Wednesday, June 11, 2008

Cara Budidaya Melati

Melati adalah tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak hidup menahun. bunga MelatiDi Italia melati casablanca (Jasmine officinalle), disebut Spansish Jasmine ditanam tahun 1692 untuk di jadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris diCara Budidayakan melati putih (J. sambac) diperkenalkan oleh Duke Casimo de’ Meici. Dlm tahun 1919 ditemukan melati J. parkeri di kawasan India Barat Laut, Kemudian diCara Budidayakan di Inggris pada tahun 1923.

Di Indonesia nama melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Nama-nama daerah untuk melati ; Menuh (Bali), Meulu cut or Meulu Cina (Aceh), Menyuru (Banda), Melur (Gayo & Batak Karo), Manduru (Menado), Mundu (Bima & Sumbawa) & Manyora (Timor), serta Malete (Madura).

JENIS TANAMAN
Diantara 200 jenis melati telah diidentifikasi oleh para ahli botani baru sekitar 9 jenis melati umum diCara Budidayakan & terbisa 8 jenis melati potensial untuk dijadikan tanaman hias. Sebagian besar jenis melati tumbuh liar di hutan-hutan karena belum terungkap potensi ekonomis & sosialnya. Tanaman melati termasuk suku melati-melatian or famili Oleaceae.

Kedudukan tanaman melati dlm sistematika/taksonomi tumbuhan ; sebagai berikut: Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Oleales
Famili : Oleaceae
Genus : Jasminum
Species : Jasminum sambac (L) W. Ait..


Jenis, Varietas & Ciri-ciri penting (karakteristik) tanaman melati ; sebagai berikut:

a) Jasmine sambac Air (melati putih, puspa bangsa)
b) Jasmine multiflora Andr (melati hutan:melati gambir, poncosudo, Star Jasmine, J,. pubescens willd).
c) Jasmine officinale (melati casablanca, Spanish Jasmine) sinonim dgn J. floribundum=Jasmine grandiflorum).
perdu setinggi 1, 5 meter.
d) Jasmine rex (melati Raja, King Jasmine).
e) Jasmine parkeri Dunn (melati pot).
f) Jasmine mensyi (Jasmine primulinum, melati pimrose).
g) Jasmine revolutum Sims (melati Italia)
h) Jasmine simplicifolium ( melati Australia, J. volibile, m. bintang)
i) Melati hibrida. Bunga pink & harum.


Adapun jenis & varietes Melati ada di Pulau Jawa antara lain:a) Jasmine. Sambac (melati Putih), antara lain varietas:

a)Maid of Orleans, Grand Duke of Tuscany, Menur & Rose Pikeke
b) Jasmine. multiflorum (Star Jasmine)
c) Jasmine officinale (melati Gambir)

3. MANFAAT TANAMAN
Bunga melati bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga & bahan campuran or pengharum teh.


4. SENTRA PENANAMAN
Di Indonesia Pusat penyebaran tanaman melati terkonsentrasi di Jawa Tengah, terutama di Kabupaten Pemalang, Purbalingga & Tegal.


5. SYARAT PETUMBUHAN


5.1. Iklim
1. Curah hujan 112–119 mm/bulan dgn 6–9 hari hujan/bulan, serta mempunyai iklim dgn 2–3 bulan kering & 5–6 bulan basah.
2. Suhu udara siang hari 28-36 C & suhu udara malam hari 24-30 C,
3. Kelembaban udara (RH) cocok untuk Cara Budidaya tanaman ini 50-80 %.
4. Selain itu pengembangan budi daya melati paling cocok di daerah cukup menbisa sinar matahari.

5.2. Media Tanam
1. Tanaman melati umumnya tumbuh subur pada jenis tanah Podsolik Merah Kuning (PMK), latosol & andosol.
2. Tanaman melati membutuhkan tanah bertekstur pasir sampai liat, aerasi & drainase baik, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik & memiliki.
3. Derajat keasaman tanah baik bagi pertumbuhan tanaman ini ; pH=5–7.

5.3. Ketinggian Tempat
Tanaman melati bisa tumbuh & berproduksi dgn baik di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 10-1.600 m dpl. Meskipun demikian, tiap jenis melati mempunyai daya adaptasi tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Melati putih (J,sambac) ideal ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl, sedangkan melati Star Jasmine (J.multiflorum) bisa beradaptasi dgn baik hingga ketinggian 1.600 m dpl. Di sentrum produksi melati, seperti di Kabupaten Tegal, Purbalingga & Pemalang (Jawa Tengah), melati tumbuh dgn baik di dataran rendah sampai dataran menengah (0-700 m dpl).

6. PEDOMAN CARA BUDIDAYA


6.1. Pembibitan Teknik Penyemaian Benih
Tancapkan tiap stek pada medium semai 10–15 cm/sepertiga dr panjang stek. Tutup permukaan wadah persemaian dgn lembar plastik bening (transparan) agar udara tetap lembab.
Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
a) Penyiapan tempat semai: - Siapkan tempat/wadah semai berupa pot berukuran besar/polybag, medium semai (campuran tanah, pasir steril/bersih).
- Periksa dasar wadah semai & berilah lubang kecil untuk pembuangan air berlebihan.
- Isikan medium semai ke dlm wadah hingga cukup penuh/setebal 20–30 cm. Siram medium semai dgn air bersih hingga basah.

b) Pemeliharaan bibit stek: - Lakukan penyiraman secara kontinu 1–2 kali sehari.
- Usahakan bibit stek menbisa sinar matahari pagi.
- Pindahkan tanaman bibit stek sudah berakar cukup kuat (umur 1–23 bulan) ke dlm polybag berisi medium tumbuh campuran tanah, pasir & pupuk organik (1:1:1).
- Pelihara bibit melati secara intensif (penyiraman, pemupukan & penyemprotan pestisida dosis rendah) hingga bibit berumur 3 bulan.


Pemeliharaan bibit steka) Ambil (angkat) biji-biji mawar dr buah telah membusuk dlm media semai.
b) Pilih biji-biji mawar baik, yaitu bernas tenggelam apabila dimasukkan ke dlm air
c) Cuci biji mawar dgn air bersih.
d) Tiriskan biji-biji mawar terpilih ditempat teduh untuk segera disemaikan pada bak persemaian.
e) Semaikan biji mawar secara merata menurut barisan pada jarak antar-baris 5- 10 cm. Biji akan berkecambah pada umur empat minggu setelah semai.

Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaiana) Siram media persemaian mawar secara kontinu 1-2 kali sehari.
b) Sapih (perjarang) bibit mawar sudah cukup besar ke dlm polybag kecil sudah diisi media campuran tanah, pasir & pupuk organik (1:1:1).

Pemindahan Bibit
Pindahkan tanam bibit mawar sudah berumur 22 bulan ke kebun/tempat penanaman tetap (permanen)

6.2. Pengolahan Media Tanam Pembukaan Lahan a) Bersihkan lokasi untuk kebun melati dr rumput liar (gulma), pepohonan tak berguna/batu-batuan agar mudah pengelolaan tanah.
b) Olah tanah dgn cara di cangkul/dibajak sedlm 30-40 cm hingga gembur, kemudian biarkan kering angin selama 15 hari


Pembentukan Bedengan
Membentuk bedgn selebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antara bedeng 40–60 cm & panjang disesuaikan dgn kondisi lahan.

Pengapuran
Tanah pH-nya masam bisa diperbaiki melalui pengapuran, misalnya dgn kapur kalsit (CaCO3) dolomit {CaMg (CO3)2}, kapur bakar (Quick lime, CaO)/kapur hidrat (Slakked lime,{Ca(OH)2}. Fungsi/kegunaan pengapuran tanah masam ; untuk menaikan pH tanah, serta untuk menambah unsur-unsur Ca & Mg.

Pemupukan
Tebarkan pupuk kandang di atas permukaan tanah, kemudian campurkan secara merata dgn lapisan tanah atas. Pupuk kandang dimasukkan pada tiap lubang tanam sebanyak 1-3 kg. Dosis pupuk kandang berkisar antara 10-30 ton/hektar.
Lubang tanam dibuat ukuran 40 x 40 x 40 cm dgn jarak antar lubang 100-150 cm. Penyiapan lahan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau/1-2 bulan sebelum musim hujan.

6.3. Teknik Penanaman Penentuan Pola Tanam
Sebulan sebelum tanam, bibit melati diadaptasikan dulu disekitar kebun. Lahan kebun siap ditanami diberi pupuk dasar terdiri atas 3 gram TSP ditambah 2 gram KCI per tanaman. Apabila tiap hektar lahan terbisa sekitar 60.000 lubang tanam (jarak tanam 1,0 m x 1,5 m), kebutuhan pupuk dasar terdiri atas 180 kg TSP & 120 kg KCI. Bersama pemberian pupuk dasar bisa ditambahkan “pembenah & pemantap tanah “ misalnya Agrovit, stratos/asam humus Gro-Mate .

Pembuatan Lubang Tanam
Bibit melati dlm polybag disiram medium tumbuh & akar-akarnya. Tiap lubang tanam ditanami satu bibit melati. Tanah dekat pangkal batang bibit melati dipadatkan pelan-pelan agar akar-akarnya kontak langsung dgn air tanah.

Cara Penanaman
Jarak tanam bisa bervariasi, tergantung pada bentuk kultur Cara Budidaya, kesuburan tanah & jenis melati ditanam, bentuk kultur perkebunan jarak tanam umumnya ; 1 x 1,5 m, sedang variasi lainnya ; 40 x 40 cm, 40 x 25 cm & 100 x 40 cm.

6.4. Pemeliharaan Tanaman Penjarangan & Penyulaman.
Cara penyulaman ; dgn mengganti tanaman mati/tumbuhan abnormal dgn bibit baru. Teknik penyulaman prinsipnya sama dgn tata laksana penanaman, cuma saja dilakukan pada lokasi/blok/lubang tanam bibitnya perlu diganti. Periode penyulaman sebaiknya tak lebih dr satu bulan setelah tanam. Penyulaman seawal mungkin bertujuan agar tak menyulitkan pemeliharaan tanam berikutnya & pertumbuhan tanam menjadi seragam. Waktu penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari, saat sinar matahari tak terlalu terik & suhu udara tak terlalu panas.

Penyiangan
Pada umur satu bulan setelah tanam, kebun melati sering ditumbuhi rumput-rumput liar (gulma). Rumput liar ini menjadi pesaing tanaman melati dlm pemenuhan kebutuhan sinar matahari, air & unsur hara.

Pemupukan
Pemupukan tanaman melati dilakukan tiap tiga bulan sekali. Jenis & dosis pupuk digunakan terdiri atas Urea 300-700 kg, STP 300-500 kg & KCI 100-300 kg/ha/tahun.

Pemberian pupuk bisa dilakukan dgn cara disebar merata dlm parit di antara barisan tanaman/sekeliling tajuk tanaman sedlm 10-15 cm, kemudian ditutup dgn tanah. Pemupukan bisa pula dgn cara memasukan pupuk ke dlm lubang tugal di sekeliling tajuk tanaman melati. Waktu pemupukan ; sebelum melakukan pemangkasan, saat berbunga, sesuai panen bunga & pada saat pertumbuhan kurang prima.

Pemberian pupuk bisa meningkatkan produksi melati, terutama jenis pupuk kaya unsur fosfor (P), seperti Gandasil B (6-20-30)/Hyponex biru (10-40-15) & waktu penyemprotan pupuk daun dilakukan pada pagi hari (Pukul 09.00) or sore hari (pukul 15.30-16.30) or ketika matahari tak terik menyengat.

Pengairan & Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, tanaman melati membutuhkan ketersediaan air memadai. Pengairan perlu secara kontinyu tiap hari sampai tanaman berumur kurang lebih 1 bulan. Pengairan dilakukan 1-2 kali sehari yakni pada pagi & sore hari. Cara pengairan ; dgn disiram iar bersih tiap tanam hingga tanah di sekitar perakaran cukup basah.

Waktu Penyemprotan Pestisida
Zat perangsang/zat pengatur Tumbuh (ZPT) bisa digunakan untuk mempertahankan & meningkatkan produksi bunga, zat perangsang bunga berpengaruh baik terhadap pembungaan melati ; Cycocel (Chloromiguat) & Etherel. Tanaman melati di semprot dgn Cycocel berkonsentrasi 5.000 ppm memberikan hasil bunga paling tinggi, yakni 1,45 kg/ tanaman.

Cara pemberiannya: zat perangsang bunga disemprotkan pada seluruh bagian tanaman, terutama bagian ujung & tunas-tunas pembungaan. Konsentrasi dianjurkan 3.000 ppm–5.000 ppm untuk Cycocel or 500-1.500 ppm apabila digunakan Ethrel.

Lain-lain
Tanaman melati umumnya tumbuh menjalar, kecuali pada beberapa jenis melati, seperti varietas Grand Duke of tuscany tipe pertumbuhannya tegak. Tinggi pemangkasan amat tergantung pada jenis melati, jenis melati putih (J.sambac) bisa di pangkas pada ketinggian 75 cm dr permukaan tanah, sedangkan jenis melati Spnish Jasmine (J. officinale var. grandiflorum) setinggi 90 cm dr permukaan tanah.


7. HAMA & PENYAKIT
Tanaman melati tak luput dr gangguan hama & penyakit, prinsip pokok & prioritas teknologi pengendalian hama/penyakit. a Pengendalian hayati dilakukan secara maksimal dgn memanfaatkan musuh-musuh alami hama (parasitoid, perdator, patogen) dgn cara: - memasukan, memelihara, memperbanyak, melepaskan musuh alami
- mengurangi penggunaan pestisida organik sintetik berspektrum lebar/menggunakan pestisida selektif.

b Ekosistem pertanian dikelola dgn cara: - penggunaan bibit sehat
- sanitasi kebun
- pemupukan berimbang
- pergiliran tanaman baik
- penggunaan tanaman perangkap,

c Pestisida digunakan secara selektif berdasarkan hasil pemantauan & analisis ekosistem.

7.1. Hama
1.
Ulat palpita (Palpita unionalis Hubn)
Hama ini termasuk ordo Lepidoptera & famili Pyralidae, Stadium hama merusak tanaman melati ; larva (ulat).
Pengendalian: dilakukan dgn cara memotong bagian tanaman terserang berat & menyemprotkan insektisida mangkus & sangkil, misalnya Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 E/Curacron 500 EC .
2. Penggerek bunga (Hendecasis duplifascials)
Hama ini termasuk ordo Lepidoptera & famili Pyralidae.
Gejala: menyerang tanaman melati dgn cara menggerek/melubangi bunga sehingga gagal mekar. Kuntum bunga terserang menjadi rusak & kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh cendawan hingga menyebabkan bunga busuk.
Pengendalian: disemprot dgn insektisida mangkus, misalnya Decis 2,5 EC, Cascade 50 EC/Lannate L .
3. Thips (Thrips sp)
Thrips termasuk ordo Thysanoptera & famili Thripidae. Hama ini bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag).
Gejala: menyerang dgn cara mengisap cairan permukaan daun, terutama daun-daun muda (pucuk).
Pengendalian: dilakukan dgn cara mengurangi ragam jenis tanaman inang di sekitar kebun melati & menyemprotkan insektisida mangkus : Mesurol 50 WP, Pegasus 500 SC/Dicarzol 25 SP .
4. Sisik peudococcus (Psuedococcus longispinus)
Hama ini termasuk ordo Pseudococcidae & famili Homoptera hidup secara berkelompok pada tangkai tunas & permukaan daun bagian bawah hingga menyerupai sisik berwarna abu-abu or kekuning-kuningan.
Gejala: menyerang tanaman dgn cara mengisap cairan sel tanaman & mengeluarkan cairan madu.
Pengendalian: dilakukan dgn menyemprotkan insektisida mangkus, misalnya Bassa 500 EC/Nogos 50 EC.
5. Ulat nausinoe (Nausinoe geometralis)
Hama ini termasuk ordo Lepidoptera & famili Pyralidae.
Ciri: ngengat berwarna coklat dgn panjang ba& rata-rata 12 mm & panjang rentang sayap kurang lebih 24 mm berwarna coklat & berbintik-bintik transparan.
Gejala: menyerang daun tanaman melati identik (sama) dgn serangan ulat P. unionalis.
6. Hama Lain
Hama lain sering ditemukan ; kutu putih (Dialeurodes citri) & kutu tempurung (scale insects). Bergerombol menempel pada cabang, ranting & pucuk tanaman melati, menyerang dgn cara mengisap cairan sel, sehingga proses fotosintesis (metabolisme).
Pengendalian dilakukan dgn menyemprotkan insektisida mangkus, seperti Perfekthion 400 EC/Decis 2,5 EC.

7.2. Penyakit 1. Hawar daun
Penyebab: cendawan (jamur) Rhizcotonia solani Kuhn.
Gejala: menyerang daun letaknya dekat permukaan tanah.
2. Hawar benang (Thread Blight)
Penyebab: jamur Marasmiellus scandens (Mass).
Gejala: menyerang bagian cabang tanaman melati.
3. Hawar bunga (Flower Blight)
Penyebab: cendawan (jamur) Curvularia sp. Fusarium sp & Phoma sp,.
Gejala: bunga busuk, berwarna coklat muda & kadang-kadang bunga berguguran.
4. Jamur upas
Penyebab: jamur Capnodium salmonicolor. Penyakit ini menyerang batang & cabang tanaman melati berkayu.
Gejala: terjadi pembusukan tertutup oleh lapisan jamur berwarna merah jambu pada bagian tanaman terinfeksi apnodium sp. & Meliola jasmini Hansf. et Stev. Gejala serangan capnodium ; permukaan atas daun tertutup oleh kapang jelaga berwarna hitam merata.
5. Bercak daun
Penyebab: jamur Pestaloita sp. Gejala: bercak-bercak berwarna coklat sampai kehitam-hitaman pada daun.
6. Karat daun (Rust)
Penyebab: ganggang hijau parasit (Cephaleuros virescens Kunze).
Gejala: pada permukaan daun terserang akan tampak bercak-bercak kemerah-merahaan & berbulu. Penyakit ini umumnya menyerang daun-daun tua.
7. Antraknosa
Penyebab: jamur Colletotrichum gloesporoides.
Gejala : terbentuk bintik-bintik kecil berwarna kehitam-hitaman. Bintik-bintik tersebut membesar & memanjang berwarna merah jambu, terutama pada bagian daun. Serangan berat bisa menyebabkan mati ujung (die back).
8. Penyakit lain
Busuk bunga oleh bakteri Erwinia tumafucuens. Bintil akar oleh nematoda Meloidogyne incognito, penyebab abnormilitas perakaran tanaman. Virus kerdil penyebab terhambatnya pertumbuhan tanaman melati, belang-belang daun & kadang-kadang seluruh ranting & pucuk menjadi kaku.


8. P A N E N
8.1. Ciri & Umur Tanaman Berbunga
Ciri-ciri bunga melati sudah saatnya dipanen ; ukuran kuntum bunga sudah besar (maksimal) & masih kuncup/setengah mekar. Produksi bunga melati di Indoensia masih rendah yakni berkisar antara 20-25 kg/hektar/hari.
Tanaman melati mulai berbunga pada umur 7-12 bulan setelah tanam. Panen bunga melati bisa dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali sampai umur tanaman antara 5-10 tahun. Setiap tahun berbunga tanaman melati umumnya berlangsung selama 12 minggu (3 bulan).
8.2. Cara Panen
Pemetikan bunga melati sebaiknya dilakukan pada pagi sore, yakni saat sinar matahari tak terlalu terik/suhu udara tak terlalu panas.
8.3. Periode Panen
Hasil panen bunga melati terbanyak berkisar antara 1-2 minggu. Selanjutnya, produksi bunga akan menurun & 2 bulan kemudian meningkat lagi
8.4. Prakiraan Produksi
Produksi bunga melati paling tinggi biasanya pada musim hujan, di Jawa Tengah, panen bunga melati pada musim kemarau menghasilkan 5–10 kg/hektar, sedangkan panen pada musim hujan mencapai 300-1.000kg/ha. Data produksi bunga melati di Indonesia berkisar 1,5–2 ton/ha/th pada musim hujan & 0,7-1 ton/ha/th pada musim kemarau.

9. PASCA PANEN
9.1. Pengumpulan
Di tempat terbuka bunga melati akan cepat layu untuk mempertahankan/memperpanjang kesegaran bunga tersebut dihamparkan dalam
tampah beralas lembar plastik kemudian disimpan di ruangan bersuhu udara dingin antara 0-5 C.
9.2. Lain-lain
Salah satu produk pengolahan pascapanen bunga melati ; Jasmine Oil. a) Minyak melati istimewa, yakni minyak diekstraksi dr bunga melati dgn pelarut ether minyak bumi, sebagai bahan baku minyak wangi mutu tinggi.
b) Minyak melati biasa, yakni minyak diekstraksi dr bunga melati dgn pelarut benzole, sebagai bahan baku minyak wangi mutu sedang.
c) Minyak pomade istimewa, yakni minyak diperoleh dgn teknik enfleurage bunga melati, sebagai bahan baku minyak rambut.
d) Minyak pomade biasa, yakni minyak diekstraksi dr bunga melati bekas enfleurage, sebagai pewangi teknis.


Teknik enfleurage disebut teknik olesan. Prinsip kerja ekstraksi bunga melati dgn teknik olesan ; sebagai berikut:a) Oleskan lemak muri pada permukaan kaca tipis.
b) Letakan bunga melati masih segar (baru petik) diatas permukaan kaca .
c) Simpan kaca tipis bersama bunga melati dlm rak-rak penyimpanan terbuat dr plastik, kayu/logam tahan karat.
d) Biarkan bunga melati selama 3-4 hari sampai bunga tersebut layu.
e) Bunga melati telah layu segera dibuang untuk diganti dgn bunga-bunga baru/masih segar.
f) Lakukan cara tadi secara berulang-ulang selama 2-3 bulan hingga lemak dipenuhi minyak wangi bunga melati.


Teknik ekstraksi minyak melati bisa dilakukan dgn teknik tabung hampa. a) Masukan bunga melati segar ke dlm tabung, kemudian alirkan bahan pelarut (alkohol, ether, chlorofrom, ecetone, lemak murni, ether minyak bumi) secara berkesinambungan.
b) Salurkan cairan ekstrak mengandung bahan pelarut & unsur-unsur bunga melati ke tabung hampa udara dipanaskan sekedarnya untuk menguapkan bahan pelarut. Uap pelarut diallirkan kembali ke kondensor agar menjadi cairan.
c) Tambahkan ethanol ke dlm unsur bunga melati. Unsur bunga melati biasanya berupa lilin padat (concrete) masih mengandung zat pewarna, damar & unsur lain tak menguap.
d) Campurkan minyak tadi dgn alkohol kemudian saring kembali untuk menghilangkan kandungan damar.
e) Lakukan penyulingan absolut dgn menggunakan sthlene glycol penyinaran dgn sinar ultra violet untuk menghilangkan zat pewarna.


10. ANALISIS EKONOMI CARA BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Cara Budidaya
Perkiraan analisa Cara Budidaya tanaman melati seluas 0,5 ha dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor.

1) Biaya produksi a. Sewa lahan 0,5 ha Rp. 750.000,-
b. Bibit Rp. 190.000,-
c. Pupuk Rp. 325.000,-
d. Pestisida Rp. 50. 000,-
e. Tenaga kerja Rp. 6.425.000,-
f. Alat (penyusunan alat-alat) Rp. 50.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 7.790.000,-


2) Pendapatan 15.555 kg @ Rp. 850,- Rp.12.750.000,-
3) Keuntungan Bersih Rp. 4.960.000,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Rasio output/input
2. ROI
3. BEP
= 1,637
= 0.698
= Rp, 1.696.352,84,-

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Pengembangan usaha tani melati skala komersial mempunyai prospek cerah & peluang pasarnya bagus. Tiap hari untuk keperluan tabur bunga dibutuhkan 600 kilogram bunga melati. Pasar potensial bunga melati ; Jepang, Korea, Thailand, Taiwan & Hongkong. Nilai ekonomi bunga melati semakin dibutuhkan dlm kehidupan maju (modern) untuk bahan baku industri minyak wangi, kosmetik, pewangi, penyedap the, cat, tinta, pestisida, pewangi sabun & industri tekstil.

Meski peluang pasar bunga melati di dlm & luar negeri cukup besar, produksi bunga melati Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 2% dr kebutuhan melati pasar dunia. Penomena ini menunjukan peluang perlu dimanfaatkan dgn baik di Indonesia karena potensi sumber daya lahan amat luas & agroekologinya cocok untuk tani melati.

Hasil studi agribisnis melati dilakukan oleh pusat Penelitian & Pengembangan Hortikultura di daerah setrum produksi Tegal (Jawa Tengah) menunjukan bahwa usaha tani melati menguntungkan & layak dikembangkan.

11. STANDAR PRODUKSI
11.1. Ruang Lingkup
Standar melati meliputi ruang lingkup, deskripsi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan & pengemasan.
11.2. Diskripsi
---
11.3. Klasifikasi & Standar Mutu
Mutu & pengepakan bunga untuk ekspor ke pasaran Internasional sangat ditentukan oleh negara pengimpor.
11.4. Pengambilan Contoh
Satu partai/lot bunga melati segar terdiri atas maksimum 1.000 kemasan. Contoh diambil secara acak dr jumlah kemasan. a) Jumlah kemasan dlm partai 1 – 5, contoh diambil semua.
b) Jumlah kemasan dlm partai 6 – 100, contoh diambil sekurang-kurangnya 5.
c) Jumlah kemasan dlm partai 101 – 300, contoh diambil sekurangkurangnya 7.
d) Jumlah kemasan dlm partai 301 – 500, contoh diambil sekurangkurangnya 9.
e) Jumlah kemasan dlm partai 501 – 1000, contoh diambil sekurangkurangnya 10.

11.5 Pengemasan
Bunga melati segar dikemas dgn kotak karton baru & kokoh, baik, bersih & kering serta berventilasi. Jumlah tangkai sebanyak 15-20 tangkai diikat & dibungkus. Kemudian dimasukkan ke dlm kemasan karton. Kemasan lain dgn bobot & jumlah tangkai tertentu bisa digunakan atasdasar kesepakatan antara pihak penjual & pihak pembeli. Ujung tangkai bunga dimasukkan ke dlm kantong plastik berisi kapas basah mengandung bahan pengawet.

12. DAFTAR PUSTAKA
1. Rukmana H. Rahmat (1997). Usaha Tani Melati, Yogyakarta, Kanisus

http://www.rawabelong.com

0 comments: