Monday, June 9, 2008
Cara Budidaya Ikan Bandeng
Ikan bandeng adalah ; satu jenis ikan penghasil protein hewani tinggi. Usaha intensifikasi Cara Budidaya perlu dilakukan karena rendahnya produktivitas bandeng dgn Cara Budidaya tradisional. Peningkatan sistem Cara Budidaya juga harus diikuti dgn penggunaan teknologi baru.
II. Sifat Biologis.
Bandeng termasuk golongan ikan herbivora , yaitu bangsa ikan mengkonsumsi tumbuhan. Mampu mencapai berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5 - 6 bulan dgn pemeliharaan intensif.
III. Penyediaan Benih.
Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dgn mutu baik dilakukan dgn sistem pembenihan intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran & kolam pembsaran. Dlm pembenihan bandeng langkah dilakukan ; :
1. Pemilihan induk unggul . Induk unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya :
- bentuk normal, perbandingan panjang & berat ideal.
- ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
- susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tak ada luka.
- gerakan lincah & normal.
- umur antara 4 5 tahun.
2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad bisa dipercepat dgn penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`
3. Memijahkan. Pemijahan ; pencampuran induk jantan & berina telah matang sel sperma & sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan
4. Penetasan. Telur mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dr awal pemijahan. Telur telah menetas akan menjadi larva masih mempunyai cadangan makanan dr kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.
5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dgn pemupukan & pengapuran. Pemupukan tepat ; dgn pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl & lain-lain, juga dilengkapi dgn asam humat & vulvat mempu memperbaiki tekstur & meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dgn dosis 5 botol TON/ha or 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan diberikan berupa tepung dgn kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dgn NASA dgn dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S & lain-lain, vitamin, protein & lemak untuk meningkatkan pertumbuhan & kesehatan nener.
IV. Pembesaran.
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :
1. Persiapan lahan.
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan dilakukan selama persiapan lahan ; :
- Pencangkulan & pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa & gas beracun sisa Cara Budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dr pakan maupun dr kotoran. Selain itu dgn menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dgn baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
- Pengapuran. Selama Cara Budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan & pembusukan bahan organik selama Cara Budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri & jamur pembawa penyakit mati karena sulit bisa hidup pada pH tersebut. Pengapuran dgn kapur tohor, dolomit or zeolit dgn dosis 1 TON /ha or 10 kg/100 m2.
- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan ; memberikan unsur hara diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah & menghambat peresapan air pada tanah-tanah tak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON mengandung unsur-unsur mineral penting, & asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan & pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON ; 5 botol/ha or 25 gr/100 m2.
- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dgn TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm or menyesuaikan dgn kedalaman kolam.
2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) & kecerahan sedlm 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dgn hati-hati dgn adaptasi terhadap lingkungan baru.
3. Pemberian Pakan. Sesuai dgn sifat bandeng termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan ada di kolam. Tumbuhan disukai bandeng ; lumut, ganggang & klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dgn standar nutrisi dibutuhkan untuk tumbuh optimal dgn kadar protein .minimal 25 - 28 %.
Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dlm pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dr sumber tumbuhan or nabati dr tepung kedelai or bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan ; : Jumlah pakan 5 - 7% dr berat badan. Waktu pemberian 3 - 5 kali sehari.
Penambahan NASA pada pakan buatan adalah pilihan tepat untuk meningkatkan pertumbuhan & ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak & vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dgn pakan buatan ; 2 - 5 cc/kg pakan dgn cara :
1. Timbang pakan sesuai dgn kebutuhan bandeng.
2. Basahi pakan dgn sedikit air agar pencampuran dgn NASA bisa merata.
3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan diberikan dgn dosis 2 - 5 cc/kg pakan.
4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dgn menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng bisa pakan.
V. Pengendalian hama & Penyakit.
Penyakit penting sering menyerang bandeng ; :
1. Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dr bagian tepi.
2. Vibriosis. Disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp , gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, & bagian perut bengkak oleh cairan.
3. Penyakit oleh Protozoa. Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir.
4. Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat & berlendir.
Penyakit dr bakteri, parasit & jamur disebabkan lingkungan buruk, & penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik & pencemaran lingkungan dr aliran sungai.. Bahan organik & kotoran akan membusuk & manghasilkan gas-gas berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya. Maka cara pengendalian penyakit harus menitikberatkan pada kedua faktor tersebut. Untuk mengatasi penurunan kualitas lingkungan bisa dilakukan perlakuan TON dgn dosis 5 botol/ha or 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 mengandung unsur mineral & asam-asam organik penting mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dlm kolam & unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dlm jumlah ideal, perlu diberikan pakan dgn standar protein sesuai serta dgn penambahan/pencampuran NASA pada pakan buatan. NASA dgn kandungan mineral-mineral penting, vitamin, asam organic, protein & lemak akan menambah & melengkapi nutrisi pakan, sehingga ketahanan tubuh untuk hidup & berkembang selalu tercukupi.
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Udang
Cara Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, & mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu adalah penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995 produksi udang windu mulai mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh penurunan mutu lingkungan & serangan penyakit.
II. Teknis Cara Budidaya
Cara Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :
2.1. Syarat Teknis
- Lokasi cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai mempunyai tanah bertekstur liat or liat berpasir mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air & tak mudah pecah.
- Air baik yaitu air payau dgn salinitas 0-33 ppt dgn suhu optimal 26 - 300C & bebas dr pencemaran bahan kimia berbahaya.
- Mempunyai saluran air masuk/inlet & saluran air keluar/outlet terpisah.
- Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan & lain-lain.
- Pada tambak intensif harus tersedia aliran listrik dr PLN or mempunyai Generator sendiri.
2.2. Tipe Cara Budidaya.
Berdasarkan letak, biaya & operasi pelaksanaannya, tipe Cara Budidaya dibedakan menjadi :
- Tambak Ekstensif or tradisional.
Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut umumnya berupa rawa bakau. Ukuran & bentuk petakan tak teratur, belum meggunakan pupuk & obat-obatan & program pakan tak teratur.
- Tambak Semi Intensif.
Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.
- Tambak Intensif.
Lokasi di daerah khusus untuk tambak dlm wilayah luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air & pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan baik.
2.3. Benur
. Benur baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan tinggi, berwarna tegas/tak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat & mempunyai alat tubuh lengkap. Uji kualitas benur bisa dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dlm wadah panci or baskom diberi air, aduk air dgn cukup kencang selama 1-3 menit. Benur baik & sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dgn berenang melawan arus putaran air, & setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.
2.4. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan, meliputi :
- Pengangkatan lumpur. Setiap Cara Budidaya pasti meninggalkan sisa Cara Budidaya berupa lumpur organik dr sisa pakan, kotoran udang & dr udang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun membahayakan udang. Pengeluaran lumpur bisa dilakukan dgn cara mekanis menggunakan cangkul or penyedotan dgn pompa air/alkon.
- Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dgn cara dibajak or dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S & Amoniak) terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah & membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
- Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah & membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dgn kapur Zeolit & Dolomit dgn dosis masing-masing 1 ton/ha.
- Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering & pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
- Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton & menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dgn dosis 5 botol/ha untuk tambak masih baik or masih baru & 10 botol TON untuk areal tambak sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dlm air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.
2.5. Pemasukan Air
Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air pertama setinggi 10-25 cm & biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dgn TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bsa dilakukan untuk membunuh ikan masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dgn Dolomit or Zeolit dgn dosis 600 kg/ha.
2.6. Penebaran Benur.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh ditandai dgn kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dgn hati-hati, karena benur masih lemah & mudah stress pada lingkungan baru. Tahap penebaran benur ; :
- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam & di dlm plastik.
- Adaptasi udara. Plastik dibuka & dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka & terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dr udara bebas dgn udara dlm air di plastik.
- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dgn cara memercikkan air tambak ke dlm plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air berbeda salinitasnya, sehingga benur bisa menyesuaikan dgn salinitas air tambak.
- Pengeluaran benur. Dilakukan dgn memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur tak keluar sendiri, bisa dimasukkan ke tambak dgn hati-hati/perlahan.
2.7. Pemeliharaan.
Pada awal Cara Budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dgn waring or hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut bisa diperluas sesuai dgn perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat bisa dibuka. Pada bulan pertama diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan or pergantian air dilakukan dgn hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dgn dosis 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan & menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dr luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut berasa dr kotoran & sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dgn dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian or penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, harus diperhatikan ; manajemen kualitas air & kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air jelek (ditandai dgn warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air & perlakuan TON 1-2 botol/ha. Bila konsentrasi bahan organik dlm tambak semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, ditandai dgn tak mau makan, kotor & diam di sudut-sudut tambak, bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme.
2.8. Panen.
Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) & karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dgn size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan bila udang terserang penyakit ganas dlm skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena bila tak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang dipanen dgn syarat mutu baik ; berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup & segar. Penangkapan udang pada saat panen bisa dilakukan dgn jala tebar or jala tarik & diambil dgn tangan. Saat panen baik yaitu malam or dini hari, agar udang tak terkena panas sinar matahari sehingga udang sudah mati tak cepat menjadi merah/rusak.
III. Pakan Udang.
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami terdiri dr plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga & detritus (sisa hewan & tumbuhan membusuk). Pakan lain ; pakan buatan berupa pelet. Pada Cara Budidaya semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dgn padat penebaran tinggi, pakan alami ada tak akan cukup mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat & akan timbul sifat kanibalisme udang.
Pelet udang dibedakan dgn penomoran berbeda sesuai dgn pertumbuhan udang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari campuran 01 dgn 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 campuran 02 dgn 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 campuran 03 dgn 04 or 04S
(bila memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
g. Umur 55 hingga panen pakan 04, bila pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor ; 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dgn jumlah pakan di ancho 10% dr pakan diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 ; 3 jam, size 166-66 ; 2,5 jam, size 66-40 ; 2,5 jam & kurang dr 40 ; 1,5 jam dr pemberian.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dlm pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dgn POC NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak & vitamin dgn dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari & setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.
IV. Penyakit.
Beberapa penyakit sering menyerang udang ; ;
1. Bintik Putih. Penyakit inilah menjadi penyebab sebagian besar kegagalan Cara Budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dlm beberapa jam saja seluruh populasi udang dlm satu kolam bisa mati. Gejalanya : bila udang masih hidup, berenang tak teratur di permukaan & bila menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus bisa berkembang biak & menyebar lewat inang, yaitu kepiting & udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya ; dgn diusahakan agar tak ada kepiting & udang-udang liar masuk ke kolam Cara Budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tak stress & daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dgn TON.
2. Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda nampak yaitu terbisa bintik-bintik hitam di cangkang & biasanya diikuti dgn infeksi bakteri, sehingga gejala lain akan tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dgn selalu menjaga kualitas air & kebersihan dasar tambak.
3. Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran & gas amoniak dlm tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dgn penurunan nafsu makan sehingga dlm waktu lama bisa menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air & dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.
4. Insang Merah. Ditandai dgn terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dgn penebaran kapur pada kolam Cara Budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.
5. Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dlm air tambak. Gejala nampak yaitu adanya kerusakan/luka berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya ; dgn penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dgn pemberian saponen or dgn pengapuran.
Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam Cara Budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.
Sumber :http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com
Cara Budidaya Lobster Air Tawar (LAT)
Download
Sumber : http://friscaprasetyo.multiply.com/
Konstruksi Kolam Cara Budidaya Ikan Air Tawar
Download
Cara Budidaya Ikan Mas
PENDAHULUAN
Ikan mas (Cyorinus carpio, L.) adalah spesies ikan air tawar sudah lama diCara Budidayakan & terdomestikasi dgn baik di dunia. Di Cina, para petani telah memCara Budidayakan sekitar 4000 tahun lalu sedangkan di Eropa beberapa ratus tahun lalu. Sejumlah varietas & subvarietas ikan mas telah banyak diCara Budidayakan Asia Tenggara sebagai ikan konsumsi & ikan hias.
Berdasarkan keanekaragaman genetik, ikan mas memiliki keistimewaan karena banyak strain/ras. Hal ini disebabkan karena: 1) penyebaran daerah asal mulai dr Cina sampai ke daratan Eropa sangat luas dgn keadaan lingkungan bervariasi & secara geografis terisolasi, 2) daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan, 3) akumulasi mutasi & 4) seleksi secara alami maupun oleh karya manusia (Hulata, 1995). Daya adaptasi tinggi juga menyebabkan ikan mas bisa hidup dlm ekosistem dataran rendah sampai dataran tinggi (sampai ketinggian 1800 m dpl.). Strain tersebut akan tampak dr keragaman bentuk sisik, bentuk tubuh & warna. Beberapa strain sudah di kenal di tanah air diantaranya ; Majalaya, Punten, Sinyonya, Domas, Merah/Cangkringan, Kumpai & sebagainya (Hardjamulia, 1995).
Usaha pemeliharaan ikan mas makin berkembang, dgn ditemukannnya teknologi pembesaran secara intensif di KJA (karamba jaring apung) & KAD (kolam air deras). Dgn demikian kebutuhan benih makin meningkat.
TEKNIK PRODUKSI IKAN MAS
A. Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang tak bocor, meratakan dasar kolam dgn kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dgn paralon, pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dgn air. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindr masuknya ikan-ikan liar sebagai predator or kompetitor bisa mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun kualitas benih dihasilkan.
B. Pembenihan
1. Pemeliharaan & Seleksi Induk
Induk dipelihara di kolam khusus secara terpisah antara jantan & betina. Pakan diberikan berupa pellet dgn kandungan protein 25%. Dosis pemberian pakan sebanyak 3% per bobot biomas per hari. Pakan tersebut diberikan 3 kali/hari.
Ikan betina diseleksi sudah bisa dipijahkan setelah berumur 1,5 - 2 tahun dgn bobot >2 kg. Sedangkan induk jantan berumur 8 bulan dgn bobot > 0,5 kg. Untuk membedakan jantan & betina bisa dilakukan dgn jalan mengurut perut kearah ekor. Bila keluar cairan putih dr lubang kelamin, maka ikan tersebut jantan.
Ciri-ciri ikan betina siap pijah adalah: (secara sederhana)
- Pergerakan ikan lamban
- Pada malam hari sering meloncat-loncat
- Perut membesar/buncit ke arah belakang & bila diraba terasa lunak
- Lubang anus agak membengkak/menonjol & berwarna kemerahan
Sedangkan untuk ikan jantan mengeluarkan sperma (cairan berwarna putih) dr lubang kelamin apabila di stripping.
2. Pemijahan
Dlm pemijahan, ikan dirangsang dgn cara membuat lingkungan perairan menyerupai keadaan lingkungan perairan umum dimana ikan ini memijah secara alami or dgn rangsangan hormon. Sehubungan dgn hal itu, maka langkah-langkah dlm pemijahan ikan mas ; :
- Mencuci dang mengeringkan wadah pemijahan (bak/kolam)
- Mengisi wadah pemijahan dgn air setinggi 75-100 cm
- Memasang hapa untuk mempermudah panen larva di bak or di kolam dgn ukuran 4 x 3 x 1 meter. Hapa dilengkapi dgn pemberat agar tak mengambang.
- Memasang kakaban di tempat pemihajan (dlm hapa). Kakaban bisa berupa ijuk dijepit bambu/papan dgn ukuran 1,5 x 0,4 m.
- Memasukkan induk jantan & betina siap pijah. Jumlah induk betina dipijahkan tergantung pada kebutuhan benih lepas hapa & luas kolam akan digunakan dlm pendederan 1. Bobot induk jantan sama dgn induk betina namun dgn jumlah lebih banyak
- Mengangkat induk memijah & memindahkannnya ke kolam pemeliharaan induk
3. Perawatan Larva
Kakaban diangkat 3 hari setelah telur menetas or setelah larva tak menempel di kakaban. Pakan larva berupa suspensi kuning telur dgn frekuensi 5 kali per hari (satu telur untuk 100.000 ekor larva). Waktu perawatan larva ini selama 5 hari sehingga larva sudah tahan untuk ditebar di kolam.
4. Pendederan
Kolam akan digunakan untuk pendederan seharusnya sudah dipersiapkan sebelumnya.
C. Pembesaran
1. Pembesaran di KJA
Sistem pembesaran intensif antara lain bisa dilakukan dlm keramba Jaring Apung biasa dipasang di perairan umum. Pemilihan lokasi penempatan jaring dlm suatu perairan akan sangat menunjang berhasilnya proses produksi. Beberapa karakteristik perairan tepat antara lain a) Air bergerak dgn arus terbesar, tetapi bukan arus kuat, b) Penempatan jaring bisa dipasang sejajar dgn arah angin, c) Ba& air cukup besar & luas sehingga bisa menjamin stabilitas kualitas air, d) Kedalaman air minimal bisa mencapai jarak antara dasar jaring dgn dasar perairan 1,0 meter, e) Kualitas air mendukung pertumbuhan seperti suhu perairan 270C sampai 300C, oksigen terlarut tak kurang dr 4,0 mg/l, & kecerahan tak kurang dr 80 cm.
Satu unit Keramba Jaring Apung minimal terdiri dr kantong jaring & kerangka jaring. Dimensi unit jaring berbentuk persegi empat dgn ukuran kantong jaring 7 x 7 x 3 M3 or 6 x 6 x 3 M3. Satu unit Keramba Jaring Apung terdiri empat set kantong & satu set terdiri dr dua lapis kantong Bagian ba& kantong jaring masuk kedlm air 2,0 sampai 2,5 meter. Kerangka jaring terbuat bisa dibuat dr besi or bambu & pelampung berupa steerofoam or drum. Bahan kantong jaring berasal dr benang Polietilena.
Frekuensi pemberian pakan minimal dua kali per hari. Sedangkan cara pemberian pakan agar efektif disarankan menggunakan Feeding Frame bisa dibuat dr waring dgn mesh size 2,0 mm berbentuk persegi empat seluas 1,0 smpai 2,0 m2. Alat ini di pasang di dlm ba& air kantong jaring pada kedalaman 30 sampai 50 cm dr permukaan air. Letak alat ini bisa ditengah kantong or di salah satu sudutnya
2. Pembesaran di KAD
Pemeliharaan ikan mas di kolam air deras harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain lokasi dekat dgn sumber air (sungai, irigasi, dll.) dgn topografi memungkinkan air kolam bisa dikeringkan dgn cara gravitasi, kualitas air digunakan berkualitas baik & tak tercemar (kandungan oksigen terlarut 6-8 ppm) & dgn debit air minimal 100 liter permenit.
Bentuk kolam air deras bermacam macam tergantung kondisi lahan, bsa segitiga, bulat maupun oval. Ukurannya bervariasi disesuaikan dgn kondisi lahan & kemampuan pembiayaan. Umumnya KAD berukuran 10-100 m 2 dgn kedalaman rata-rata 1,0 - 1,5 meter. Dinding kolam tak terkikis oleh aliran air & aktivitas ikan . Oleh karena itu harus berkontruksi tembok or lapis papan. Dasar kolam harus memungkinkan tak daerah mati aliran (tempat dimana kotoran mengendap). Oleh karena itu kemiringan kolam harus sesuai (sekitar 2 - 5 %).
Cara Budidaya Lele
Lele adalah jenis ikan digemari masyarakat, dgn rasa lezat, daging empuk, duri teratur & bisa disajikan dlm berbagai macam menu masakan.
II. Pembenihan Lele.
; Cara Budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dgn cara mengawinkan induk jantan & betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek bagus dgn tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.
III. Sistem Cara Budidaya.
Terbisa 3 sistem pembenihan dikenal, yaitu :
1. Sistem Massal. Dilakukan dgn menempatkan lele jantan & betina dlm satu kolam dgn perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dlm sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan. Dilakukan dgn menempatkan induk jantan & betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).
Dilakukan dgn merangsang lele untuk memijah or terjadi ovulasi dgn suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, terbisa di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise juga harus dr jenis lele.
IV. Tahap Proses Cara Budidaya.
A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak & kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dgn lahan tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dr luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, & penumbuhan plankton. Kolam tandon ini adalah sumber air untuk kolam lain.
Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan & bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur & sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan & betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dr ijuk, batu bata, bambu & lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan & betina.
Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan telah menetas & telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dlm saluran pencernaannya.
B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
- tulang kepala berbentuk pipih
- warna lebih gelap
- gerakannya lebih lincah
- perut ramping tak tampak lebih besar daripada punggung
- alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
- tulang kepala berbentuk cembung
- warna ba& lebih cerah
- gerakan lamban
- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.
C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam & mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dgn kapur Dolomit or Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah & mematikan bibit penyakit tak mati oleh pengeringan.
- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun & gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa Cara Budidaya sebelumnya dgn dosis 5 botol TON/ha or 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga bisa dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm & dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam bisa dilakukan ; :
- Pembersihan bak dr kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering & bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh & segera diberi perlakuan TON dgn dosis sama
D. Pemijahan.
Pemijahan ; proses pertemuan induk jantan & betina untuk mengeluarkan sel telur & sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (bila belum matang berwarna hijau). Sel telur telah dibuahi menempel pada sarang & dlm waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.
E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
- kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
- siapkan tempat penampungan dgn baskom or ember diisi dgn air di sarang.
- samakan suhu pada kedua kolam
- pindahkan benih dr sarang ke wadah penampungan dgn cawan or piring.
- pindahkan benih dr penampungan ke kolam pendederan dgn hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
F. Pendederan.
; pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm & 9 - 12 cm dgn harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok or penutup dr plastik untuk menghindr naiknya suhu air menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.
V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air & cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari.
- Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dgn POC NASA dgn dosis 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan & ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein & vitamin dlm jumlah optimal.
VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air bisa dinilai secara fisik :
- air harus bersih
- berwarna hijau cerah
- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).
Ukuran kualitas air secara kimia :
- bebas senyawa beracun seperti amoniak
- mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C).
Untuk menjaga kualitas air agar selalu dlm keadaan optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat & asam humat mampu menumbuhkan & menyuburkan pakan alami berupa plankton & jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun & menciptakan ekosistem kolam seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dgn cara dilarutkan & di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru or sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON ; 25 g/100m2.
VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele dipelihara tak akan sakit bila mempunyai ketahanan tubuh tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) jelek. Kondisi air jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik berupa protozoa, jamur, bakteri & lain-lain. Maka dlm menejemen kesehatan pembenihan lele, lebih penting dilakukan ; penjagaan kondisi air & pemberian nutrisi tinggi. Dlm kedua hal itulah, peranan TON & POC NASA sangat besar. Namun apaapabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan sesuai. Penyakit-penyakit disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri & jamur bisa diobati dgn formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) or garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati & dosis digunakan juga harus sesuai.
Sumber : http://teknis-Cara Budidaya.blogspot.com