahun ke-3, 100 m3 Rp. 1.500.000,-
- Tahun ke-4, 125 m3 Rp. 1.875.000,-
- Tahun ke-5, 150 m3 Rp. 2.250.000,-
- Tahun ke-6, 175 m3 Rp. 2.625.000,-
4. Pupuk Urea
- Tahun ke-1, 80 kg @ Rp. 1.410,- Rp. 112.800,-
- Tahun ke-2, 100 kg Rp. 141.000,-
- Tahun ke-3, 145 kg Rp. 204.450,-
- Tahun ke-4, 152 kg Rp. 214.320,-
- Tahun ke-5, 222 kg Rp. 313.020,-
- Tahun ke-6, 333 kg Rp. 469.530,-
5. Pupuk SP 36
- Tahun ke-1, 65 kg @ Rp. 2.055,- Rp. 133.575,-
- Tahun ke-2, 85 kg Rp. 174.675,-
- Tahun ke-3, 100 kg Rp. 205.500,-
- Tahun ke-4, 100 kg Rp. 205.500,-
- Tahun ke-5, 111 kg Rp. 228.105,-
- Tahun ke-6, 166 kg Rp. 341.130,-
6. Pupuk KCl
- Tahun ke-1, 26 kg @ Rp. 2.550,- Rp. 66.300,-
- Tahun ke-2, 50 kg Rp. 127.500,-
- Tahun ke-3, 73 kg Rp. 186.150,-
- Tahun ke-4, 152 kg Rp. 387.600,-
- Tahun ke-5, 333 kg Rp. 849.150,-
- Tahun ke-6, 500 kg Rp. 1.275.000,-
7. Pupuk daun
- Tahun ke-1, 3 liter @ Rp. 54.000,- Rp. 162.000,-
- Tahun ke-2, 6 liter Rp. 324.000,-
- Tahun ke-3, 8 liter Rp. 432.000,-
- Tahun ke-4, 10 liter Rp. 540.000,-
- Tahun ke-5, 10 liter Rp. 540.000,-
- Tahun ke-6, 10 liter Rp. 540.000,-
8. Obat & Pestisida (Antracol, Karathane,Nimrod, Dimecron, dll)
- Tahun ke-1 Rp. 3.000.000,-
- Tahun ke-2 Rp. 4.400.000,-
- Tahun ke-3 Rp. 4.840.000,-
- Tahun ke-4 Rp. 5.668.000,-
- Tahun ke-5 Rp. 8.400.000,-
- Tahun ke-6 Rp. 11.104.000,-
9. Peralatan
- Cangkul 20 buah @ Rp. 15.000,- Rp. 300.000,-
- Sprayer 3 buah @ Rp. 300.000,- Rp. 900.000,-
- Gunting Pangkas 5 buah @ Rp. 50.000,- Rp. 250.000,-
10. Tenaga kerja
- Tenaga tetap 1 orang Rp. 960.000,- Rp. 5.760.000,-
- Pengolahan lahan tahun ke-1 15 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 75.000,-
- Pengolahan lahan tahun ke-2-6, 40 HOK @ Rp. 200.000,- Rp. 1.000.000,-
- Buat lubang tanam 70 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 350.000,-
- Penanaman 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Penyiangan 20 HOK/thn @ Rp. 100.000,- Rp. 600.000,-
- Pemupukan
- Tahun ke-1 & ke-2, 30 HOK @ Rp. 150.000,- Rp. 300.000,-
- Tahun ke-3 40 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 200.000,-
- Tahun ke-4, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke 5, 65 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 325.000,-
- Tahun ke-6, 75 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 375.000,-
- Pengendalian HPT
- Tahun ke-1, 24 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 120.000,-
- Tahun ke-2, 36 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 180.000,-
- Tahun ke-3, 48 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 240.000,-
- Penyemprotan Hama
- Tahun Ke-1, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke-2, 65 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 325.000,-
- Tahun ke-3, 60 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 300.000,-
- Penyemprotan penyakit
- Tahun ke-1, 20 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 100.000,-
- Tahun ke-2, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Tahun ke-3, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Penyabutan batang
- Tahun ke-2, 16 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 80.000,-
- Tahun ke-3, 20 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 100.000,-
- Tahun ke-4, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Tahun ke-5, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke-6, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Pengairan
- Tahun ke-1, 2, 3: 30 HOK/tahun @ Rp. 150.000,- Rp. 450.000,-
- Tahun ke-4, 5, 6: 40 HOK @ Rp. 200.000,- Rp. 600.000,-
- Pemangkasan
- Tahun ke-2, 22 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 110.000,-
- Tahun ke-3, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Tahun ke-4, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke-5, 60 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 300.000,-
- Tahun ke-6, 60 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 300.000,-
Jumlah biaya produksi selama 6 tahun Rp. 83.125.305,-
2) Pendapatan (mulai produksi tahun ke-3)
1. Tahun ke-3: 2.900 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 14.500.000,-
2. Tahun ke-4: 3.825 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 19.125.000,-
3. Tahun ke-5: 4.990 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 24.950.000,-
4. Tahun ke-6: 6.760 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 33.800.000,-
Total pendapatan Rp. 92.375.000,-
3) Keuntungan dlm 6 tahun Rp. 9.249.695,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. B/C ratio = 1,1
Menurut analisis Pudji Santoso dkk (1988) dlm Bambang Sularso menunjukan bahwa BEP usaha tani apel pada tanah sawah Rp. 33.916.000 & untuk tanah tegal Rp. 45.034.000 bisa dicapai pada skala minimum seluas 0,164 ha (sawah) & 0,39 ha (tegal). Hal ini berarti bahwa apabila petani menanam apel lebih dr skala minimum tersebut, petani telah mendapatkan keuntungan.
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Dr segi agribisnis, apel tergolong tanaman sangat komersial. Hal ini didukung oleh beberapa alasan yaitu:
1) Iklim: Apel adalah tanaman selektif. Artinya apel adalah tanaman cuma bisa tumbuh & berkembang dgn baik pada daerah-daerah tertentu iklimnya menunjang. Di dunia tanaman apel banyak diproduksi oleh negara-negara empat musim, sedangkan didaerah tropis cuma beberapa daerah berhasil misalnya Malang.
2) Pasar apel Indonesia; selama ini pasar apel Indonesia dipenuhi melalui impor dr negara-negara Eropa & Australia. Sejak bekembangnya apel di Indonesia pasar ini sedikit demi sedikit diambil alih oleh produksi dlm negeri. Hal ini bisa dilihat data BPS menunjukkan peningkatan produksi apel nasional 7.303.372 ton (1984) menjadi 9.046.276 ton (1988) or meningkat 17,5%. Target akhir ; pemenuhan konsumsi nasional & ekspor.
3) Faktor lain; yaitu pengembangan apel sebagai komoditi agrowisata & pengembangan makanan olahan dr apel seperti jenang apel & jelli apel.
11. STANDAR PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup
Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh & cara pengemasan.
11.2.Diskripsi
…
11.3.Klasifikasi & Standar Mutu
Standar mutu selama ini berlaku:
a) Grade A = 15,9% (31-4 buah/kg)
b) Grade B = 45,2% (5-7 buah/kg)
c) Grade C = 29,6% (8-10 buah/kg)
d) Grade D = 7,0% (11-15 buah/kg)
11.4.Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dr jumlah kemasan seperti tampak di bawah ini. Dr setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 buah dr bagian atas, tengah & bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (startified random sampling) sampai diperoleh minimum 20 buah untuk dianalisis.
a. Jumlah kemasan dlm partai (lot) sampai dgn 100, contoh diambil 5.
b. Jumlah kemasan dlm partai (lot) 101 sampai dgn 300, contoh diambil 7.
c. Jumlah kemasan dlm partai (lot) 301-500, contoh diambil 9.
d. Jumlah kemasan dlm partai (lot) 501-1000, contoh diambil 10.
e. Jumlah kemasan dlm partai (lot) lebih dr 1000, contoh diambil 15 (minimum).
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang berpengalaman or dilatih lebih dahulu & mempunyai ikatan dgn ba& hukum.
11.5.Pengemasan
Buah apel dikemas dgn peti kayu/bahan lain sesuai dgn berat bersih maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label bertuliskan antara lain : nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih, negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.
Sumber :http://infopekalongan.com